Skip to content
May 16, 2012 / hachidarksky

Just Before Shock [ Lee Sungmin Fanfiction ]

author : hachidarksky

genre : oneshoot, romance, fanfiction, sad, tragic (?)

language : Indonesian

main cast : Lee Sungmin, Han Sungbi (@imLSungbi)

“jagiya, aku berangkat” aku mengecup keningnya dan membetulkan selimutnya agar dia tetap hangat.

“ne, hati-hati di jalan” dia melambaikan tangannya dengan senyum terkembang di wajahnya saat aku akhirnya menutup pintu.

“saranghae” aku masuk dan mengintipnya kembali.

“ahahah.. ne.. saranghae” dia tertawa dan memberiku ciuman jarak jauhnya. Hehehe.. dia lucu sekali..

Setelah 10 menit berulang kali aku kembali ke kamarnya, akhirnya dia berhasil membuatku berangkat menuju tempat kerjaku. Akhirnya aku keluar dari tempat parkir rumah sakit dan langsung segera menuju kantorku di tengah kota Seoul ini. Masih pagi begini, jalanan masih belum sepadat biasanya. Aku bisa menyetir dengan sedikit santai. Aku mencoba menengok ke kursi belakang melalui kaca spion, dan yang bisa kulihat hanya tumpukan berkas kantor. Haah.. kerjaanku banyak sekali.

Akhirnya aku sampai dan langsung memarkirkan mobilku di parkir VVIP kantor, tempat parkir milik para HQ. Aku salah satu pendiri dari perusahaan ini. Perusahaan yang bergerak di bidang organizing. Hampir setiap minggu salah satu dari ketiga pendiri harus pergi dan menge-check kantor cabang di kota-kota besar di Korea Selatan ini.

Sudah sebulan yeoja yang paling kucintai, istriku, Sungbi, berada di rumah sakit. Dia divonis menderita kanker otak stadium 3C. Berita itu begitu membuatku syok. Dia tidak pernah mengatakannya padaku. Sedikitpun. Aku sempat marah padanya, tapi melampiaskan kemarahanku padanya sama saja membuatnya makin lemah. Akhirnya hari demi hari aku jalani sebisaku, sekuatku, walau banyak sekali pekerjaan yang makin menumpuk di ruang kerjaku, aku akan berusaha untuk tetap berada disisinya.

“annyeonghaseyo Sungmin-sshi” sekretarisku berdiri dan membungkuk padaku begitu aku membuka pintu ruangan.

“ne, annyeonghaseyo” aku sedikit membungkuk padanya dan segera masuk ke ruanganku. Menaruh semua berkas yang bisa kubawa dari mobilku. Berkas-berkas yang sangat berat.

“annyeong, Sungmin-sshi?” aku menoleh ke arah pintu, dan mendapati sekretarisku yang sudah berdiri dengan membawa kertas-kertas yang setumpuk.

“ne? ada apa?” jangan bilang itu untukku.

“jam 9 ada meeting, pak”

“ah.. baiklah, terima kasih” dan dia menutup pintu dengan sangat pelan.

Aku baru sampai, dan sudah ada pemberitahuan meeting? Bagus sekali. Tapi untung saja kertas yang dia bawa bukan untukku. Kalau tidak bisa-bisa aku bakar semua kertas ini. Aku akhirnya menge-check­ berkas demi berkas satu persatu dengan teliti, agar tidak perlu mengulangi dan merevisi kembali semuanya dari awal. Semua berkas ini membuatku lelah. Aku ingin hari ini cepat selesai dan memeluk Sungbi..

-ccc-

“aku kembali!” aku membuka pintu kamar tempat istriku dirawat di rumah sakit dengan wajah yang benar-benar ceria, cerah, semangat. Aku tidak akan menunjukkan wajah sedihku padanya lagi. Apalagi wajah suntuk akan semua pekerjaanku di kantor.

“selamat datang kembali” dia tersenyum dan langsung membuka tangannya lebar-lebar untuk memelukku, dan tentu saja aku langsung memeluknya. “ada apa hari ini diluar?”

“hm? Tidak ada apa-apa, Seoul sedang sepi event.. lebih banyak event di luar Seoul” aku masih memeluknya erat. Mencoba merasakan kembali semua tentangnya. Tapi banyak sekali aroma rumah sakit yang sudah melekat padanya.

“apa itu berarti kau harus pergi keluar Seoul juga?”

“hm? Sebisa mungkin tidak.. aku ingin bersamamu saja”

“begitu? Aku senang sekali” dia mencium keningku pelan. “mainkan lagu untukku” dia menunjuk gitar yang berada di sofa.

“mwo? Sekarang? tidak nanti sebelum tidur saja?”

“aku mau sekarang” dia membuat pout dengan bibirnya dan akhirnya aku menuruti kemauannya.

“kau mau lagu apa?”

In My Dream

“kenapa lagu itu? Yang lain saja..”

“tidak, aku mau lagu itu..”

“ah, baiklah” dia jadi sedikit lebih manja akhir-akhir ini, tapi baiklah, tidak apa. Aku lebih suka dirinya yang manja padaku.

Akhirnya aku memainkan lagu itu dengan gitarku dan suaraku. Sudah lama sekali sejak terakhir aku menyanyikan lagu-lagu.. yah, semenjak Sungbi masuk rumah sakit, memang hampir tiap malam aku memainkan untuknya hingga akhirnya dia tertidur seperti putri.

yeongwonhi idaero jamdeulgil baraedo.. yeojeonhi geunyeoro ggae—” tiba-tiba dia menitikkan airmatanya. Aku langsung berhenti menyanyikannya karena syok.

“mwo? Kenapa berhenti?” dia menghapus airmatanya dengan punggung tangannya.

“kenapa menangis?”

“tidak apa.. lagunya sangat menyentuh hati..”

“kenapa tiba-tiba kau meminta lagu seperti ini..”

“tidak apa.. aku tiba-tiba ingin..”

“… kau tidak apa?” aku menaruh gitarku dan menggenggam tangannya erat.

“aku tidak apa, ayo lanjutkan lagi”

“tapi lagu yang lain ya?”

“baiklah” dia akhirnya menuruti permintaanku dan aku akhirnya memainkan lagu yang lebih ceria, untuknya.. dan untuk menghilangkan perasaan resahku.

Hari sudah semakin malam, tapi kami masih tertawa bersama, karena dia masih belum mau tidur. Sebenarnya aku senang dia masih belum akan tidur. Tapi kalau dia tidak istirahat dengan baik, dia tidak akan sembuh-sembuh. Akhirnya aku memainkan satu lagu lagi untuknya, lagu yang biasa kumainkan agar dia mau kembali beristirahat.

go and dream about me.. please sleep.. my dear bunny” aku mengecup keningnya pelan dan membetulkan selimutnya. “saranghae.. jaljayo..”

Aku akhirnya menutup pintu kamarnya dengan sangat pelan dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan pelan juga. Melihat keluar jendela, bulan yang sudah tinggi menyinari tiap jendela rumah sakit. Entah kenapa rasanya ingin menangis. Rasanya begitu sakit. Melelahkan, dan sakit.

-ccc-

“Sungmin-sshi, anda besok diminta untuk menghadiri meeting serta event dengan—“ aku tertegun. Besok? Tapi besok.. besok.. anniversary ku dengannya.

“besok?”

“ne, besok selama 3 hari, di Busan”

“TIGA HARI?? DI BUSAN??” aku menggebrak mejaku.

“n—ne..”

“kenapa dengan yang lain? Bukankah aku sudah bilang aku tidak bisa keluar Seoul sampai istriku sembuh!”

“tapi Sungmin-sshi.. yang lain juga sedang berada di luar Seoul saat ini..”

“aish.. seberapa genting? Tidak bisa ditunda? Sehari saja?”

“meeting ini sudah dijanjikan sejak lama.. kalau tidak, mereka akan lepas dari kita”

“kalau begitu, biarkan mereka lepas!” emosi mulai memakan diriku. Aku sudah tidak bisa memisahkan antara kerja dan dirinya. Aku tidak mau meninggalkannya. Tapi perusahaan yang telah kubangun bersama sahabatku..

“tapi Sungmin-sshi.. kalau mereka lepas dari kita—“

“sudahlah! Cepat keluar! Aku akan memikirkannya kembali!”

“ba—baik..”

“aish!” aku mengacak-acak rambutku yang sudah ditata rapi oleh Sungbi tadi pagi. Hari ini.. dari pagi hingga siang ini.. semuanya benar-benar menyebalkan. Berkas yang makin menumpuk, meeting mendadak, dan aku sudah bilang bahwa aku tidak akan menghadiri meeting di luar Seoul selama istriku masih di rawat di rumah sakit, dan mereka sekarang menyuruhku untuk pergi ke Busan? Tiga hari? Apa mereka tidak memikirkan perasaanku. Sungbiku.. aku harus bertemu dengannya.

“aku keluar” aku langsung menerobos keluar ruangan melewati sekretarisku yang terlihat diam di kursinya begitu melihatku melewatinya.

———

“annyeong.. Sungbi-yah..?” aku membuka pintu dengan sangat pelan, dan dia tidak ada di ranjangnya. “Bi?” aku mulai panik.

“Sungmin-sshi?” seseorang menepuk pundakku. Ternyata itu dokter yang menanganinya.

“ah, dokter, Sungbi mana?”

“dia baru selesai check-up”

“lalu? Bagaimana?”

“Sungmin-ah!” suara yang kukenal memanggilku. Dia sedang di kursi rodanya, di dorong oleh suster yang selalu menjadi teman ngobrolnya. “kok kau sudah pulang?”

“ah? Ne.. itu..” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal sama sekali.

“karena Sungmin-sshi ada di sini, kita lanjutkan berbincangnya besok ne, Sungbi-sshi?”

“ne suster” dia tersenyum, dan menjabat tangan suster itu masih dengan tawa khasnya.

“besok hasil check-up nya akan keluar” dokter menepuk pundakku dan berjalan pergi bersama suster tadi.

“Min-ah~” dia mencoba memelukku.

“ne.. ayo kembali ke kamar dulu”

“aku mau jalan-jalan di taman..”

“ng? taman rumah sakit saja ya?”

“ne, mau taman mana lagi? Aku sih senang saja kalau mau taman di luar.. hehehehe” dia tersenyum, sangat menggemaskan. Aku tanpa sadar langsung mencubit pipinya. “omona! Sakit!”

“kau jangan lucu-lucu seperti itu, nanti tanganku bergerak secara tiba-tiba” aku menjulurkan lidahku dan mulai mendorong kursi rodanya menuju lift.

Kami akhirnya tiba di taman belakang rumah sakit. Dia terlihat begitu senang dan bahagia sekali saat akhirnya kami tiba disana. Aku akhirnya membiarkannya menjalankan kursi rodanya sendiri karena permintaannya. Dia sedang berusaha menangkap kupu-kupu putih yang melewatinya. Ya ampun, dia seperti anak kecil. Aku ingin sekali memeluknya tanpa harus melepaskannya. Aku ingin selalu berada di sisinya apapun yang terjadi. Aku.. aku tidak ingin meninggalkannya..

“bi..” aku berusaha membuka pembicaraan.

“ne? ada apa?” dia menoleh kearahku dengan senyuman khasnya. Ah, dia seperti malaikat.

“mian.. tapi aku tidak ingin meninggalkanmu..” aku menghampirinya, sepertinya wajahku sangat sendu, karena kali ini, wajahnya terlihat begitu cemas.

“ada apa? Kenapa minta maaf?” dia menyentuh pipiku saat aku akhirnya duduk di depannya.

“aku harus pergi besok..”

“tapi, bukankah besok..”

“ne, aku tahu.. besok anniversary kita yang kedua..” aku mencium cincin di jari manisnya.

“kemana?”

“Busan.. tiga hari..”

“pekerjaan?”

“ne.. mian sayang..” entah kenapa, airmataku keluar.

“mwo? Jangan menangis..”

“aku tidak ingin pergi..” suara isakanku sangat keras. “aku ingin bersamamu..”

“aku juga ingin selalu bersamamu.. tapi ini pekerjaanmu.. perusahaanmu..” dia mengelus pipiku pelan.. tangannya benar-benar lembut..

“tapi—“

“ne? kau harus melakukannya.. kau yang memulai perusahaan ini dengan teman-temanmu.. kau sudah membuatnya berkembang sejauh ini.. jangan kecewakan mereka..” dia mendekatkan keningnya padaku, menyandarkannya pada keningku.

“apa kau tidak apa..” kami akhirnya saling bertatapan satu sama lain.

“ne, tentu saja” dia memberikan sebuah senyuman yang tidak bisa kuungkapkan dengan baik dengan semua kosakata yang ada.

“kalau begitu, kau harus rajin makan, dan tidak boleh tidur larut malam, ne?”

“ne, aku janji”

“janji?” aku memberikan kelingkingku padanya.

“ne, apapun untukmu” dia mengaitkan kelingkingnya, dan memberiku sebuah kecupan di kening. “sebaiknya kita kembali ke dalam”

“hm, kau benar.. matahari sudah iri melihat kita berdua bermesraan.. sampai sembunyi seperti itu” aku tertawa mendengar ucapanku sendiri. Aku belajar dari siapa kata-kata seperti itu.. hahahahah.

“hahahah.. ucapanmu.. sudah, sudah sore.. ayo cepat dorong aku lagi” dia mulai menjadi anak umur lima tahun lagi. Istriku ternyata anak kecil. Hahahah.

“kalau begitu, hari ini aku akan memainkan banyak lagu untukmu, karena besok, gitar itu akan kubawa ke Busan.. tiap malam akan kumainkan saat menelponmu..”

-ccc-

“sayang, aku berangkat ne.. jangan lupa makan pagimu” aku memberinya sms sebelum akhirnya pramugari mengetahui iphoneku yang belum dimatikan. Aku akan meninggalkannya selama tiga hari penuh.. aku akan benar-benar merindukannya. Ah, iya, nanti malam akan kutanyakan tentang hasil check-up nya.

Hari ini, meeting hari pertama dengan perusahaan yang menggunakan jasa event organizer perusahaanku akan berlangsung dari pagi hingga sore. Mereka memang sebuah perusahaan besar. Yah, setidaknya bila event ini berhasil, nama perusahaan yang telah berjuang dari jerih payahku dan kedua temanku akan terbayar dan kemungkinan melejit.

Aku akan sampai di Busan kira-kira sebentar lagi. Aku akan langsung menelpon istriku tercinta sesampainya disana. Itu adalah kewajiban yang sudah kutanam sejak kemarin. Aku akan selalu menelponnya di waktu senggangku.

”terima kasih telah menggunakan jasa penerbangan kami.. selamat pagi” yak waktunya aku turun dan langsung menelpon Sungbi.

“aku turun duluan, tolong ambil bagasi” aku berdiri dari kursiku dan langsung keluar begitu pintu pesawat dibuka. Berjalan dengan cepat memasuki gedung bandara dan langsung menyalakan iphoneku.

“ayo angkatlah sayang..” aku menghentakkan kakiku cepat sambil bersandar pada dinding. Rasa cemas melanda begitu dia tidak mengangkatnya selama lebih dari 10 menit. Kenapa tidak diangkat? Ayo angkatlah..

“yeoboseyo?”

“yeoboseyo! Sayang, kau darimana? Kenapa tidak diangkat-angkat?”

“mian, aku baru bangun.. dan masih ngantuk sekali..” aku bisa mendengar suara bangun tidurnya. Dia memang baru bangun.. kukira kenapa.

“jangan lupa makan sarapanmu, ne”

“ne jagi.. kau juga”

“ya, bagaimana dengan hasil check-up mu?”

“ah, itu.. ya, kau tidak usah mencemaskannya, kau kerja yang benar saja”

“tapi sudah ada kan? Aku hanya ingin tahu”

“ya.. ah, makananku datang” dia sepertinya menghindari pertanyaan itu, sebenarnya apa hasilnya.. “aku makan dulu ya, kau juga, hwaiting meetingnya”

“ng.. ne..”

“saranghae, ppoppo”

“saranghae” dan aku memberi kecupan padanya melalu telpon yang menghubungkan kita. Dan akhirnya dia memutuskan sambungan setelah balas menciumku.

“pak, bagasinya” sekretarisku datang dan memberiku koper hitam milikku dan gitarku. Aku langsung menariknya dan berjalan keluar bersamanya. Kulihat ada namja yang memegang sebuah papan yang bertuliskan nama perusahaan kami.

“kita di jemput, atau bagaimana?”

“di jemput pak, itu” dia menunjuk namja tersebut dan langsung berjalan kearahnya dan berbicara sebentar. Mereka saling mengangguk dan akhirnya aku mengikuti mereka pergi, dan masuk kedalam mobil.

“Apakah ini langsung menuju tempat meeting, atau kita check-in hotelnya?”

“semua sudah di urus pak, kita sedang menuju tempat meeting” dia menoleh kearahku, berbicara, lalu menunduk.

“ah, baiklah..” kurasa dia masih takut padaku karena ledakan amarahku waktu itu. Akhirnya aku menerawang keluar jendela, memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh istriku itu, hingga kami akhirnya tiba di gedung meeting kami. Aku akan menanyakannya kembali tentang check-up itu nanti malam.

-ccc-

“terima kasih atas meeting hari ini, Lee Sungmin-sshi” semua yang hadir di ruangan meeting ini berdiri dan saling membungkukkan badan. Meeting yang cukup lama, warna senja oranye dari langit sampai sudah terlihat dari jendela. Setidaknya, meeting hari ini selesai dengan baik.

“Sungmin-sshi, setelah ini ada makan malam bersama direktur perusahaan” baru saja masuk ke dalam mobil, sekretarisku sudah mulai memberi jadwal-jadwal yang aku tidak pernah tahu sama sekali.

“mendadak sekali”

“tadi beliau sudah membicarakannya, dan bapak mengiyakannya..”

“oh ya? Yasudah, baiklah” apa iya? Aku lupa. Aku terlalu banyak memikirkan Sungbi di meeting ini. Apa dia sudah makan siang? Apa dia istirahat dengan benar? Siapa yang menjaganya? Apa dia merindukanku juga?

“pak? Kita sudah sampai di hotel”

“mwo? Ah, ne..” aku kaget, ternyata lamunanku sudah membawaku sampai sejauh ini.

Aku langsung turun mengikuti sekretarisku yang mengurus semuanya. Dia memberiku kunci kamarku dan aku langsung meninggalkannya dengan membawa koper serta gitarku sendiri. Begitu sampai di dalam kamar, aku langsung membersihkan diri dengan cepat agar aku bisa segera menelpon Sungbi. Baiklah, aku sudah selesai membersihkan diri, sebaiknya aku telpon sekarang. Semoga aku tidak menganggu tidurnya.

“yeoboseyo”

“Minniee! Yeoboseyoo” jawabnya dengan ceria.

“kau semangat sekali.. hahahah.. sudah makan siang tadi?”

“sudaah”

“tadi istirahat siang tidak?”

“ng… ne!”

“benar?”

“hehe.. tidak..”

“ada siapa disana? Umma?”

“ne, ada umma!”

“oh, ya baguslah, kukira kau sendirian”

“masih lama ya? Aku kangen”

“ne, masih lama.. dua hari lagi dan aku akan langsung memelukmu” aku tertawa bersamanya.

“jaga kesehatanmu nee.. nanti kau yang malah sakit”

“hahah.. tidak kok, tenang saja.. suamimu ini kan kuat”

“nanti malam mainkan gitarmu lagi ne?”

“ne, tentu saja” rasanya aku ingin memeluknya sangat erat sekarang, dan menciumnya. Suaranya benar-benar membuatku rindu setengah mati.

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku, sepertinya sekretarisku menjemput untuk acara makan malam itu. Belum ada 20 menit aku berbincang dengannya, dan urusan ini sudah mengusik kebahagiaanku. Baiklah, seperti kata Sungbiku.. ini demi perusahaanku dan teman-temanku.

“sayang, aku harus pergi.. ada makan malam bersama direktur perusahaan tadi..”

“mwo? Ne, baiklah.. aku juga akan makan bersama umma.. annyeong~~ jangan lupa mainkan gitarmu!”

“hahahah.. ne, untukmu apapun akan kulakukan” aku tersenyum sendiri di dalam kamar.

“makan yang banyak~” dia memberiku kecupan dan menutup telpon kami. Dia lucu sekali.

Aku akhirnya bersiap dan keluar dari kamarku. Sekretarisku sudah bersama namja yang aku tidak tahu siapa, sepertinya aku melihatnya di meeting tadi. Tapi aku lupa nama-nama mereka. Yasudahlah, aku ikuti saja mereka. Toh tidak ada yang mengajakku bicara.

Kami sampai di restoran tempat makan malam bersama direktur itu, dan ternyata, namja tadi itu adalah sekretaris direktur itu. Pantas saja aku merasa melihatnya di meeting tadi, dia memang selalu disebelah direkturnya itu. Aku akhirnya berjabat tangan dengan direktur itu dan mulai berbincang-bincang. Direktur perusahaan besar yang eventnya akan kutangani adalah seorang yeoja. Yeoja yang cukup baik.

Tidak terasa sudah hampir jam 11. Aku harus kembali dan menelpon Sungbi untuk memberinya lagu pengantar tidur. Tapi aku bingung, bagaimana mengakhiri perbincangan ini. Sekretarisku juga sedang tidak disini. Harusnya dia yang menghentikan acara makan malam ini. Aish. Yeoja ini juga sudah mulai meminum segelas wine. Aigo.

“permisi..”

“ne?”

“ya.. aku harus, kembali”

“ah mwo? Wae?”

“aku harus menemani istriku”

“kau? Sudah beristri? Tidak mungkin” yeoja yang juga seorang direktur ini mulai tertawa. Memangnya kenapa? Wajahku tidak cocok karena terlalu aegyo? Tapi aku seorang namja, seorang suami!

“ne, hahaha.. terima kasih.. tapi aku harus pergi” aku beranjak dari kursiku, mencoba mengambil iphoneku untuk menelpon sekretarisku.

“andwe, jangan pergi” dia menaruh gelas winenya, dan menahan tanganku.

“mian, aku akan melupakan apa yang kau lakukan, dan menjadi wakil perusahaan yang profesional.. serta seorang namja yang sudah menikah” aku menunjukkan cincinku, dan berjalan keluar ruangan. Meninggalkan yeoja itu. Kurasa dia sudah terpengaruh oleh winenya.

Aku berjalan keluar dari restoran itu dan mendapati sekretarisku sedang berbincang dengan sekretaris sang direktur tadi. Mereka terlihat sudah sangat dekat. Terlalu dekat. Aish. Apa yang salah dengan tempat ini. Aku menatapnya sebentar, dan membiarkannya menyadari keberadaanku. Setelah akhirnya lima menit berlalu, dia menyadari keberadaanku. Lama sekali.

make it on time, 10 minutes” aku membanting pintu mobil, dan membiarkan supir ini menekan gasnya secara tiba-tiba.

Perjalanan hotel menuju restoran tadi butuh sampai setengah jam, tapi ini hanya butuh waktu 10 menit, kurang sedikit. Entah mungkin karena tadi masih jam ramai, atau ini sudah terlalu larut malam di hari senin. Terserahlah. Aku tidak perduli. Yang penting sekarang, aku harus menelponnya.

Begitu sampai di hotel, mobil ini mengerem mendadak di depan lobby sesuai permintaanku, aku langsung turun dan membanting pintu kembali. Pikiranku benar-benar kacau. Apa yang harus kupasang di wajahku saat meeting besok saat bertemu lagi dengan direktur itu? Dan apa Bi sudah tertidur? Aku sudah berjanji tapi aku melanggarnya sendiri. Aigo. Aku suami yang buruk.

“yeoboseyo?” sapaku ragu-ragu di telpon begitu masuk ke dalam lift.

“yeoboseyo jagi.. lama sekali..”

“mian.. sekretarisku menghilang, dan direktur itu sangat.. ya.. sudahlah, aku tidak ingin membicarakannya.. kau kenapa belum tidur?”

“tentu saja aku menunggumu, kau berjanji padaku, kan? Hehehe” dia tertawa kecil. Manis sekali suaranya.. tapi kurasa dia sudah cukup mengantuk.

“kau mau lagu apa?” aku keluar dari lift dan segera masuk ke dalam kamarku.

“mmm… lagu apa ya.. You and I!”

“baiklah.. tunggu ne.. kuambil gitarku dulu” aku duduk di sofa, menyetel gitarku, dan memainkannya. Kuharap aku ingat. Dan aku mulai bernyanyi untuknya.

Kami bernyanyi bersama ditemani alunan gitarku. Suaranya terdengar sangat senang, dan hal itu membuatku bahagia. Rasanya semua beban hilang begitu saja mendengar tawanya. Dia memintaku mengulang lagu itu berkali-kali. Sampai akhirnya, tidak kudengar lagi tawanya di tengah reff lagu.

“Duri yeongweonhi hamkke duri.. Sarangeu—” aku mulai terdiam karena suara riangnya memelan dan menghilang tiba-tiba. Aku pun menghentikan petikan gitarku, dan mencoba memanggilnya. “Bi? Sungbi?” tiba-tiba aku merinding, membayangkan banyak hal yang mngkin terjadi padanya. Dan aku ketakutan.

“SUNGBI!”

“ah? Ne? mi—mian!” ternyata dia tertidur. Syukurlah..

“jangan buat aku takut..” aku menghela nafas panjang. “sebaiknya kau tidur sekarang..”

“mm.. ne.. aku ngantuk sekali.. mungkin ini efek obat.. tapi, yah.. sebaiknya aku tidur saja.. hwaiting untuk besok ya jagi.. jumuseyo..”

“ne.. jangan lupa berdoa.. jumuseyo.. jaljayo jagi..”

“ne.. jaljayo.. saranghaeyo..”

“saranghae” dia memutus sambungan kami. Akhirnya setelah meletakkan gitarku, aku menarik selimutku, dan tidur. Berharap memimpikan dirinya.

-ccc-

Oke, entah kenapa.. disaat hari terakhir begini, aku malah terserang flu saat meeting. Untungnya aku masih bisa menahan semua bersinku di dalam ruangan. Dan lebih bagusnya lagi, kali ini aku terserang demam. Demam menghampiriku di malam hari. Padahal besok aku akan kembali ke Seoul. Aku tidak ingin menunda kepulanganku karena sakit sepele macam ini. Sakit sepele yang membuatku terbaring di kasur hotel sejak sore hari.

Sudah jam 10, dan aku masih belum menellponnya. Kuharap dia tidak tahu aku sakit disini. Aku tidak ingin membuatnya cemas. Aku berdehem berkali-kali, membenarkan suaraku yang mulai menghilang karena sebenarnya batuk juga menyerangku. Kurasa semua sakit ini sedang ingin membuatku sengsara. Sudahlah. Kuharap dia tidak menyadari suaraku yang sedikit serak ini.

“yeoboseyo.. annyeong..”

“yeoboseyo, min-ah? Ada apa dengan suaramu? Kau sakit?”

“mwo? Ti—tidak.. tadi aku hanya berteriak terlalu keras..” ah, dia mengetahuinya. Aku harus membuat excuse yang bagus agar dia tidak curiga.

“benarkah? Kau jangan berbohong..”

“ng.. ne.. aku sakit” baiklah, aku mengaku aku sakit. Suaranya yang sudah benar-benar cemas itu mengalahkankan kebohonganku dengan cepat. Dia memang yeoja yang hebat.

“sudah minum obat? Kau istirahat saja..”

“mwo? Sudah.. aku ingin bersamamu..”

“kalau begitu, giliranku yang bernyanyi untukmu”

“tapi gitarnya ada padaku”

“tidak perlu, aku akan menyanyinkannya.. lagu pilihanku, ne? boleh ya?”

“baiklah.. lagu apa?”

“semoga dengan lagu ini aku bisa bertemu denganmu.. ahahahahah”

“mwo? Baiklah.. aku mendengarkan” akhirnya aku membiarkan iphoneku dengan mode loudspeakernya di sebelahku.

“ne, sebentar, kau sudah makan, kan? Aku sudah”

“sudah kok.. hmm.. ayo bernyanyilah.. aku sudah lama tidak mendapatkan lagu tidur darimu”

“ne ne..dasar bayi besar” dia mulai tertawa kecil, kemudian berdehem sebentar. “aku mulai ya”

“ne” dan dia mulai bernyanyi.

“nal boneun ansseuron nungil.. deutgo sipdeon geu moksori.. dajeonghage ijen ulji malraneyo..”

Lagu ini lagi, In My Dream.. wae? Kenapa dia harus menyanyikan lagu ini..? kenapa harus lagu sedih seperti ini? Apa tidak ada lagu yang ceria? Yang bisa membuatku tidur dengan tenang dengan suaranya yang indah itu..

Dia terdengar menyanyikannya dengan tenang. Tidak seperti saat aku menyanyikannya saat itu. Tidak ada suara isakan. Dia tetap menyanyikannya dengan tenang dan.. sangat dalam. Sepertinya dia menahan suaranya sekarang. kurasa dia akan menangis.. jebal.. jangan menangis..

“ije heuryeojil mando hande.. geunyeoneun jeomjeom jiteogayo.. eoje ggumeseocheoreom, oneul naege wayo.. ijeneun honja jamdeulji ange…”

Dia terdiam sebentar. Sepertinya menjauhkan speaker darinya. Kurasa dia benar-benar menahan airmatanya.

“yeongwonhi idaero, jamdeulgil baraedo, yeojeonhi geunyeoro ggaeeonado…..”

“dasineun ggumguji.. angireul baraedo, oneuldo geunyeoro.. naneun jami deultende..” aku melanjutkannya bersamanya. Dan tiba-tiba tangisannya meledak.

“mian.. lagunya tidak selesai..” dia berbicara sambil menahan tangisnya.

“mwo? Tidak apa dengan itu.. sudah, jangan menangis” aku ingin memeluknya, mengelus rambutnya, menenangkannya, membuatnya tersenyum kembali.. Sungbi-yah..

“mian..” dia mulai terbatuk-batuk. Sangat keras dan menyakitkan. Ada apa dengannya? Apa keadaannya memburuk?

“kau tidak apa? Sebaiknya kau tidur jagi.. besok aku sudah pulang.. aku akan langsung kesana”

“mian.. mian saranghae oppa..”

“bi.. aku ingin kau tertawa untukku.. jangan menangis.. sudah.. tidurlah..”

“mianhae.. aku tidur kalau begitu.. saranghae oppa.. I’ll come to your dream.. saranghae..”

“ne.. saranghae.. I hope so too..” dan dia memutus telpon kami. Aku terbatuk-batuk beberapa kali lalu menarik selimutku. Aku benar-benar berharap bisa memimpikannya. Saranghaeyo.. Sungbi-yah..

-ccc-

“Min-ah, Min-ah, bangun”

“hng… m—mwo? Su—Sungbi?”

“ne, bangunlah..”

“ini dimana? Kau? A—aku?”

“ssst..” tiba-tiba dia memelukku. Pelukan yang sangat erat.

“a—ada apa? Jagi..?”

“aku ingin memelukmu..”

“ah.. ne.. aku juga” aku akhirnya membalas pelukannya.

“Min-ah, berjanjilah padaku”

“janji? Janji apa?”

“…” dia membisikkan sesuatu.. tentang lagu..?

“kau ingin aku menyanyikan itu? Baiklah.. o—”

“tidak, tidak sekarang..” dia meletakkan telunjuknya di bibirku. Menghentikanku.

“mwo? Wae..? sebenarnya ini dimana?”

“ini.. mimpi”

“mimpi? Tapi, kau..” aku meraba lekuk wajahnya. Ini bukan mimpi.. ini pasti bukan mimpi.

“ne, ini mimpi.. kau cepatlah sembuh ne? karena terlalu cemas aku sampai bisa menghampirimu..” dia menunjukkan senyum manisnya, diikuti tawa khasnya.

“kalau begitu aku harusnya sakit terus, ne?” kami maish sempat bercanda bersama.

“mwoo? Tidak boleh.. kelinciku tidak boleh sakit..” dia mencubit pipiku pelan.

“kau juga cepatlah sembuh, ne jagi?”

“hm? Ne.. oppa”

“ne? ada apa?”

“mian, aku harus pergi sekarang”

“mwo? Kenapa? Tetaplah disini, aku tidak akan bangun..”

“aku juga ingin, tapi aku tidak bisa.. waktuku habis”

“waktumu? Waktu apa? Apa maksudmu?”

“mian, saranghae..” dia mengecup keningku pelan.

“aku ingin kisseu..” akku menyentuh pipinya lembut, dan menciumnya. Bibirnya terasa sedikit dingin. Mungkin karena ini di dalam mimpi.. aku ingin merasakah kehangatannya..

“saranghae oppa.. saranghae..” dia memelukku erat.

“saranghae.. nado saranghae..” aku hanya bisa membalas pelukannya dengan erat, dan bisa kurasakan dia makin menghilang dari pelukanku.

“uljima..” dan dia menghilang. Aku terdiam, masih dalam keadaan semula, memeluknya. Aku merasakan sesuatu yang basah di pipiku. Air.. apakah ini airmata? Milik.. Sungbi?

Waeyo…? Sungbi..?

Aku terbangun begitu saja dengan mata terbelalak dan telinga yang kebisingan. Suara ketukan yang keras di pintu kamar hotelku membuatku berteriak kencang. Menahan amarah karena kehilangan mimpi itu. Sekretarisku sudah sedikit berteriak tentang jam take off pesawat di luar kamarku. Aish. Dia.

Aku akhirnya langsung mandi secepat kilat dan membereskan semuanya. Aku juga tidak ingin terlambat bertemu dengannya. Aku sudah berjanji padanya akan satu hal dalam mimpi itu. Aku akan menyanyikannya untuknya. Walau aku menyadari.. lirik dari lagu yang harus kunyanyikan sedikit.. menyedihkan.. lagu In My Dream itu.. tapi aku sudah berjanji padanya.

Ada banyak pesan yang masuk dalam iphoneku, tapi aku tidak bisa membcanya sekarang. aku harus mematikan iphone ini karena pramugari yang sudah memperhatikanku. Akan kubuka nanti saat landing. Aku juga sudah membelikan yeojaku itu boneka kelinci putih. Aku harap dia menyukainya.

———

Aku sudah di dalam mobilku sendiri sekarang. Begitu pesawat landing dan pintu terbuka, aku langsung melesat meinggalkan sekretarisku dan menunggu bagasiku keluar dengan harapan bagasiku akan muncul pertama kali. Dan ya! Lucky. Bagasiku muncul di awal. Memang aku langsung menancap gas begitu masuk kedalam mobilku sendiri tadi.

Dan kini, sampailah aku di rumah sakit tempat istriku itu dirawat. Aku belum sempat membuka iphoneku, aku akan mengejutkannya dengan kedatanganku. Aku berjalan dengan mantap begitu keluar dari lift. Menutupi diriku dengan boneka kelinci putih agar dia terkejut nantinya. Tapi aku yang malah terkejut karena tepukan seseorang dibahuku.

“Min?”

“ne?” sapaku dengan ceria. Ternyata umma Sungbi. Kukira Sungbi sendiri. Hampir saja kejutanku gagal. “umma? Waeyo?”

“kau.. tidak tahu..?”

“mwo? Wae? Ada apa?” tapi umma tidak menjawab. Aku langsung berlari masuk kedalam kamarnya. Kamar Sungbiku. Dan yang kulihatnya hanya.. ruang kosong.

“dimana..” aku terduduk lemas di lantai.

“dia.. sudah tiada.. Min..” umma mengisak, menahan.. isakannya.

“tidak, tidak mungkin.. dia masih bersamaku tadi malam..” aku mencoba meraih seprei ranjangnya. Berharap masih tersisa, setidaknya.. bau miliknya..

“ne.. tadi malam.. dia menangis keras setelah menelponmu..” umma menepuk pundakku pelan.

“aku.. dia.. dia tidak mungkin.. tidak umma.. ini tidak mungkin.. dia masih menyanyi bersamaku.. dia sudah berjanji akan tertawa kembali.. dia berjanji akan sembuh bila aku sembuh.. dia berjanji.. dia.. aku.. berjanji padanya..”

“apa yang kau janjikan, nak?”

“oneul geudael dasi, bolsuman itdamyeon.. geureolsu itdamyeon, dolaomyeon.. hanbeonman ne gyeote.. jamdeulsu itdamyeon, geureolsu itdamyeon.. geudaero ggaeji ango.. sipeo…” aku mulai bernyanyi dan kemudian menangis. Menangis sekeras mungkin. Sekeras yang aku bisa. Dan aku teringat.. satu baris.. yang belum kenyanyikan..

“jami deulsu.. itdamyeon..” aku kembali mengeluarkan airmataku. Mimpiku.. mimpi terakhir bersamamu.. “if I could.. fall asleep..”

“saranghae” aku terperanjat. Suaranya. Itu suaranya. Aku berusaha mencari darimana suara itu. namun yang kutemukan hanya secarik kertas di atas meja kecil di samping ranjangnya..

“gomawo for completing the song.. uljima, saranghae..

I’m dreaming again.. right.. Sungbi..?” aku memeluk kertas itu. Memeluk keberadaan terakhirnya. Memeluknya. Yeojaku…

I will never change this love..

forever..

saranghae..

Sungbi..

9 Comments

Leave a Comment
  1. lovelyminbi / May 16 2012 8:41 pm

    Huuueeeeeeeee… nangis darah bacanyaa :((

    • hachidarksky / May 16 2012 9:35 pm

      jangan nangis darah ntar aku dimarahin min XDD

      • lovelyminbi / May 17 2012 11:10 am

        miniieee-aaaaahhh… marahin dia DXXX

      • hachidarksky / May 17 2012 3:46 pm

        ooo tidak bisa… XDD

      • lovelyminbi / May 17 2012 4:19 pm

        waaaeeeee??? DXXX

      • hachidarksky / May 17 2012 4:26 pm

        karena saya sudah punya ff baru hohohoho

      • lovelyminbi / May 17 2012 10:00 pm

        ff apa?

      • hachidarksky / May 18 2012 9:07 am

        ff happy end~
        yahhaaaa ;p

  2. learnoflife / Jul 2 2013 4:46 pm

    minnie… tabah ya^^

Leave some Advice :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: