Skip to content
May 4, 2012 / hachidarksky

It’s You (너라고) [ Cho Kyuhyun and Park Ririn Fanfiction ]

author : hachidarksky

genre : oneshoot, romance, fanfiction

language : Indonesian

cast : Cho Kyuhyun, Park Ririn (@hachidarksky), Senior Kim (whoever/lol)

 “Rin!” aku menengadah dan melihatnya, Cho Kyuhyun, teman masa kecilku sudah berada di depan mejaku dengan senyumannya.

“ne? ada apa? Semua yeoja melihat kearahku..” aku menunduk kembali dan melanjutkan membaca buku novelku.

“yah terserah mereka, pokoknya nanti kita pulang bersama, ne?”

“hm? Baiklah” banyak sekali suara bisikan yang masuk ke telingaku. Yeoja-yeoja tukang gossip.

“oke? Yeah! Gomawo~” dan dia pergi kembali keluar kelasku. Dasar, dia benar-benar masih seperti anak kecil.

Itu tadi Cho Kyuhyun, temanku sejak kecil. Dan namaku Park Ririn, temannya sejak kecil tentu saja. Kami selalu bermain bersama sejak dulu. Kelas kami juga selalu sama, hingga akhirnya kami terpisah di kelas 2 SMA ini. Dia teman yang baik dan sangat suka menjahiliku, yah, walaupun banyak membantu juga. Sejak masuk SMA, dia mulai terkenal dan populer di kalangan yeoja. Aku sendiri heran apa bagusnya dia. Sudah tidak jelas, babo, dan suka menjahili orang. Dia benar-benar evil.

“kau, kau pacarnya?” aku menengadah kembali. Dan bisa kulihat yeoja anak kelasku, yang katanya paling cantik se-kelas 2 dan yang daritadi mengelu-elukan Kyu dari sejak dia masuk kelasku sudah menyedekapkan tangannya dan melihatku dengan tatapan sinis.

“bukan, aku temannya”

“kalau begitu jangan dekati dia”

“wae? Dia teman masa kecilku. Kau siapa berhak melarangku?” aku menutup buku novelku dan melepas kacamata minus 5 ku.

“aku? Aku yeoja paling cantik, kau tidak tahu itu? dasar kutubuku”

“maaf tidak, aku tidak perlu mengenal orang yang tidak dikenal” aku akhirnya keluar dari ruangan kelasku. Meninggalkan yeoja tidak tahu diri itu berteriak-teriak.

“kau itu bukan siapa-siapa! Kau hanya gadis kutubuku biasa! Tidak pantas untuk Kyuhyun yang sangat populer! Jangan dekati dia! Dasar kutubuku!!”

Huh. Mau dia populer atau tidak, dia selalu bersamaku. Lagipula dia temanku. Jangan larang aku untuk berdekatan dengannya. Kalian tidak tahu apa-apa tentang dirinya.

-ccc-

“Rin-ah!” dia menepuk pundakku dengan keras. Suara pukulannya mungkin bisa terdengar sampai lantai dua!!

“KYU!! SAKIT!!” aku memukul-mukul lengannya berulang kali. Berusaha membalasnya, tapi sepertinya tidak mempan sama sekali.

“ne, yeoja kecil, pukulanmu sama sekali tidak menyakitkan” dia mengusap-usap kepalaku sekarang. baiklah! Kau memang tinggi, iya aku tahu aku hanya selenganmu! Aish! Dia benar-benar menyebalkan! Bahkan suara yeoja-yeoja yang tidak terima akan apa yang kami lakukan makin membuatnya semakin menyebalkan.

“aku tidak mau pulang denganmu”

“ah mwoooyaaaa” dia menarik tasku sekarang. biarin.

“kau menyebal—“

BRUK

“ah mwo! Siapa it—“ aku terdiam. Orang ini, Senior Kim..

“ah, mian..”

“ah tidak.. aku yang harusnya minta maaf” aku langsung membungkuk 90 derajat padanya. 90 derajat!

“ahah, tidak usah sampai seperti itu.. kau, Rin ya?”

“ah, ne..” aku menengadah dan mata kami bertemu. Senior Kim..

“lain kali, jangan pacaran terus.. liat ke depan, ne?” dia menepuk kepalaku, dan berjalan meninggalkanku berdua dengan Kyuhyun.

“ne.. hah? Dia bukan pacarku!!” tapi sepertinya Senior Kim tidak mendengarnya. Aish. Wae!

“itu, siapa ya? Sepertinya pernah tau”

“Senior Kim!” aku menarik tangan Kyuhyun untuk keluar dari gedung sekolah. “ayo! Aku akan mentraktirmu karena sedang bahagia!”

“traktiraan!” malah dia akhirnya yang ganti menarikku.

Kami tiba di café kecil dekat apartemen yang keluargaku dan Kyuhyun tinggali di Sinsa. Sebenarnya ini sudah mendekati Apgujeong, sih. Café yang sering kami berdua jadikan tempat menghabiskan waktu luang bersama sejak SMP ini benar-benar sangat nyaman, hanya orang yang suka hunting cafe saja yang tahu café ini.

“siapa itu Senior Kim?” Kyuhyun menatapku penuh dengan tanda tanya.

“aku kan sudah pernah ceritaaa.. ah, kau babo” aku menyeruput hot chocolate ku lagi.

“Senior Kim itu siapaa? Aku tidak baboo”

“aish”

“ceritakan lagi, aku tidak ingat cerita-cerita yang tidak penting”

“kalau begitu aku tidak usah cerita lagi”

“aaaaahh.. Rin-ah.. ceritakan siapa diaa”

“ne ne.. dasar..”

“baiklah, aku mendengarkan” dia memajukan kursinya dan menatapku.

“masa’ kau gak tau sih.. Senior Kim..”

“tidak, aku tidak tahu. Aku memang populer, tapi aku tidak tahu siapa itu Senior Kim”

“ish! Aku ledakin kepala besarmu!”

“ayo lanjutkan”

“ne.. Senior Kim, dia seniorku di klub perpustakaan..”

“ah, dia sama sepertimu?”

“mwo? Ne terserah kau. Dan dia juga masuk dalam klub sepakbola”

“Sepakbola? Aku tidak tahu”

“ne.. ne, dasar kau keepernya tim sepakbola”

“kenapa? Apa yang keren dari dia? Masih kerenan juga aku”

“kau ini terlalu banyak bicara.. dia itu keren ya, dia sangat suka novel detektif dan misteri, dan dia seorang penyerang ya di tim sepakbola sekolah”

“tapi kau tidak suka novel seperti itu, kau selalu membaca fiksi-fantasi”

“sejak kapan kau memperhatikan jenis novelku, wow, applause for Cho Kyuhyun” aku bertepuk tangan untuknya.

“dan Senior Kim maksudmu Kapten kami itu?”

“dia Kapten?”

“ne, pantas saja aku pernah melihatnya.. tapi dia it—“

“kau mengenalnya! Ternyata kau mengenalnya! Kyuuuu.. kenalkan aku padanya..”

“hah? Mwo? Kau kan sudah kenal”

“aigo, aku menyukainya, Kyu. Sejak masuk SMA!”

“ah, masih sejak masuk SMA.. aku saja su—“

“ayolaaah”

“kau ini suka sekali memotong pembicaraan orang”

“ne? ya? Please~ aku akan menuruti kemauanmu deh”

“benar?”

“ne!”

“baiklah..”

“tapi tiap aku bisa berbicara dengannya baru aku kabulkan satu!”

“kau banyak minta.. baiklah deal”

“yes! Thankyu~” aku memeluknya erat, super erat, sampai dia terbatuk sendiri.

“sudah sore, ehem, ayo kita pulang”

“ne~” akhirnya kami pulang. Ya! Ini sangat menyenangkan!

-ccc-

Akhirnya sejak hari itu, Kyuhyun temanku yang sangat keren itu selalu membantuku mendekati Senior Kim yang ternyata adalah kapten dari tim sepakbola sekolah yang juga seniorku di klub perpustakaan. Ini benar-benar menyenangkan. Kami jadi sangat dekat. Bahkan makin lama, aku sudah tidak memerlukan Kyuhyun untuk memulai pembicaraan dengannya. Kyuhyun memang yang paling keren!

Dan seperti janjiku, aku mengabulkan permintaan-permintaannya yang ternyata aneh-aneh. Permintaannya sungguh aneh bin ajaib. Ada yang minta ditemani ke taman bermain, minta dibelikan video game, ditraktir makan, sampai menginap dirumahnya. Yah, untuk yang menginap itu, tentu saja aku tidur dengan Ahra unni, bukan Kyuhyun. Jangan salah pikir dulu.

Kedekatanku dengan Senior Kim sudah terlalu dekat. Bahkan tidak jarang yang mengira kami berpacaran. Banyak yeoja yang tidak terima memang, tapi lebih banyak lagi yeoja yang senang karena aku tidak dekat-dekat dengan Kyuhyun lagi. Tapi tenang saja, pertemananku dengan Kyuhyun tidak berkurang sedikitpun. Malah sebenarnya kami semakin dekat, karena dia sering memberi informasi padaku soal Senior Kim. Hanya saja, yah, kami jarang bertemu di sekolah saja. Di wilayah rumah sih, tetap.

“ya Kyu! Aku sudah mengumpulkan tekadku!”

“apa? Kau akan menembaknya?” dia menatapku malas.

“ne! kau pintar sekali!” aku menepuknya dengan buku novel tebalku.

“ne, hwaiting”

“ah, ayolah, ikut akuu..”

“untuk apa? Kau kan yang mau nembak, tembaklah sendiri”

“Kyu, jangan jahat-jahat gitu napa sih sama sahabat sendiri..” aku duduk di depannya, dan rasannya ingin menangis diperlakukan acuh olehnya seperti ini.

“aigo, jangan menangis.. baiklah, aku temani” dia mengusap kepalaku dan menarikku keluar kelas.

“mian, gomawo” aku tersenyum kembali. Dia memang temanku yang nomor satu.

Akhirnya aku bertemu dengan Senior Kim di perpustakaan. Dia memang keren, tapi entah kenapa, wajahnya hari ini sedang tidak mood. Sama seperti Kyuhyun. Langsung saja kutembak? Atau bagaimana? Aku jadi bingung. Aku tidak pernah menyatakan perasaanku pada siapapun. Bagaimana ini. Aku menoleh kearah Kyuhyun yang bersembunyi di balik rak-rak buku perpustakaan. Dia mengangguk pelan padaku dan memberi kepalan semangat untukku. Aku mengangguk dan menelan ludah. Apa benar yeoja yang harus menyatakan perasaannya? Tapi kalau tidak begini, aku akan stuck terus dalam pertemanan dengannya. Ne! aku harus melakukannya!

“ng.. Senior..”

“ne, ada apa Rin?”

“anu.. aku..”

“kau?”

“aku.. aku menyuka—“

“kau, menembakku?”

“ah? Ng.. ne.. senior..”

“ahahah.. mian, tapi aku tidak bisa.. kau hanya juniorku, dan kau terlalu banyak membaca buku.. dan kacamata itu tebal.. aku tidak suka dengan yeoja seperti itu..”

“tapi.. kau masuk klub perpustakaan..”

“yah, biar aku terlihat keren dan ber-ilmu, kan?”

“ah.. ng.. ne..” aku.. tertusuk.. tombak.. panjang.

“ne, sudah ya? Aku harus kembali ke kelas, teman-temanku menunggu” dan dia pergi. Aku terduduk dan mulai mengeluarkan airmataku.

“Rin!” Kyuhyun keluar dari tempatnya bersembunyi, dan mengelus lembut pipiku.

“Kyu..” aku menatapnya.. semuanya penuh dengan air..

“sudah, jangan tangisi namja seperti dia.. aku sudah bilang padamu kan.. dia it—”

“aku.. aku” aku memeluknya erat. Dan memotong ucapannya lagi..

“tidak apa, menangislah..” dia mengusap rambutku pelan, dan akhirnya aku menangis. Aku tidak pernah menangis seperti ini lagi, sejak terakhir Kyu mendapat cedera saat bermain sepakbola di SD dulu.

“mian Kyu.. seragammu..” aku mengelap semua airmataku dan ingusku padanya.

“ah mwo! Bajuku!” dia kaget, dan tertawa. Aku jadi ikut tertawa dengannya. Hahah.. sahabatku..

-ccc-

“Rin-ah!” aku menengadah, dan dia, dengan senyumnya, menatapku ceria. Sudah 3 hari berlalu sejak hari itu.. dia selalu berusaha membuatku ceria kembali.

“ne, Kyuhyun-ah?”

“kau, tidak makan lagi?” raut wajahnya berubah seketika. Mian Kyu-yah.. aku memang tidak makan lagi..

“ayo, ikut aku!” dia tiba-tiba menarikku keluar kelas. Entah dia mau membawaku kemana.. ah, rasanya lemas sekali ne, tidak makan pagi.. dan siang.. dan juga malam..

“kita kemana?”

“aku mendapat kunci atap.. hehe” dia menunjukkan kunci yang sangat banyak padaku. Aku belum pernah ke atap sekolah.

“atap? Tapi—“ dan akhirnya dia membuka pintu itu. Angin berhembus kencang. Cuacanya sedang pas-pasan.. cerah sih iya, tapi sedikit mendung..

“ah! Mendung..” dia berkata seperti itu tapi masih tetap menarikku. “yasudah, pokoknya masih cerah! Ayo, makan” dia tiba-tiba mengeluarkan banyak sekali roti. Sepertinya dia beli dari kantin.

“kau? Sejak kapan.. jangan-jangan karena itu kantongmu penuh?”

“ne!” dia membuka satu bungkus roti dan memberinya padaku. “makan yang ini! Ini enak” dan aku mengambilnya, lalu memakannya. Yah, dia benar, ini enak.

“mianhae Kyu-yah.. Gomawoyo..” aku menangis lagi.

“ya! Jangan menangis, nanti langitnya ikut menangis!” dia tertawa lagi, dan benar saja, tiba-tiba rintik hujan mulai turun. “MWO!” dia langsung mengambil semua rotinya itu dan memasukkannya ke kantong lagi.

“ahahahah.. kau lucu sekali” aku akhirnya tertawa. Tapi hujan ini rasanya sangat nyaman.. aku tidak bisa bergerak. Aku..

“RIN!” aku rasa aku pingsan..

-ccc-

  • CHO KYUHYUN

“MANA SENIOR KIM??!” aku tanpa pikir panjang, langsung menggebrak pintu klub sepakbola begitu sampai. Ini benar-benar tidak bisa kuterima.

“ada apa Kyu?” itu dia.

“aku, ingin berbicara denganmu”

“sebentar ne semuanya” akhirnya dia mengikutiku menuju atap sekolah. Aku masih membawa kuncinya, walau langit masih mengeluarkan airmatanya. Aku akan memberinya pelajaran karena membuat yeoja yang paling kucintai itu mengalami hal ini.

“aku ingin mendengar, alasan apa yang membuatmu menolaknya”

“menolak siapa ya?” aku mulai mengepalkan tanganku. “aku banyak sekali ditembak minggu ini”

“Ririn, Park Ririn”

“ah.. anak kutubuku itu.. ne.. ya.. kau sebagai junior yang sudah populer sejak kelas satu SMA, masa’ mau juga dengan yeoja seperti itu? Untuk apa kau membelanya?”

“karena dia temanku, sejak kecil”

“ah mwo? Tidak mungkin.. hahahah.. kau lebih pantas berteman dengan kelompok kami, daripada dengannya” tawanya..

“aku lebih baik menjadi kutubuku dan bersamanya daripada menjadi populer dan bersama kalian”

“ahahahahah.. baru kali ini aku mendengar hal itu!” Rin-ah, apa yang kau lihat dari namja seperti ini.

“yah, selamat kalau begitu, aku orang pertama” rintik hujan hampir mereda.

“sebenarnya apa yang kau inginkan? Aku kembali sekarang”

“kau belum menjawabku, tentang alasan mengapa kau menolaknya”

“ya! Sudah kukatakan, aku tidak suka pada yeoja seperti dia. Dia terlalu biasa, dan kutubuku, dan kacamatanya itu sangat tebal. Dia minus 6 katanya? Waow”

“itu saja?”

“yah, dia terlalu kutubuku, dan tidak populer tentu saja”

BUAK

“hanya karena itu, kau menolaknya? Kau tidak tahu.. apa saja yang telah dia lakukan hanya untuk dilihat.. dan berbicara denganmu”

“kau.. berani sekali dengan seni—“

“dia itu manis! Dia memiliki senyum termanis di dunia ini!! Dan dia anak yang baik! Polos! Dan.. dan.. dan baru kali ini aku mengetahuinya menyukai namja! Dan namja yang ia sukai malah berbuat seperti itu padanya!”

“kenapa kau jadi semarah ini ha! Kalau mau, kau saja yang menjadi pacarnya!”

“AKU TIDAK BISA! KARENA DIA MENYUKAIMU!” aku berteriak sekencang mungkin, sampai rasanya bebanku terangkat semua. “karena dia menyukaimu.. dan aku hanya bisa membantunya..”

“melihatnya tersenyum senang saja sudah cukup untukku.. sudahlah, untuk apa aku mengatakannya padamu.. kau sudah beruntung bisa mendapatkan cintanya.. tapi kau dengan gampangnya membuangnya.. kau akan menyesal.. pasti” aku melihatnya terdiam, masih dengan pipi yang merah. Setidaknya, pukulan terbaikku membuatnya merah.

“dimana dia sekarang?” dia tiba-tiba menahanku.

“untuk apa kau tahu” lalu aku pergi meninggalkannya, menuju ruang kesehatan sekolah, menjenguknya.. Rin.

-ccc-

“Kyu? Kenapa kau masih basah?” ternyata dia sudah bangun dari pingsannya.

“ha? Tadi aku belum menutup pintu atap sekolah.. malah terkena angin hujannya.. hehe” aku duduk di kursi disebelah ranjangnya.

“mianhae, gomawo Kyu.. kau sahabatku yang paling mengerti diriku” tentu saja Rin.. aku akan selalu bersamamu.

“ne, tidak apa.. itu gunanya sahabat, kan?” aku menggenggam tangannya erat. “makanya, kau harus makan.. tadi hujannya keren lo.. mungkin sebentar lagi ada pelangi”

“ah mwoo.. aku ingin melihat pelangi”

“kalau begitu, ayo makan rotinya” aku membuka bungkus roti isi coklat dan memberikannya padanya.

“gomawo” dan dia memakannya dengan lahap. Lucu sekali.

“nanti kita lihat pelangi bersama” aku menepuk kepalanya pelan. “kalau ada, hahahahah”

“harus adaa.. kau sudah berjanji padaku, jadi harus ada” dia menjulurkan lidahnya, dan dia benar-benar lucu sekali dengan senyumannya itu.

“ah, ada coklat di pipimu…” aku mengusap pipinya pelan, merasakannya sebentar.. lembut.

“permisi”

“ng? se.. senior..” Rin tertegun, dan menundukkan kepalanya.

“permisi kalian berdua.. maaf.. menganggu ya?” namja tidak tahu diri ini datang. Apa yang dia inginkan.

“ne, tidak apa” aku masih menatapnya tajam, dan Rin tiba-tiba mencubit tanganku pelan.

“Rin, maafkan aku waktu itu, ne?”

“ah.. ng.. tidak apa kok senior..” dan Rin masih saja merona malu karena dirinya. Rin! dia.. dia sudah menolakmu, dengan sangat kasar!

“karena aku, kau jadi seperti ini.. aku mau meminta maaf.. dan tadi.. temanmu ini, sempat memarahiku, dan menjelaskan.. alasan mengapa harusnya aku menerimamu” Rin melirikku sebentar dengan tatapan penuh tanda tanya. Aish. Namja ini.

“be.. benarkah? Maafkan dia senior..”

“tidak, tidak apa.. berkat dia, aku jadi berpikir kembali, bahwa sebenarnya perkataannya itu benar” dia terdiam lalu tersenyum. “dan sekarang, kalau aku mengatakannya, apa kau masih tetap menerimanya?”

“me.. menerima apa?”

“aku, ng.. aku menerimamu menjadi pacarku” dia menyunggingkan senyumannya.

“ah.. m—mwo?”

“ne, bagaimana?”

“apa benar?”

“ne, kalau begitu, mulai saat ini, kita resmi pacaran, ne, yeojachingu?”

“ah.. n—ne.. senior..”

“Rin!” aku menatap mereka berdua bergantian.

“sudah ya, nanti aku akan mengantarmu pulang, bolehkan, Kyuhyun?” tatapannya.. benar-benar.. ada maksud tersembunyi.

“boleh kok, ne?” kali ini Rin yang ganti bertanya.

“terserah kalian, aku hanya seorang teman, di sini” aku membuang muka dari tatapan Rin.

“kalau begitu, cepat sembuh ne, yeojachingu” dan akhirnya dia keluar.

“Kyuuuuuu” tiba-tiba Rin memelukku erat. “aku.. berterima kasih”

“untuk apa?”

“kau masih membantuku”

“hah? Ah.. ne..” aku menghela nafas panjang dalam pelukannya. Jangan lepaskan dulu.. aku masih ingin memelukmu.

“tapi, tetap bantu aku ya? Kau kan sudah berpengalaman dalam berpacaran”

“ah? Mwo? Aku?” aku berpacaran? Kau bercanda Rin. Kau benar-benar percaya pada candaanku tentang aku yang sudah berkali-kali berpacaran itu? Aish. mana mungkin Rin! aku hanya ingin kau yang menjadi yeojachinguku!

“ne, bantu aku ya?”

“ne, baiklah..” aku mengusap rambutnya yang hitam dan bergelombang dengan sangat pelan.

“kyaaa! Kau memang namja terbaik yang pernah aku temui!” dia langsung mencium keningku dan bertepuk tangan riang sendiri. Sial. Apa yang dia lakukan.. wajahku pasti..

“ah, sebaiknya aku kembali.. aku ada pelajaran matematika, dah Rin” aku keluar dengan menutp sebagian wajahku. Jangan sampai dia tahu wajahku yang memerah ini.

“dah Kyu!”

“ne, Chukkae”

“ya, kau berhasil?”

“ne, tentu saja”

“aish. Aku kalah taruhan”

“hahahah.. kau tidak akan bisa menang dariku” aku mendengar sebuah percakapan di lorong kelas tiga saat hendak kembali menuju kelasku.. dan, semoga yang aku lihat.. bukan dirinya.

-ccc-

  • PARK RIRIN

“ne Kyu, apa ini pas untukku?”

“mwo? Ne, tentu saja”

Hari ini tepat seminggu aku jadian dengan Senior Kim. Aku senang sekali. Rasanya minggu kemarin itu hanya mimpi belaka.. saat akhirnya Senior menerimaku.. ah.. menyenangkan. Sejak hari itu, aku selalu pulang dengannya. Kyuhyun seperti biasa juga selalu kuajak pulang bersama, tapi entah kenapa, dia jadi lebih banyak sibuk dengan kegiatan klubnya, dan matematika. Katanya sih, dia dipilih untuk ikut olimpiade matematika. Tapi yah, setahuku dia malas ikut hal seperti itu. Sudah seminggu dia terus menghindar dariku dan Senior Kim. Rasanya sedikit sepi tanpanya.

“kalau bajunya warna ungu, kontak lensnya warna apa ya?”

“kau dengan kacamatamu saja sudah bagus kok”

“ah, tapi dia ingin aku tidak memakai kacamata..”

“ne, terserah kau saja” dia kembali bermain dengan PSPnya.

Namun sekarang Kyuhyun sedang berada di kamarku. Aku meminta bantuannya untuk mencari baju yang pas untukku. Sudah lama aku tidak memilih baju. Aku juga baru sadar, ternyata umma membelikanku banyak sekali one piece dress, dan hal ini sangat membantuku sekarang. aku diberitahu oleh Kyuhyun, bahwa klub sepakbola mengadakan pesta di salah satu café di Apgujeong karena kemenangan mereka melawan sekolah lain, dan aku berencana ikut. Aku ingin ikut ke acara itu, tapi seorang keeper dari klub sepakbola itu—yaitu Kyuhyun— sendiri tidak mau datang. Aku bingung dengan jalan pikiran Kyu akhir-akhir ini. Sedikit susah membaca apa yang diinginkannya akhir-akhir ini. Dia membingungkan.

“ayo, kita pergi”

“apa bajumu, tidak terlalu..”

“apa? Baguskan? Kau yang bilang iya tadi”

“aku bilang cocok, bukan berarti harus dipakai” dia melipat tangannya melihat baju one piece dressku. Ada apa? Bajunya tidak terlalu pendek, dan warnanya ungu! Kan lucu.

“ah, sudahlah, aku malas memilih lagi”

“kacamatamu tidak dibawa?”

“aku sudah pakai kontak lens” dia mengambil kacamataku, dan menaruhnya di saku kemejanya.

“kubawakan, kalau kau ingin memakainya”

“yah, sudah, ayo berangkat”

Akhirnya kami berangkat menuju café yang dimaksud oleh Kyu, tapi disana tidak ada siapa-siapa. Hanya namja biasa, tapi ada beberapa yang kukenal memang, café ini terkenal di kalangan anak sekolah kami. Tapi namjachingu yang kucari tidak ada.

“dimana dia?” Kyuhyun tiba-tiba bertanya pada seseorang, sepertinya teman klub sepakbolanya.

“oh, Kyu! Kau membawa yeojachingumu? Dia cantik” ha? Aku bukan yeojachingunya.. dia sudah punya sendiri.. mungkin..

“dimana Senior Kim?” Kyuhyun memakaikanku jaketnya dan mulai bertanya lagi.

“di café seberang, biasa, dia bersama yeojachingunya, yeojachingunya ‘kan, tidak suka dengan tempat ini” hah? Yeojachingu apa? Aku.. aku di sini.

“aish. Ternyata benar..” aku bingung. Apa yang terjadi? Ada apa Kyu? Katakan. “kita pulang saja ne, Rin?”

“ada apa? Katakan Kyu” dia menarikku keluar, menuju tempat parkir dan disitulah, Aku melihatnya. Dia.. yeoja.. kisseu..

“aduh! Rin, kau jangan tiba-tiba duduk ditengah jalan begi—“ aku menangis. “Rin!” menangis kembali.

“wae..” sepertinya tangisanku ini benar-benar tidak berguna. Benar-benar.. useless.. sebenarnya apa yang kutangiskan.. dia hanya mempermainkanku.. Kyu benar.. dia..

“namja itu!” Kyu tiba-tiba melepas genggamannya. Jangan Kyu!

“Kyu! Tidak! Tidak! Jangan berkelahi! Aku mohon!” aku menariknya kembali dalam genggamanku.

“tapi dia! Kau! Kau menangis lagi! Aku sudah berusaha bilang padamu! Dia itu namja yang tidak tahu diri! Kau selalu memotong pembicaraanku! Sekarang kau menangis! Dan.. dan aku tidak akan pernah membiarkanmu menangis, kau tahu itu!”

“tapi.. aku tidak apa.. sungguh.. aku.. aku sudah tidak menangis..” tapi airmata ini masih terus mengalir. Perbuatanku dan perkataanku sungguh tidak bisa berjalan bersamaan kali ini.

“mian Rin, tapi kali ini, aku benar-benar akan menghajarnya” dan dia melepaskan genggamanku, lalu berlari meninggalkanku.

“KYUHYUN!! KUMOHON! AKU TIDAK APA!” sungguh. Aku benar-benar tidak merasakan apa-apa sekarang. Rasanya yang aku lihat itu, benar-benar sebuah angin lalu, sepertinya aku malah lega dengan apa yang kulihat.. entah kenapa, aku malah senang aku bisa putus dengan Senior Kim.. Aku akhirnya berusaha mengerjarnya yang sudah berada di seberang jalan. Dia memang namja yang paling baik hati.. dan cepat.. dan sangat, bercahaya..? cahaya ini.. entah kenapa.. sungguh menyilaukan..

“RIN!!”

-ccc-

Aku tidak tahu apa salahku. Bukan. Aku tidak tahu apa salahnya. Apa yang terjadi. Kenapa harus dirinya. Kenapa. Ini salahku. Bukan dirinya. Kali ini aku menangis kembali. Tangisan yang berbeda. Tangisan.. yang tidak pernah.. kurasakan. Rasanya dada ini sakit sekali. Aku tidak pernah menangis sekeras ini. Dadaku terasa seperti tercabik-cabik melihat dirinya dihadapanku saat ini. Dia. Dia menolongku, tanpa memikirkan dirinya sendiri. Wae? Kenapa? Katakan padaku..

“Kyu.. buka matamu.. bicaralah padaku..” isak tangisku menggema di ruang kamar VIP rumah sakit yang besar ini.

Sudah dua hari sejak kecelakaan mobil yang seharusnya menimpaku itu terjadi.. sejak hari itu, dimana aku akhirnya mengetahui sifat Senior Kim yang asli.. saat Kyu.. berusaha membelaku. Padahal aku tahu, dia tidak pernah mengikuti kegiatan apapun yang berurusan dengan berkelahi. Tapi dia masih berusaha untuk menghajarnya demi diriku. Hingga dengan babonya.. aku malah membuatnya seperti ini sekarang. Ini salahku.. semuanya salahku dari awal. Aku memang sudah tak memikirkan Senior itu lagi.. tapi.. mengapa.. rasa sakit ini.. aku rasa.. aku.. kumohon, buka matamu Kyu..

“apa itu.. Rin..?”

“KYU!” aku mengenggam tangannya erat, dan membuat tangannya basah karena tanganku yang habis menghapus airmataku sendiri.

“kau bukan Rin..”

“i.. ini aku..” apa dia melupakanku.. Kyu..

“Rin yang kukenal.. selalu apa adanya.. dan memakai kacamatanya.. dan membawa buku novel fiksi-fantasi yang tebal..” dia tersenyum kecil.

“i—ini aku kok” aku tertawa kecil karena ucapannya, dan memakai kembali kacamataku. “ne?”

“bukan.. kau bukan Rin.. novelnya tidak ada..”

“apa aku pulang dulu dan mengambilnya?” aku berdiri dari kursiku.

“tidak, jangan pergi.. baiklah, kau memang Rin..” dia mengenggam tanganku erat.

“hehe.. dasar..”

“kau tidak terluka, kan?”

“ne, aku tidak terluka.. Kyu, boleh aku berbicara sekarang?”

“hm? Bicara saja?”

“maaf sebelumnya.. tapi kali ini aku akan berteriak..”

“ah mwo—“

“APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN CHO KYUHYUN!! KAU GILA!! JANGAN PERNAH MELAKUKAN HAL ITU LAGI!! JANGAN PERNAH MEMBUATKU— menangis.. seperti ini..” aku menangis kembali, dadaku sakit kembali. Rasa tidak ingin kehilangan dan bahagia dia kembali tersenyum seperti itu bercampur aduk menjadi satu. Aku tidak bisa menahannya lagi. Dia namja terbabo yang pernah aku temui.

“mi—mian.. jangan menangis..” dia berusaha meraih pipiku, menghapus airmataku.

“KAU BABO!!” aku memeluknya dan menangis kembali.

“mianhae..” dia mengelus rambutku pelan seperti biasanya. Lembut.. dan aku menyukainya.. aku sadar, aku menyukai belaiannya..

“Kyu.. aku rasa.. aku men—”

“sst.. tidak, tidak mau”

“tapi, aku belum selesai..”

“aku tidak mau, aku yang ingin mengatakannya dari dulu, dan sekarang kau ingin menghancurkan impianku? Tidak bisa..” dia menutup mulutku dengan tangannya yang masih terpasang selang infus.

“im—impian.. mu?” apa maksud perkataannya?

“ne, aku akan mengatakannya.. Park Ririn, aku, mencintaimu”

“men—men-what?” aku tertegun, shock, terkejut, kaget, semuanya.

“mencintaimu.. sejak dulu”

“se—sejak kapan??”

“sejak kapan? Aku mengenalmu sejak kapan ya?”

“tidak mungkin! Kita masih kecil! Aku baru pindah ke Nowon dan bertemu denganmu saat TK!” bisa dipastikan muka kagetku sekarang sangat aneh, karena wajahku juga sudah seperti kepiting rebus.

“memang kenapa?” dia tersenyum jahil padaku.

“ta—tapi..”

“kau, tidak menerimaku?”

“a—aku.. aku..” aku bingung aku harus menjawab apa.

“tidak apa, aku sudah cukup senang melihat senyumanmu.. kita berteman saja kalau begitu?”

“TIDAK!” aku menggebrak ranjangnya, dan berteriak sangat keras, hingga rasanya aku ingin menutup telingaku sendiri. “tidak.. aku.. aku juga.. menyukaimu..”

“menyukaiku? Aku tidak terima kata suka, aku hanya menerima kata cinta”

“kau ini, evil seperti biasanya!”

“ne, jadi?” dia menatapku dengan tatapan evilnya lagi.

“aku.. aku men.. men.. mencintaimu..” ya ampun! rasanya ruangan ini jadi panas sekali.

“hehe, kau akan menjadi istriku” aku tertegun, dan entah kenapa malah mengangguk begitu mendengarnya. “yahha! Kau akan menjadi istriku!” dia bertepuk tangan senang. Dan aku hanya bisa tertawa melihatnya.

“kau kan sudah sehat, aku pulang ya?”

“ah mwo! Andwe!”

“aku bercanda” aku mencium pipinya lembut, dan tertawa.

“kalau sudah keluar, aku akan mencium bibirmu, langsung”

“terserah, kalau kau bisa~ dan kau masih hutang melihat pelangi denganku!” aku menjulurkan lidahku.

“aku akan menunjukkannya padamu, dan saat itu, aku akan mencuri first kiss mu”

Aku dan dia akhirnya tertawa bersama. Aku tidak tahu.. tidak, aku sekarang tahu. Namja yang paling aku sayangi memang selama ini ada disebelahku. Namja yang selalu mendukungku, apapun yang terjadi padaku. Namja, yang melindungiku dari kehidupan dunia yang kelam dan kejam. Namja yang tertawa dan menangis bersamaku. Namja, yang.. mencintaiku apa adanya. Dia, dialah, sahabatku.. pasangan hidupku selama ini. Cho Kyuhyun.

— E N D —

Advertisements

6 Comments

Leave a Comment
  1. lovelyminbi / May 4 2012 9:41 pm

    ahahaha.. lucu cekali.. kyupabo *ups
    ada yang typo tuh beberapa..
    terus kok min 6 yak? atau emang sengaja dia bilang 6?

    • hachidarksky / May 4 2012 9:49 pm

      ne, kyuppabo.. XD
      woke~
      ntar saya crosscheck lagi /jeilah/
      ne, sengaja.. kan tebel tuh sampe 6
      biar makjleb~ ;D

      • lovelyminbi / May 4 2012 9:54 pm

        payah tuh.. senior kim nya.. hahaha

      • hachidarksky / May 4 2012 11:08 pm

        iya, aku jadi pengen bunuh.. *bunuh senior kim*

  2. ✗mut✗ (@mtragryn) / May 13 2012 10:04 am

    daebak!! wkwkwkw bagus-baguuuus. bikin lagi ya yg happy ending biar ga ada airmata diantara kita (?) ^^

    • hachidarksky / May 13 2012 11:23 am

      thankyu 😀
      kkkk oke deh XD
      hbis mengeksplorasi genre sad end dn angst sy berlaih ke happy end lagi XDd

      thx for the comment :3 :3 :3

Leave some Advice :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: