Skip to content
May 22, 2012 / hachidarksky

Sparkling You (PART 1) | [ Cho Kyuhyun and Park Ririn Fanfiction ]

author : hachidarksky

genre : parted, romance, fanfiction, slice of life

language : Indonesian

cast : Cho Kyuhyun, Park Ririn (@hachidarksky)

part : Sparkling You PART 1 | Sparkling You PART 2 | Sparkling You PART 3-final

Aku duduk terdiam, merenung, di pojok kampusku.

Aku menunduk dan terus menunduk. Tidak memperhatikan orang-orang yang berlalu didepanku, yang tersandung kakiku dan mengomeliku.. menendang kakiku dan mengejekku. Apapun perkataan mereka, aku tidak peduli. Mereka tidak tahu bahwa hatiku lebih sakit daripada perlakuan mereka. Aku tidak ingin menambah beban hatiku karena mereka. Terserah apa yang mereka lakukan. Saat ini aku hanya ingin sendiri.. merenungkan semuanya..

“hei.. waeyo? Kau tidak apa?” akhirnya aku mendengar sebuah kalimat yang berbeda dari sebelumnya. Aku menengadah pada orang tersebut. Pandanganku kabur. Aku tidak memakai kacamataku, dan.. aku sedang menangis.

“kau tidak apa? Kenapa kau menangis? Hei yeoja?” suaranya sangat berat.. dan lembut. Siapa orang ini? Apa dia namja? Aku jarang berbicara dengan namja di kampusku. Siapa dia yang mengajakku berbicara?

“ne.. I’m fine.. I’m okay..” aku berusaha tersenyum. Terima kasih atas perhatianmu, seseorang..

“tidak, tidak mungkin kau tidak apa.. katakan saja, aku akan mendengarkan.. dan satu hal.. tolong tekuk kakimu.. aku tidak tega melihat yeoja tertendang seperti itu” kurasa dia tersenyum padaku. Aku tidak bisa melihat jelas.. dimana kacamataku..

“mianhae.. kamsa..” aku akhirnya menekuk kakiku dan meraba lantai dingin yang kududuki, mencari kacamataku.

“ini..” dia membuka telapak tanganku dan memberikan kacamataku.

“kamsa..” aku akhirnya memakai kacamata berframe ungu dengan minus 6 ku. Ah.. namja..

“ne, cheonma.. jadi, Ririn-sshi, kan?”

“hm? Ne.. bagaimana kau tahu namaku.. namja..?”

“aku tahu saja” aku seperti pernah melihat namja ini.. aku mengenalnya..

“apa aku mengenalmu?” aku menghapus airmataku dan berusaha melihat namja itu kembali.

“apa menurutmu kau mengenalku?” bisa kulihat senyum tulus dan manisnya.. benar-benar manis.. seperti malaikat.. apa aku sudah mati ya?

“aku rasa.. apa kau kuliah disini?”

“ne, tentu saja”

“jurusan postmodern art?”

“ne, postmodern art..”

“mm.. kurasa aku tidak terlalu mengenal semua teman kelasku..”

“ne, kau kan selalu menyendiri”

“mwo? Bagaimana kau tahu..”

“ya.. aku tahu saja”

“yah.. terserah saja.. jadi, kenapa kau disini?”

“harusnya aku yang bertanya seperti itu, hei yeoja manis”

“ng? yeoja apa?” apa aku tidak salah dengar? Namja mana yang berbicara seperti itu padaku? Tidak ada. Kutekankan.. Tidak. Pernah. Ada.

“yeoja.. jadi kenapa kau disini? Bagaimana kalau kita pindah ke café kampus saja?”

“tidak.. tidak usah repot-repot.. aku sudah terbiasa disini..”

“ayolah.. kalau begitu di café dekat kampus saja.. aku tahu yang enak” tiba-tiba dia menarikku berdiri secara paksa, tapi masih tetap halus. Sehalus tutur katanya.

“ta—tapi.. namja..”

“aku Kyuhyun.. Cho Kyuhyun”

“K—Kyuhyun?” aku pernah mendengar nama itu.. kurasa dia memang anak kelasku.. Kyuhyun.. Kyuhyun-sshi.. ng.. pikiranku sedang berkabut sekarang. aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

——

Kami sampai di café dekat kampus.. tidak, ini sama sekali tidak dekat dengan kampus. Ini. Sangat. Sangat jauh. Dari Kyunghee University menuju Oksu-dong hanya untuk ke sebuah café itu benar-benar jauh! Ada 40 menit dia menculikku dengan mobil Hyundai hitamnya ini. Apa maksud namja ini! Aku jadi sedikit takut dengannya..

“ya.. kenapa sejauh ini..”

“karena.. kalau dekat dengan kampus, mungkin kau tidak akan cerita..”

“tapi ini dekat dengan rumahku..”

“benarkah? Dimana?” Dia mengaitkan kedua tangannya dan bertopang dagu, menatapku.

“si.. Sinsa..”

“Sinsa? Dekat sekali.. apa tadi kau membawa mobil? Kalau tidak, aku akan langsung mengantarmu”

“ti—tidak usah.. lagipula.. bukan itu tujuan kau mengajakku kemari..”

“ah ne! kau mengingatkanku.. jadi, wae kau menangis?”

“bukan.. apa-apa.. hanya masalah keluarga..” aku memberi senyum simpul padanya.

“benarkah? Apa aku tidak boleh mengetahuinya?” aku menggeleng pelan padanya. Kulihat dia mem-pout-kan bibirnya. Dia lucu..

“mianhae” aku tersenyum kembali, kali ini dengan sedikit ingin tertawa karena wajahnya.

“mwo? Tidak apa” dia menepuk kepalaku pelan. “aku tidak memaksa.. lagipula, aku tidak ingin mencampuri urusan orang kalau orang itu tidak mau..”

“kamsa..” kurasa aku refleks menunduk karena malu. Wajahku panas..

“karena sudah jauh-jauh kemari.. aku akan mentraktirmu”

“ti.. tidak per—“ dia menaruh telunjuknya di bibirnya sendiri. Aku terkejut karena dia tampak benar-benar manis.

“aku jasmine tea, kau? Cappuchino latte, atau hot chocolate?” dia seperti bisa membaca apa yang aku pikirkan. Wae dia tahu yang kusukai?

“aku.. jasmine tea sepertimu saja..”

“mwo? Baiklah.. noona, kami pesan dua jasmine tea, dingin” aku melihatnya tertawa bersama unni itu.. kurasa dia memang sering ke tempat ini..

“jadi, Ririn-sshi.. apa aku boleh memanggilmu Ririn-ah?”

“mwo.. te—tentu.. kalau itu maumu..”

“kau boleh memanggilku Kyuhyun-ah” dia tersenyum kembali. Lama-lama aku bisa tersihir karena senyumannya.. dia benar-benar.. membuatku merah padam.. namja ini..

“ne.. Kyuhyun.. ah..”

“apa kau punya saudara?”

“ada.. tapi dia tinggal bersama suaminya di luar negeri”

“berapa tanggal lahirmu?”

“14 maret..”

“apa yang kau sukai?”

“kucing dan game..” ah, kenapa aku jadi menjawab pertanyaannya begini?

“apa aku boleh mendapat nomer handphonemu?”

“ne tentu sa—“ aku terdiam. Namja ini bergerak dengan cepat.

“apa?” dia sudah mengeluarkan iphonenya di tangannya dan menatapku serius.

“aku saja yang mengetiknya..” dia menyerahkan iphonenya dengan riang dan sangat senang. Aku akhirnya memberi nomorku dan dia langsung memberiku sebuah misscall.

“simpan ne” aku mengangguk pelan. Sedikit senang rasanya ada namja yang mau mendekatiku seperti ini. Penampilanku benar-benar biasa. Kacamata, kuncir kuda, baju simpel, dan aura yang katanya teman kelasku, aura yang suram. Entah karena apa namja ini mendekatiku.. tidak ada yang tahu bahwa aku yeoja yang berasal dari keluarga yang sangat berkecukupan. Aku tidak terlalu suka membanggakan itu. Itu seperti mendapat teman palsu. Apa namja ini tahu akan hal itu?

“ne.. wae.. kau, bersamaku? Bukankah di jurusan postmodern banyak yeoja yang cantik..”

“ne memang, tapi.. orang bernama Park Ririn yang sering berada di kelas duluan dan menyendiri memberi kesan tersendiri padaku” aku terdiam kembali mendengar ucapannya. Bagaimana dia tahu aku selalu datang pertama? Apa dia stalker? Apa dia raja gombal? Sukanya menggoda yeoja-yeoja? Tapi wajah itu.. wajah yang.. cukup polos dan manis itu.. tidak mungkin.

“silahkan jasmine teanya..” pelayan café kecil ini memotong lamunanku. Aku tersadar dan melihatnya Kyuhyun sedang tersenyum kearahku. Na—namja ini..

“kau tahu, ini sudah sore.. aku akan mengantarmu pulang, ne?”

“ta—tapi.. mobilku..” dia terlihat sangat kecewa dengan jawabanku.

“kalau begitu besok pagi aku akan menjemputmu!”

“a—aniyo.. orang tuaku akan memarahiku.. lagi.”

“benarkah? Baiklah.. kalau begitu aku akan mengantarmu kembali ke kampus..” dia menyeruput tehnya pelan sambil tetap menatapku. Aku sedikit tidak bisa berkonsentrasi pada tehku sendiri. Hei namja, jangan menatapku seperti itu..

——

“terima kasih atas hari ini Kyuhyun-ah..” aku membungkuk padanya dan masuk ke dalam mobilku. “aku.. akan memberitahumu bila sudah sampai dirumah..”

“ne, hati-hati.. mian aku tadi malah bercerita sampai sudah malam begini..”

“ne.. gwenchana.. jumuseyo..” aku akhirnya pergi meninggalkan parkiran kampus, meninggalkannya yang akhirnya masuk ke dalam mobilnya.

“hari ini berakhir cukup menyenangkan.. setidaknya.. ada dia yang bisa sedikit menghiburku..” aku bergumam pelan di dalam mobilku. Ternyata sudah malam sekali.. apa orang tuaku sudah pulang.. kuharap belum.

Perjalanan Kyunghee menuju Sinsa cukup memakan waktu, hari semakin malam dan gelap. Aku ingin sampai di apgujeong.. setidaknya, tempat yang bercahaya dan ramai. Aku tidak pernah pulang sampai larut seperti ini. Aku benar-benar berharap kedua orang itu belum pulang.

“mobil mereka..” aku masuk kedalam garasiku dan turun. Aku berusaha berjalan sepelan mungkin masuk kedalam rumah.

“Rin”

“ah? Ne.. umma..” aku terhenti di pintu depan. Umma.

“sejak kapan kau berani pulang jam segini? Sudah berani rupanya kau?” aku terdiam, menunduk, dan terdiam.

“ne umma.. mianhae.. jeongmal mianhae..” aku membungkuk padanya sedalam mungkin.

“apa yang kau lakukan? apa tidak menginap di hotel saja sekalian? Yeoja pulang larut malam”

“tadi ada.. kerja kelompok umma..” aku mencari alasan yang mungkin bisa membujuknya, setidaknya agar aku bisa masuk kekamarku. Aku tidak mau mendengar bentakannya lagi.

“masuk kekamarmu, sekarang”

“ne umma..” aku akhirnya berjalan dengan cepat memasuki kamarku dilantai dua. Dan menguncinya. Aku langsung merebahkan diriku di kasur, dan mulai menangis lagi.

Wae.. kenapa aku selalu dimarahi.. aku ingin keluar dari rumah ini.. aku ingin pergi dari sini seperti unni.. aku tidak mau dikekang seperti ini.. kenapa umma berubah.. aku ingin sendiri.. aku.. aku ingin bertemu dengan Kyuhyun lagi..

——

“aku berangkat” aku mengatakannya walau mereka sedang tidur. Aku selalu datang pagi karena aku tidak ingin bertemu dengan mereka. Aku tidak ingin mood pagiku dirusak oleh mereka. Walau dosenku mungkin belum datang, setidaknya lebih baik di kampus daripada di rumah.

Aku akhirnya sampai di kampusku. Masih jam 7 pagi, masih sepi. Jalanan juga sepi.. aku hanya 15 menit sampai sini. Yah, itu sudah biasa untukku memang. Aku langsung menuju bangku biasaku, pojok atas yang masih bisa melihat kearah papan dan LCD di depan. Aku mengeluarkan ipodku dan mulai bermain. Tidak ada yang tahu aku suka bermain game, selain dia, dan unniku. Tidak ada yang tahu juga aku memiliki banyak gadget untuk bermain, ummaku termasuk. Teman kampusku juga hanya tahu aku anak yang selalu memegang novel. Memang, aku suka membaca itu, tapi game lebih menenangkanku.

“annyeong!” aku terkejut dan langsung menyembunyikan ipodku. Siapa datang pagi-pagi seperti ini. Biasanya mereka datang hampir mendekati jam masuk, jam setengah 9.

“Rin-ah!” Kyuhyun!

“an.. annyeong..” aku segera berdiri dan membungkuk padanya.

“hahaha.. tidak usah seperti itu.. lanjutkan saja gamemu” dia berjalan kearahku dan duduk disebelahku. A—apa yang dia lakukan.

“ne..” aku kali ini mengeluarkan PSPku.

“hwo! Kau bermain PSP juga? Ayo kita pairing!” dia mengeluarkan PSPnya dan bermain bersamaku. Memang bermain seperti ini menyenangkan kalau bersama.. tapi.. kenapa dia datang sepagi ini?

“Kyuhyun.. kenapa kau datang sepagi ini? Aku tidak pernah tahu ada yang datang sepagi ini.. selain aku”

“ne, karena ini pertama kalinya aku datang sangat pagi! Aku ingin bertemu denganmu lagi!” dug. Jantungku berdegup kencang. Ucapannya benar-benar tidak masuk akal, tapi aku senang.

“ne Rin.. mianhae kemarin, aku tau kau dimarahi oleh ummamu..”

“mwo? Bagaimana kau bisa tahu?”

“aku, mengikutimu.. untuk memastikan kau sampai dengan baik-baik saja.. itu tanggung jawab namja! Ne~?”

“kau.. kau stalker ya? Hahahah..” aku tertawa kecil karena perkatannya.

“kalau begitu panggil aku stalker-kyu!” dia juga ikut tertawa.

“tapi.. terima kasih untuk kemarin.. aku sedikit.. senang”

“hanya sedikit? Ah, berarti apa yang kulakukan kurang..” dia mengangguk pelan sambil menyentuh dagunya. Namja ini, benar-benar lucu..

“tidak, itu cukup kok.. aku senang” aku tersenyum padanya, entah kenapa, pipinya berubah menjadi merah.

“be—begitu? Baiklah..” dia menggaruk kepalanya dan membuat rambutnya acak-acakan. “ah, aku ke kamar mandi dulu ne, urusan namja” dia menepuk kepalaku pelan dan berlari keluar ruangan kuliah yang besar ini. Urusan namja katanya.. bilang saja mau ke belakang.. hahahah.. dia benar-benar namja yang menyenangkan.

Dan baiklah, aku kembali sendiri.. hm.. sebaiknya aku melanjutkan membaca novelku saja..

——

“hari ini sampai sini bapak menerangkan digital art, kerjakan tugas kalian, minggu depan dikumpulkan.. ingat, digital art, tema lovebird, satu kelompok dua orang, namja dan yeoja” ucap songsaenim di depan kelas. Mwo? Berdua? Apa dia tidak salah? Kenapa tidak kelompok besar saja? Aku berkelompok dengan siapa? Namja pula.. ah.. aku mungkin akan mengerjakan semuanya sendiri lagi..

“RIN!” Kyuhyun yang duduk di bagian tengah berteriak dan melambai kearahku, beberapa yeoja menoleh kearahnya karena nama mereka memiliki `Rin` dan sebagian melihat kearah lambaian tangannya, arahku.

“n—ne?”

“aku bersa—“

“Kyuhyun-sshi! Wae kau bersamanya? Denganku saja!” tiba-tiba seorang yeoja menutup keberadaannya dari pandanganku. Dia merengek manja pada Kyuhyun.

“ne! denganku saja!” dan yeoja lain mulai menyahutnya. Dan banyak yeoja yang mulai saling bersahutan. Kyuhyun.. Cho Kyuhyun.. kenapa kau begitu.. po.. puler..?

CHO KYUHYUN?! Omona…. Bukankah dia.. Cho.. Kyuhyun.. namja.. namja itu.. namja yang.. yang selalu kuperhatikan sejak awal masuk jurusan ini.. dia.. Cho Kyuhyun.. Kyuhyun, anak pemilik persuhaan besar Cho.. sial.. kenapa aku baru sadar. Aku sebaiknya keluar dari sini. Aku tidak mau merepotkan siapapun. Apalagi dirinya.

“Rin! tunggu!” aku melihatnya sekilas, melihatnya yang berusaha keluar dari kerumunan yeoja yang menarik baju serta tasnya. Mian Kyu.. sebaiknya kau tidak bersamaku.. aku, tidak pantas untukmu yang begitu bersinar..

Aku akhirnya berlari menuju mobilku yang terparkir cukup jauh dari gedung kampusku sendiri. Cukup melelahkan, karena biasanya aku hanya berjalan santai. Tapi kali ini aku harus berlari. Agar dia tidak mengejarku. Kuharap dia tidak mengejarku.. tidak.. kuharap.. dia.. mengejarku.. airmataku jatuh kembali. Aku, sungguh cengeng..

“Rin! berhentilah!” lenganku ditarik secara paksa oleh tangan yang benar-benar besar dan kuat. Aku tidak mau menoleh. Tidak. Tidak mau..

“n—ne..”

“wae kau lari? Dan.. wae larimu sangat cepat? Aku capek..” suara nafasnya yang terengah-engah membuatku menoleh kearahnya. Dia mengejarku..

“tidak.. tidak apa.. sebaiknya kau bersama yeoja-yeoja itu Kyu.. nanti yang repot malah aku..”

“apa kau kerepotan dengan adanya aku?” dia menatapku sendu.

“ti.. tidak.. aku senang.. tapi..” tiba-tiba dia memelukku erat. “Kyu.. lepaskan.. nanti ada yang lihat..”

“tidak apa, biarkan mereka melihatnya..” dia makin mempererat pelukannya, aku sampai berjinjit dibuatnya.

“Kyu.. jebal..” akhirnya dia melepaskan pelukannya.

“aku sekelompok dengamu, titik”

“ne.. terserah kau saja..” aku menghapus airmataku yang ternyata dia sama sekali tidak melihatnya.

“kau menangis lagi..” dia menghapus airmataku. Ternyata dia menyadarinya..

“karena.. kita satu kelompok.. kita harus menentukan konsepnya sekarang.. punya ide?”

“tidak”

“mwo!” aku tertawa keras karena jawabannya yang sangat singkat dan polos. Sampai aku mengeluarkan airmata lagi.

“ya! Jangan menangis lagi!”

“ini karena kau, babo!” aku berhenti tertawa dan membungkuk. “mian mengatakanmu babo”

“tidak apa, sudah lama tidak mendengarnya.. hahahah..”

“uh, dasar sok pintar..” aku menekan tombol kunci mobilku dan tiba-tiba dia menahannya.

“ayo pergi denganku lagi! Kita cari ide bersama!”

“mwo? Tapi naik mobil sendiri ya? Daripada nanti kembali kemari..”

“hmm.. baiklah kalau itu maumu.. ayo, ikuti mobilku!” dia masuk kedalam mobilnya, yang ternyata berada di sebelah mobil Nissan Leaf biru ku. Mobil hitam Hyundai SantaFe.. sebuah SUV. Kenapa dia tidak pakai sedan saja ya.. kan, lebih elegan.

“ayo, kita pergi!” dia membuka kaca jendelanya dan mengklaksonku. Aku tersadar dari lamunanku dan langsung mengikuti mobilnya.

-ccc-

“Naksan Park!”

“kenapa ke Jongno-gu? Kenapa tidak Sungdong-gu?” aku melihat taman ini. Aku tidak pernah kesini, kurasa..

“kenapa memang?”

“tidak apa.. aku mau ke Kyobo saja kalau begitu” aku berjalan mundur dan berjalan keluar dari taman.

“hei hei hei! Kita kemari untuk mencari ide!” ah, dia benar.

“baiklah, ayo kita.. jalan” aku berjalan mendahuluinya. Ini hanya jalan-jalan biasa, bukan apa-apa.. mencari ide! Konsep! Tugas kuliah! Ah!!

“Rin? rambutmu rusak nanti”

“ha? Ah.. ne.. ng..” aku baru sadar kalau aku mengacak-acak rambutku sendiri. Aigo. Rambutku.

“urai saja..” dia menarik ikat rambutku pelan dan membiarkan rambutku terurai. “nah, ternyata kau sangat cantik, kan”

“mwo? Te.. terima kasih..” aku membetulkan rambutku dan menunduk dalam.

“ah, lihat!!” dia berlari meninggalkanku menuju sebuah pohon, tupai?

“tupai!” seruku.

“lucu sekali ne? bagaimana kalau kita buat ini saja?”

“mwo? Tentang binatang? Bisa tuh..”aku mengambil kamera SLRku dari tas.

“kau.. membawa SLR? Sebenarnya apa isi tas besarmu?” dia membuka resleting tasku dan yap. Terlihatlah isinya..

“laptop, PSP, ipod, harddisk, lalu ini tas SLR, dan ini.. ini juga.. ini.. ini semua gadget!”

“tidak semuaaa” aku mengambil buku novel dan buku kuliahku. “ini buku”

“Cuma dua” dia mem-pout-kan bibirnya kembali.

“ah, tidak apa dong! Bwee”

“ne, tentu saja tidak apa.. kau adalah kau, bukan orang lain”

“mwo? Terima kasih..” aku tidak pernah mendengar kata-kata itu lagi sejak.. hm..

“ah ya! Kita belum sempat makan siang.. padahal sudah mau jam 3 sore begini.. ayo cari makan dulu” dia mengambil tasku dan membawanya.

“Kyu! Biarkan aku membawa tasku..”

“tidak, yeoja tidak seharusnya membawa barang berat.. apalagi ada namja disebelahnya.. kita naik mobilku saja ne, mobilmu tinggal disini saja”

Akhirnya kami pergi dari taman itu dan mencari makanan di Jongno-gu. Kami mendapatkan tempat di restoran kecil, yah, tempatnya tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman. Makanannya juga lumayan. Yah, percakapan kami juga lumayan menyenangkan. Dia memang namja yang menyenangkan. Tapi waktu berlalu sangat cepat.. sudah jam 5..

“ah, Kyuhyun oppa”

“oppa? Hm.. kau boleh memanggilku begitu” dia mengangguk pelan.

“ya, kita kembali ke Naksan Park sekarang.. nanti mobilku di segel.. sudah mau malam nih”

“baiklah, ayo pergi..” akhirnya dia membayar bill kami, dia mentraktirku lagi.. aigo.. aku benar-benar berhutang banyak padanya..

Dalam perjalanan kembali ke Naksan Park, kami berdua diam dalam kecanggungan. Entah, tiba-tiba rasanya atmosfir canggung muncul diantara kami. Apa karena satu mobil dan sudah hampir malam? Tapi kemarin juga seperti ini. Aku berusaha mencari topik pembicaraan, kurasa dia juga. Dalam kediaman yang sangat lama, tiba-tiba mobilnya berhenti. Ah. Sudah sampai Naksan Park lagi..

“ayo, kita ambi beberapa view kota.. sebelum tutup” dia menarikku untuk berjalan cepat, mencari spot bagus untuk memotret pemandangan kota menjelang malam. Ah, mataharinya sangat indah.. aku, aku melihat sunset dengannya! Omona.. mimpi apa aku semalam..

“jangan lupa binatangnya juga ne? jangan memotretku” dia tertawa terbahak-bahak.

“ish, siapa juga yang mau memotretmu ha?” tapi sebenarnya aku sudah mendapatkan beberapa foto dirinya. Apa dia tahu? Kuharap tidak. Sunset view dan keberadaannya.. ini sungguh.. romantis? Ah, apa yang kupikirkan.. hahahah.. Rin, jangan mimpi.

Kami bercanda dan tertawa hingga lupa waktu hingga seorang satpam menghampiri kami dan memperingatkan kami bahwa Naksan Park sudah akan tutup. Uh, disaat seperti ini kami diusir.. yah, tidak apalah.. setidaknya, aku bisa bersamanya. Akhirnya kami berpisah di tempat parkir. Mungkin wajahku benar-benar terlihat tidak rela karena dia juga ikut menatapku sendu. Ah.. wae hari berlalu dengan cepat?

“oppa, aku pulang duluan.. hati-hati dijalan.. jumuseyo” aku mengklaksonnya dan mulai melaju meninggalkannya. Hmm.. sudah jam 9 lebih ternyata.. dan mungkin aku akan sampai rumah jam 11 kurang.. lebih malam dari kemarin. Aigo.. aku pasti dimarahi lagi.. haah.. terserahlah.

——

“PARK RIRIN! KAU KIRA INI JAM BERAPA?!”

“u—umma.. mianhae..” aku yang hendak menutup pagar dikagetkan oleh suaranya yang menggelegar.

“APA ALASANMU SEKARANG? PULANG MALAM-MALAM! KAU INI YEOJA! DAN MASIH REMAJA!!”

“tapi umma.. aku benar-benar ada—“

“APA? MAU BERALASAN LAGI? SUDAH CEPAT MASUK KEDALAM KAMAR! KALAU BESOK KAU PULANG MALAM LAGI, AKU AKAN MENGUNCINYA!”

“UMMA!” aku sudah tidak bisa menahannya..

“KAU! BERANI MEMBENTAK UMMA?!”

“WAE UMMA? AKU SUDAH KULIAH! UMURKU SUDAH HAMPIR 21! KENAPA KAU MASIH MENGANGGAPKU YEOJA KECIL!”

“KARENA KAU MEMANG! KAU HARUSNYA MENCONTOH UNNIMU! DULU DIA TIDAK PERNAH PULANG MALAM, DAN MEMBENTAK UMMA!”

“JANGAN SAMAKAN AKU DENGANNYA!!” aku menjerit kencang. Jeritan terkerasku.

“AKU RIRIN! BUKAN DIA! WAE UMMA SELALU MENYAMAKANKU DENGANNYA!!” aku melihat wajahnya yang tertegun menatap semua ucapan yang keluar dari mulutku.

“kalau kau tidak ingin disamakan dengannya, jadilah yang lebih baik darinya!”

“SUDAH UMMA! KAU BAHKAN TIDAK DATANG SAAT GRADUATE SMA-KU! KALIAN BERDUA!! UMMA DAN APPA LEBIH MEMENTINGKANNYA YANG HANYA MEMINTA PERGI KE SEBUAH MALL!!”

“wae kau berbicara seperti itu”

“DAN SADARLAH UMMA! YANG TIDAK PERNAH ADA DI RUMAH, YANG SELALU PERGI KEMANAPUN, YANG PULANG LARUT MALAM, KALIAN!!” aku mengeluarkan semua beban hatiku selama ini. Semuanya terasa lancar keluar dari mulutku.

“KALIAN SELALU MENINGGALKANKU SEMENJAK UNNI PERGI! Dimana kalian saat aku membutuhkan kalian? TIDAK ADA! KALIAN HANYA PULANG DAN MEMARAHIKU!!” aku berlari menuju kamarku, menarik tanganku yang ditahan olehnya. Kulihat appa yang berdiri diam di depan pintu kamar. Kurasa dia mendengar semua teriakanku. Aku tidak peduli.

Aku mengunci kamarku. Kudengar suara teriakannya dan ketukan keras dipintuku yang semakin menjadi. Aku tidak perduli. Terserah kalian mau menyesal sekarang atau makin memarahiku. Apapun. Aku tidak akan peduli lagi.

Aku mengambil koper ungu kecilku dan memasukkan baju-bajuku kedalamnya. Semua yang kubutuhkan. Semuanya, termasuk tabungan pribadiku. Aku mengganti bajuku secepat mungkin, memakai hoodie berwarna gelap, dan menguncir rambutku. Ransel yang tergeletak di atas kasurku kupakai kembali. Aku menjinjing koper ungu kecilku dan membuka pintu. Aku melihat umma dengan raut mukanya yang benar-benar tidak ingin kulihat sekarang.

“PARK RIRIN KAU MAU KEMANA?!”

“pergi dari sini” aku langsung melesat turun dari lantai dua dan masuk kedalam mobilku. Appa sama sekali tidak menahanku walau dia berada di tangga. Terserah kalian sajalah.

“BERHENTI!” dan aku mulai menyalakan mobilku dan keluar dari garasi.

“terima kasih atas segalanya” aku langsung melaju kencang kejalanan. Pergi sejauh mungkin dan tidak tentu arah. Aku tidak tahu mau kemana. Mungkin aku akan mencari apartemen sendiri yang jauh dari Sinsa.

Aku menyusuri Apgujeong yang masi tetap gemerlap saat malam. Aku melewati Hannam Bridge dan menyusuri Hangang River. Warna sungai ini memang indah. Apalagi malam hari.. lampu penerangan makin membuatnya indah. Tanpa sadar aku berhenti di depan café di Oksu-dong itu lagi. Tempatnya sedang ramai.. kurasa ada yang memakainya untuk pesta..

Aku akhirnya mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam café itu dan akhirnya menjalankan mobilku menyusuri Hangang River ini kembali. Dan sebenarnya, aku sedaritadi menangis di dalam mobilku. Untuk apa aku menangis lagi.. sudah tidak ada yang harus ditangisi. Aku sudah muak akan semuanya..

Sudah lewat dari jam 12 malam, dan aku masih menyusuri Hangang River dengan mobil Nissan Leaf biru mudaku. Aku mulai tidak mengerti ini ada dimana, dareah mana.. aku tidak pernah pergi terlalu jauh dari rumah. Dan satu-satunya petunjuk pulangku hanya Hangang River ini.

“mungkin sebaiknya aku berhenti disini.. aku lelah.. menyetir sambil menangis..” aku melihat nama jalan yang terpampang.. Topyeong-dong.. dimana itu.. terserah sajalah.

Aku menghentikan mobilku dipinggir jalan dan turun dari mobil. Berjalan sempoyongan mendekati Hangang River, dan akhirnya duduk direrumputan. Melipat kakiku dan memeluknya erat. Menangis kemabli dengan keras. Tempat ini sepi, hanya suara air Hangang River yang terdengar, dan tangisanku.

“… kyu..” aku tanpa sadar memanggil namanya, yang kuingat hanya namanya sekarang dikepalaku. Semua senyumnya memenuhi tiap sudut otakku. “aku ingin bertemu denganmu..”

“Rin-ah!”

“halusinasi yang bagus.. suaranya..”

“Rin-ah, ini bukan halusinasi.. ini aku.. Kyuhyun.. Rin..” aku menengadah, melihat kearah orang yang berdiri didepan cahaya. Namja yang tinggi.. dan.. siluet yang sangat kukenal.

“Kyuhyun.. oppa..?”

“ne, Rin-ah.. wae kau pergi sampai sejauh ini.. aku hampir kehilanganmu ditengah jalan.. mianhae Rin..”

“gwenchana..”

“mianhae, karena aku.. kau pulang malam dan dimarahi oleh ummamu..”

“gwenchana oppa..”

“mianhae.. karena aku.. kau bertengkar dengan keluargamu..”

“gwenchana oppa.. ini bukan salahmu.. sama sekali bukan..”

“mainhae.. jangan menangis lagi.. jebal..” tiba-tiba dia memelukku erat. Aku tidak ingin melepaskan pelukannya.. aku akhirnya balas memelukknya. Auranya benar-benar hangat dan menenangkan.

“wae oppa.. begitu memerhatikanku..” aku berbisik ditelinganya, dan dia melonggarkan pelukannya.

“karena.. mungkin kau lupa..”

“lupa apa?” aku menatap lekat matanya secara langsung. Coklat gelap yang indah.. kenapa kau begitu.. sempurna..

“saat pendaftaran mahasiswa baru..” itu lama sekali..

“saat itu..?”

“saat itu, aku juga sedang merenung ditempat yang sama denganmu, pojok kampus.. duduk dilantai..”

“mm..” aku berusaha mengingat kembali.. waktu pendaftaran mahasiswa itu apa yang kulakukan.. ah! Namja itu..?

flashback

“hey, kau tidak apa?” aku sedang membawa map besar yang kupeluk erat didadaku. Map berisi berkas untuk masuk ke Kyunghee University. Sekolah yang kuinginkan.

“ne, gwenchana”

“kenapa kau disini? Tidak mendaftar? Sudah?”

“belum..”

“lalu? Cepat mendaftar sebelum banyak yang mendaftar.. nanti crowded dan susah..” aku tersenyum pada namja yang daritadi kuajak bicara itu.. aku akhirnya ikut jongkok dan mencoba melihat wajah dibalik lipatan kaki yang rapat itu.

“tidak, aku sedang bingung..”

“karena?”

“tidak apa.. ini hanya masalah biasa..”

“mwo? Katakan saja, aku akan mendengarkannya..”

“aku..”

“kau?”

“appaku sangat memaksaku masuk ke jurusan hukum.. atau bisnis.. padahal aku..”

“kau, mau masuk jurusan seni?”

“kau.. ne.. kau benar..”

“ya, sama sepertiku kok..” aku duduk disebelahnya. Masih tetap berusaha melihat wajah namja itu yang masih belum mau mencoba melihat lawan bicaranya. Mungkin dia menangis?

“kau juga?”

“ne, tapi untuk kali ini saja.. aku tidak mau hidupku diatur oleh mereka.. kuliah kan menentukan masa depan kita.. aku ingin menentukan masa depanku sendiri..” aku menunjukkan mapku padanya. “dan aku memilih postmodern art” dan tersenyum.

“kau juga.. masuk sana?” dia mengintip kearahku, sedikit.

“kau mau masuk situ juga? Kalau begitu masuk saja, kita akan berteman!”

“tidak tahu.. appa menyuruhku menjadi seperti dirinya..” suaranya mulai dalam kembali.

“hei, kau adalah kau! Bukan orang lain” aku menepuk pundaknya.

“aku.. adalah aku..”

“ne! jadi semangatlah! Tunjukkan bahwa kau menginginkannya!”

“begitu.. terima kasih.. ng..”

“Ririn! Park Ririn! Salam kenal..”

“kamsa, Ririn-sshi..”

“ne, cheonma.. dan kau?”

“aku Cho—“ handphoneku bersuara dengan keras, menegejutkan kami berdua.

“omona! Handphoneku!” aku melihat layarnya dan mulai berdecak. “umma, mianhae, aku harus pergi sekarang.. pasti aku akan dimarahi karena mendaftar tanpa ijin mereka.. heheh .. yasudah, aku pergi dulu!”

“ne, kamsahabnida, Ririn-sshi”

“ne! sampai bertemu saat kuliah! Jangan menangis lagi” aku menjulurkan lidahku dan melempar saputangan unguku padanya. Aku harap dia akan menjadi teman namja pertamaku disini.

flashback end

“kau.. namja.. itu..?”

—end of part 1—

Advertisements

2 Comments

Leave a Comment
  1. ooOw… jadi Kyu itu temen pas ketemu pendaftaran toh??
    lalu gimana klanjutan hub mereka?
    ato jangan2 hubungan mereka tidak akan direstui??
    kajja!! aku ingin baca lanjutanny ^^
    Hwaiting ^^

    • hachidarksky / May 30 2012 10:07 am

      ne unni :3
      hubungan mereka… sedang dalam proses (?) XDD
      ne, hwaiting :3!

Leave some Advice :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: