Skip to content
May 31, 2012 / hachidarksky

Sparkling You (PART 2) | [ Cho Kyuhyun and Park Ririn Fanfiction ]

author : hachidarksky

genre : parted, romance, fanfiction, slice of life

language : Indonesian

cast : Cho Kyuhyun, Park Ririn (@hachidarksky)

part : Sparkling You PART 1 | Sparkling You PART 2 | Sparkling You PART 3-final

previous story :

“wae oppa.. begitu memerhatikanku..” aku berbisik ditelinganya, dan dia melonggarkan pelukannya.
“karena.. mungkin kau lupa..”
“lupa apa?” aku menatap lekat matanya secara langsung. Coklat gelap yang indah.. kenapa kau begitu.. sempurna..
“saat pendaftaran mahasiswa baru..” itu lama sekali..
“saat itu..?”
“saat itu, aku juga sedang merenung ditempat yang sama denganmu, pojok kampus.. duduk dilantai..”
“mm..” aku berusaha mengingat kembali.. waktu pendaftaran mahasiswa itu apa yang kulakukan.. ah! Namja itu..?
flashback
“hey, kau tidak apa?” aku sedang membawa map besar yang kupeluk erat didadaku. Map berisi berkas untuk masuk ke Kyunghee University. Sekolah yang kuinginkan.
“ne, gwenchana”
“kenapa kau disini? Tidak mendaftar? Sudah?”
“belum..”
“lalu? Cepat mendaftar sebelum banyak yang mendaftar.. nanti crowded dan susah..” aku tersenyum pada namja yang daritadi kuajak bicara itu.. aku akhirnya ikut jongkok dan mencoba melihat wajah dibalik lipatan kaki yang rapat itu.
“tidak, aku sedang bingung..”
“karena?”
“tidak apa.. ini hanya masalah biasa..”
“mwo? Katakan saja, aku akan mendengarkannya..”
“aku..”
“kau?”
“appaku sangat memaksaku masuk ke jurusan hukum.. atau bisnis.. padahal aku..”
“kau, mau masuk jurusan seni?”
“kau.. ne.. kau benar..”
“ya, sama sepertiku kok..” aku duduk disebelahnya. Masih tetap berusaha melihat wajah namja itu yang masih belum mau mencoba melihat lawan bicaranya. Mungkin dia menangis?
“kau juga?”
“ne, tapi untuk kali ini saja.. aku tidak mau hidupku diatur oleh mereka.. kuliah kan menentukan masa depan kita.. aku ingin menentukan masa depanku sendiri..” aku menunjukkan mapku padanya. “dan aku memilih postmodern art” dan tersenyum.
“kau juga.. masuk sana?” dia mengintip kearahku, sedikit.
“kau mau masuk situ juga? Kalau begitu masuk saja, kita akan berteman!”
“tidak tahu.. appa menyuruhku menjadi seperti dirinya..” suaranya mulai dalam kembali.
“hei, kau adalah kau! Bukan orang lain” aku menepuk pundaknya.
“aku.. adalah aku..”
“ne! jadi semangatlah! Tunjukkan bahwa kau menginginkannya!”
“begitu.. terima kasih.. ng..”
“Ririn! Park Ririn! Salam kenal..”
“kamsa, Ririn-sshi..”
“ne, cheonma.. dan kau?”
“aku Cho—“ handphoneku bersuara dengan keras, menegejutkan kami berdua.
“omona! Handphoneku!” aku melihat layarnya dan mulai berdecak. “umma, mianhae, aku harus pergi sekarang.. pasti aku akan dimarahi karena mendaftar tanpa ijin mereka.. heheh .. yasudah, aku pergi dulu!”
“ne, kamsahabnida, Ririn-sshi”
“ne! sampai bertemu saat kuliah! Jangan menangis lagi” aku menjulurkan lidahku dan melempar saputangan unguku padanya. Aku harap dia akan menjadi teman namja pertamaku disini.
—flashback end—
“kau.. namja.. itu..?”

——

“kau.. namja.. itu..?” aku memotong ceritanya. aku benar-benar tidak percaya.

“ne, Ririn-sshi..” dia mengeluarkan saputangan ungu itu.. milikku..

“jadi.. kau sudah berhasil menjadi dirimu sendiri?”

“ne, berkat kau..”

“dan kau, adalah namja yang.. benar-benar.. populer”

“aku selalu berusaha memanggilmu, tapi yeoja-yeoja itu.. selalu menghalangiku..” dia menghela nafas panjang dan menggengam tanganku. “mungkin hanya karena appaku seorang pemilik perusahaan besar Cho..”

“tapi kau memang keren.. tampan.. dan.. hebat..” aku memalingkan wajahku pada Hangang River yang mengalir tenang disebelah kami.

“ne Rin.. sejak hari itu.. karena kalimat dan senyumanmu.. aku..” aku meliriknya sebentar. Di keremangan ini, aku bisa melihat wajahnya yang.. merah.

“kau?”

“aku.. aku.. aku men..cintaimu..”

“kau apa?” aku sedikit menggodanya, karena suaranya sangat kecil. Tapi aku benar-benar tidak mendengar apa kelanjutan `men` nya itu sih.

“sa.. saranghaeyo.. Ririn-ah” aku menatapnya tidak percaya. Namja, yang.. yang aku.. yang.. dia.. dia menyatakan perasaannya padaku? Apakah aku yeoja paling beruntung di dunia ini?

“sebenarnya.. aku..”

“jawab aku, dengan ini” tiba-tiba dia memelukku dan mencium bibir tipisku. Aku panik. Aku tidak tahu harus apa. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana cara menjawab pernyataan cintanya dengan ini? Ada apa ini? Kenapa jadi begini? Haruskah aku membalasnya dengan memberinya ciuman balasan? Aigo. Apa yang harus kulakukan? Ba—baiklah.. kalau itu maunya.. aku akan membalasnya.

“dangsineun jeoreul saranghanda? (do you love me?)

“ne, saranghaeyo..” aku menangis kembali. Kali ini sebuah tangis bahagia. Aku, benar-benar tidak baik dalam hal mengekspresikan perasaanku.. aku selalu menangis seperti ini.

“yeojachingu-ya, kau tidak boleh menangis” dia menghapus airmataku dengan saputangan ungu milikku itu.

“yeoja..chingu?”

“ne, kau milikku sekarang.. aku akan selalu melindungimu.. dan tidak akan membiarkanmu menangis”

“gomawoyo.. Kyuhyun-ah..” pusing melanda kepalaku setelah semua yang terjadi padaku malam ini. Aku terkulai lemas dalam pelukannya. Dan, kurasa.. aku pingsan.. untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku pingsan.

-ccc-

“Ririn-ah.. Ririn-ah.. bangun..”aku membuka mataku dan aku bisa melihatnya dengan wajahnya yang benar-benar khawatir.

“Kyu..? aku dimana?” aku bangun dan duduk, masih memegang kepalaku. Rasanya sakit..

“kau di rumahku”

“di—di rumahmu?”

“ne.. lebih dekat kerumahku daripada ke rumahmu.. dan.. sebaiknya kau tidak pulang dalam keadaan pingsan, kan? Atau.. nanti malah bertengkar lagi.. menurutku..”

“kamsa..” aku terbatuk sebentar. Hm. Apa ini karena dinginnya Seoul di malam hari?

“sekarang masih jam 2 pagi.. kau tidur disini saja dulu..” dia mengusap rambutku pelan.

“tapi.. keluargamu..”

“noonaku sedang tidak di Seoul.. ini kamarnya.. kau bisa memakainya..”

“appa.. dan ummamu..”

“mereka sedang tidur.. biarkan saja jangan pikirkan mereka.. yang penting kau pulih dulu..”

“Kyu..” mataku mulai tertutupi airmata lagi. Bagaimana bisa ada namja sebaik dirinya?

“ssh.. jangan menangis lagi.. aku sudah bilang tidak akan membiarkanmu menangis..” dia menghapus airmata yang belum sempat keluar itu dengan ibu jarinya yang besar. Dia mencium kelopak mataku lembut, dan tersenyum.

“sudah, tidurlah..” dia menarik selimutku untuk menutupi tubuhku lagi. “mimpikan aku..”

“mmng..” aku mencoba memejamkan mataku.

“aku ada di kamarku, disebelah.. bila kau menginginkan sesuatu”

“ne.. kamsa.. gomawo.. saranghae..”

“nado saranghae..” dia mengecup keningku pelan dan berjalan keluar. Menutup pintu, dan aku sendiri lagi.

“kenapa kau begitu.. begitu baik.. namja..” aku menahan tangisku yang hampir keluar. Aku akan tidur sesuai permintaannya.. aku akan memimpikannya..

-ccc-

“noonamu sudah kembali dari mokpo?” aku terbangun karena percakapan didepan pintu. Siapa..

“ah? Tidak appa, aku tadi malam mengambil barangku dan belum mematikan lampunya..” aku melihat tangannya yang masuk dan mematikan lampu. Mwo.. gelap..

“kalau begitu, appa dan umma akan pergi dua hari ke busan. Jaga rumah, dan café.. dan bersihkan kamarmu”

“ne appa, siap..” dan bisa kudengar suara langkah kaki yang menuruni tangga. Jadi ini dilantai dua?

“ne, hati-hati..” dan suara pintu tertutup dengan kencang terdengar. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan kulihat dia yang menghela nafas.

“wae?”

“tidak apa, aku belum bilang appa kalau ada yeoja disini.. aku bisa dibunuh..”

“ah..”

“baiklah.. kopermu disitu.. dan mobilmu.. ah! Mobilmu!”

“ya! Kau kemanakan mobilku??”

“Mobilmu ada di garasi belakang.. hahahahh.. aku meminta sopir noonaku mengambilnya tadi malam..” dia tertawa dengan evilnya.

“terima kasih”

“ne, ayo kita harus kuliah”

“kuliah? Ah.. iya juga..” aku berdiri dari tempat tidur noonanya itu, dan berhenti. “tapi.. nanti umma ke tempat kuliah dan mencariku..”

“tidak apa, aku akan bersamamu!”

“tidak Kyu.. dia lebih.. lebih.. lebih dari yang kau kira..” aku sendiri tidak bisa mendeskripsikan kekuatan keluargaku. Aku tidak suka dengan segala macam kekuasaan karena kekayaan macam itu. Aku lebih baik tidak berada di keluarga seperti itu.

“ng.. baiklah, kita dirumah saja..” dia menarikku duduk di kasur kembali.

“tidak tidak.. kau tetap kuliah.. aku yang tetap dirumah..”

“tapi—“

“nanti kita ketinggalan kuliah”

“ah.. ne.. baiklah aku siap-siap dulu..”

“ne..” dan dia keluar. Aku merasa, kami seperti pasangan yang sudah lama sekali bersama. Pembicaraan dan juga nadanya saat berbicara sangat lembut. Rasanya seperti.. mendapat kasih sayang dari seorang.. ibu.. hahah.. ibu kataku..

Aku mencoba mengintip keluar kamar, dan yang terlihat adalah pagar pembatas kayu yang terukir sangat detail. Indah sekali. Aku membuka pintu lebih lebar dan aku dapat melihat rumahnya yang begitu besar. Besar. Sangat besar. Lebih besar dari rumahku.. dia benar-benar berasal dari keluarga kaya-raya.. aku sampai tidak tahu harus berkata apa untuk mengagumi rumahnya ini.

“ah, anda siapa?” aku tertegun dan menoleh kearah suara itu berasal. Yeoja? Apa ummanya? Tidak mungkin, ummanya pergi bersama appanya.

“a—aku.. Ri—Ririn..” aku membungkuk dalam.

“Ririn? Apa anda tunangan tuan Cho?”

“tu—tunangan?” aku berpikir keras kembali. Sejak kapan aku mendapat title tunangan? Siapa tunangan yang dimaksud?

“Rin” aku terkejut karena ada yang menepuk pundakku. Ternyata hanya Kyu.. “wae?” tanyanya dengan wajah yang benar-benar cemas. Apa wajahku terlihat pucat?

“ah? Mwo? Tidak..” aku melirik kearah perempuan tadi.. sepertinya dia seorang maid disini karena dia langsung membungkuk begitu melihat Kyuhyun.

“mungkin sebaiknya kau.. makan dulu, wajahmu sangat pucat..” dia menyentuh keningku dan mengusap lembut pipiku.

“ng.. ne..” pikiran tentang tunangan itu masih belum bisa keluar dari pikiranku. Siapa? Siapa orang itu?

Akhirnya dia membawaku ke ruang makan. Hanya ada roti panggang dan scramble egg di atas meja, serta jus jeruk.. seperti sarapanku biasa dirumah. Aku menatap Kyuhyun sekilas saat aku menggigit pucuk roti panggangku. Dia bahkan tidak menyentuh makanannya sama sekali dan hanya menautkan jarinya.. melihat mataku lurus. Aku semakin tidak konsentrasi dalam memakan sarapanku. Sebuah kerutan diantara alisnya membuatku cemas. Apa dia sedang membaca pikiranku?

“ne Rin.. ada apa?”

“tidak ada apa-apa..” aku sebisa mungkin tidak menatap matanya. Sepertinya minggu ini benar-benar minggu terburuk dalam hidupku.. masalah dengan keluargaku.. walau aku mendapatkan cinta dari orang yang sangat kukagumi dan kucintai juga.. tapi, sekarang hatiku benar-benar retak karena sebuah kata, tunangan.

“katakan padaku.. aku akan menjawabnya..” apa dia benar-benar akan menjawabnya? Apa aku harus bertanya dan mendapat jawaban yang benar-benar tidak aku inginkan saat ini? “Rin..”

“tadi.. maidmu.. bertanya.. apa aku tunanganmu..” ekspresinya berubah drastis. Mungkin memang sebaiknya aku tidak mengatakannya.. mungkin memang sebaiknya aku memendamnya. Aku tidak ingin mendengar jawabannya.. kumohon jangan menjawabnya..

“itu..” kurasa memang benar akan adanya pertunangan itu.. lalu untuk apa aku menjadi yeojachingunya.. ini benar-benar menyakitkan.

“tidak apa, tidak usah dijawab, ne?” aku tersenyum seakan semua benar-benar hanya angin lalu. Hatiku benar-benar sakit melihat wajahnya yang kebingungan.. sangat.. sakit.

“mian Rin.. aku, aku..” dia mengepalkan tangannya dengan keras.

“tidak, aku serius.. tidak usah dijawab..” aku meneguk jus jerukku dan menghampirinya. Dia menatapku sendu. Aku jadi ingin menangis melihat tatapannya itu. Wae kau memberiku tatapan itu? Berikan aku senyuman..

“mian jangan menangis” dia menyentuh pipiku yang ternyata sudah basah kembali. Aku benar-benar tidak bisa menjaga airmataku untuk tidak mengalir. “aku akan menjelaska—“

“tidak, tidak usah.. sudahlah, sekarang pergilah ke kampus.. nanti telat” aku menggenggam tangannya pelan dan melepaskannya dari pipiku. “catat yang banyak” dan tersenyum.

“ne baiklah.. ingat rin.. aku hanya mencintaimu..” dia berdiri dan mengecup keningku pelan. “ saranghae.. aku pergi.. mandilah..”

“nado saranghae.. ne..” begitu dia menutup pintu dan pergi dengan mobilnya. Aku hanya bisa terkulai lemas. Semuanya datang secara bertubi-tubi. Mengapa ini harus terjadi padaku? Katakan tuhan.. jawab aku..

“apa aku pantas berada disini..” aku menaiki anak tangga satu persatu dengan sangat pelan. Masuk ke dalam kamar noonanya lagi dan menutupnya dengan pelan. Warna kamar ini benar-benar menenangkan. Sangat rapi dan indah. Mengingatkanku pada kamar soft purpleku.. aku ingin tahu noonanya seperti apa. Kurasa dia orang yang sangat baik.

Aku mulai melihat-lihat bingkai foto yang terpajang di dinding dan di meja. Banyak sekali foto mereka berdua, mereka benar-benar kakak-adik yang akrab.. namun kini mataku tertuju pada satu foto. Ada yeoja tambahan disana. Apa itu.. aku mencoba menghilangkan pikiranku itu. Tidak.. hahah.. jangan datang lagi.

“siapa dia?” aku menggumam sendiri. Dia tampak benar-benar dekat dengan Kyuhyun. Bahkan mereka saling berangkulan. Apa yeoja ini.. tunangannya?

“aku mau pulang..” tiba-tiba kalimat itu terucap begitu saja. “lebih baik aku tersakiti oleh umma.. daripada olehnya..” yah, aku menangis lagi.

Aku langsung mengangkat koperku dan mengambil kunci mobilku yang berada di meja kecil di sebelah meja dan keluar kamar dengan mengendap-endap. Mirip sekali dengan pencuri.. apa yang kulakukan sebenarnya.

“nona mau kemana?” aku terkejut dan hampir saja menjatuhkan koper unguku tepat diatas kakiku. Aku menoleh sebentar, dan ternyata maid yang telah menghancurkan hatiku dengan kalimat pamungkasnyalah yang telah menepuk pundakku.

“ng.. aku harus pulang, nanti ummaku mencariku.. hehe.. tolong jangan beritahu Kyuhyun oppa, ne? jebal?” aku menunduk sedalam mungkin dan menengdah padanya. Kulihat dia mengangguk pelan dan akhirnya aku langsung menuruni tangga dengan cepat.

“dimana mobilku.. tunggu, dimana garasinya” aku berdiri dan menatap taman rumah yang terbentang luas. Aku mulai menggaruk kepalaku dan menekan tombol di kunci mobilku. Sesekali aku mendengar suara alarmnya. Samar. Sebenarnya garasinya dimana!

“nona, apa ada yang bisa saya bantu?” kali ini aku menjatuhkan koperku. Dikakiku.

“omona!!” aku menjerit tertahan. Sial. Ini benar-benar hari sialku.

“apa anda tidak apa?” sepertinya dia ini, sopir?

“ne, tidak apa kok.. apa, di sini ada mobil Nissan warna biru muda? Yang tadi malam?”

“ah, ada.. boleh saya pinjam kuncinya?” aku yang masih bingung akhirnya menyerahkan kunci mobilku begitu saja padanya. Entah, kenapa tidak aku saja yang mengambilnya. “mohon tunggu sebentar”

“n—ne..” aku akhirnya menunggu.. hampir 10 menit aku menunggu dan tiba-tiba saja aku melihat banyak mobil yang entah darimana keluar dari suatu tempat.. oh! mobilku muncul diantara mobil-mobil itu.

“maaf lama nona” dia menyerahkan kunciku begitu mobilku ini berhenti tepat disebelahku.

“ah.. ne.. terima kasih”

“anda hendak pergi kemana?”

“ng.. pulang.. tolong jangan bilang pada Kyuhyun oppa.. jebal.. kamsa” aku mengklakson pelan padanya dan langsung menekan pedal gas sedalam mungkin.

Aku bahkan tidak tahu ini dimana. Apa aku nyalakan GPS ku? Tapi nanti.. akhirnya aku mengurungkan niatku dan mulai mencari nama jalan tempat ini.

“Nowon-gu..” aku menekan pedal rem dengan sangat mendadak begitu melihat tulisan nama tempat ini. Untunglah jalanan sedikit sepi. “Nowon-gu?? Jauh sekali?!”

“aku tidak tahu jalan pulang..” aku akhirnya menekan GPSku. Menyalakannya. “home” ucapku. Dan rute pulang terpampang dilayar. “Aku pasti akan dimarahi umma.. ketahuan pergi sejauh ini..”

Aku akhirnya mengikuti rute itu, dan entah kenapa aku melewati Kyunghee University dalam perjalananku. Aku langsung menekan pedal gasku dan pergi jauh darisana. Kurasa aku melihat Kyuhyun. Tapi, tidak mungkin. Kyunghee itu besar, Rin. seruku sendiri dalam hati.

Akhirnya aku sampai di Sinsa. Sampai di perumahanku. Sampai.. di depan gerbang rumahku. Kurasa tidak ada siapa-siapa dirumah.. mereka sudah pergi kerja. Pasti itu. Akhirnya aku mengendap masuk dan naik ke kamarku dilantai dua dengan langkah sepelan mungkin. Kuharap maidku juga tidak mendengarnya.

“Rin”

“um—umma..” aku bergetar hebat begitu melihatnya yang ternyata berada di depan kamarku. Wae dia tidak ke kantor? Harusnya.. harusnya dia..

“kau pergi sampai mana? Nowon-gu?” GPSku…

“ne umma.. temanku..” aku menunduk dalam.

“jangan menunduk, lihat umma” akhirnya aku menatap matanya. Dia begitu marah padaku. Dahinya berkerut dalam. Seperti habis banyak memikirkan sesuatu.

“mian.. umma..”

“masuk kamarmu, kau tidak boleh keluar sampai kau menyadari kesalahanmu” dia berjalan melewatiku dan menuruni tangga tanpa suara sedikitpun. Aku hanya melihatnya yang masuk kedalam kamarnya, dan menguncinya.

“ne..” aku berjalan memasuki kamarku, dan menguncinya pelan.

Baiklah.. baru sehari aku kabur, dan sekarang sudah kembali lagi.. hahahah.. aku memang tidak tetap pendirian.. tapi yang lebih kusesali adalah.. kenapa aku harus kabur, dan mengetahui kenyataan terpahit itu.. aku benar-benar yeoja paling tidak beruntung di dunia. Sejak unni pergi dengan suaminya, keluarga ini makin berantakan. Keluarga yang tidak pernah memperhatikanku dan mengerti diriku. Dan sekarang, ditambah dengan namja yang kusukai.. ditunangkan dengan yeoja lain. Hahahah.. lengkap sudah penderitaanku. Lebih baik aku menghilang saja.

“ne.. sebaiknya aku menghilang saja..” aku menutup mataku dan akhirnya tertidur.

-ccc-

“rin, bangun”

“kyu..?” aku membuka mataku dan melihat umma yang sedang menyedekapkan tangannya.

“siapa kyu?”

“bu—bukan siapa-siapa”

“cepat mandi dan turun. Ini sudah jam 10. Sarapan sudah siap daritadi. Umma dan appa mau bicara sesuatu padamu”

“ne umma..” aku akhirnya turun dari tempat tidurku dan berjalan masuk ke kamar mandiku. Ternyata sudah hari baru? Sepertinya aku tidur terlalu lama. Dan kurasa aku menangis lagi.

“cepat” umma keluar dan menutup pintu kamarku pelan. Jarang sekali..

Bicara, ya? Mungkin mereka akan memarahiku, mengomeliku, menasehatiku, dan semacamnya. Aku sudah sedikit kebal sekarang.. tapi.. semoga mereka tidak pakai mengait-ngaitkanku dengan unni segala nanti. Huh.

——

“kau akan kami tunangkan”

Baru saja aku duduk di kursi meja makan, dan appa sudah mengatakan hal yang membuatku menjatuhkan iphoneku ke lantai dengan suara yang cukup keras. Apa aku salah dengar? Appa bercanda, kan?

“a—apa?” aku meraih iphoneku dan menatap appa dan ummaku bergantian.

“kau dengar ‘kan, Park Ririn” umma masih dengan tenangnya memakan sarapannya.

“maksud kalian?”

“Rin, jangan berpura-pura tidak mengerti. Kau pintar, kau harusnya bisa menyerap kata-kata itu dengan mudah. Appa tidak akan mengulanginya”

“ta—tapi.. wae??” aku hampir menggebrak meja, tapi aku hanya bisa meremas garpu di depanku.

“sebenarnya appa tidak mau melakukannya. Tapi, kemarin lusa.. kau melakukannya”

“apa? Apa salahku? Aku sudah kembali! Aku tidak kabur selama setahun! Sehari saja tidak ada!!”

“ne, itu memang bagus kau kembali.. dengan begitu kami bisa memberitahukan langsung padamu” umma masih sangat santai memakan sarapannya.

“wae! Katakan padaku!!”

“emosimu sudah mulai tidak terkendali.. kau sudah mulai melwan kami dan kabur.. jadi kami telah membulatkannya, lebih baik kau bertunangan”

“alasan kalian tidak masuk akal!! Bahkan unni tidak ditunangkan seperti ini! Biarkan aku memilih pasanganku sendiri!”

“kami tidak ingin hal yang sama terjadi dua kali”

“hal yang sama apanya! Aku tidak mengerti jalan pikiran kalian! Kenapa selalu aku yang mendapatkan masalah!”

“kau tidak akan pernah mengerti, Rin”

“kalau begitu jangan bertindak sesuka hati kalian! Ini hidupku!!”

“kami orangtuamu, Rin” ini baru pertama kalinya aku begitu emosi pada appaku. Aku tidak pernah bertengkar dengannya. Bebicara dengannya saja jarang. Dan sekali berbicara, dia.. dia sudah berhasil membuat emosiku meluap.

“aku sudah kembali kemari dengan berharap semua akan jadi lebih baik… ternyata semua sama saja. Terima kasih” aku berdiri dari kursiku dan berjalan cepat menuju rak kunci. Mengambil kunci mobilku dan segera bergegas mengeluarkan mobilku dari garasi. Kalau saja aku tidak menyayangi mobil pertamaku ini, aku pasti sudah membuka gerbang dengan menabraknya langsung.

“kau berani pergi lagi” appa menahan tanganku yang sedang membuka pintu mobilku.

“lepaskan aku” aku masuk dan membanting pintu mobilku. Menekan gas dan meninggalkannya yang baru pertama kali ini kulihat mengkerutkan dahinya sangat dalam. Pergelangan tanganku memerah karena cengkeramannya juga. Ini sakit.

Aku tertawa keras di dalam mobilku. Keras. Sangat keras. Hahah.. semuanya benar-benar memuakkan. Kehidupan ini sungguh memuakkan. Kenapa aku harus mendapatkannya. Kenapa disaat aku mendapatkan sesuatu yang kuinginkan, segalanya terampas begitu saja. Kebebasanku dan cintaku. Kyuhyun-ah.. waeyo.. jelaskan padaku..

“a bitter day..” aku terkejut dengan suara keras dari kantong celanaku. Iphoneku berdering. Incoming call.. umma.

“cih, apa urusanmu” aku melempar iphoneku ke kursi samping dan mulai menekan pedal gas lebih dalam. Menyusuri kota besar. Apgujeong, Itaewon, Myeongdong, semua akan aku kunjungi. Aku ingin merasakan kehidupan kota yang selalu mereka kekang dariku. Bahkan aku akan menyetir ke jeju kalau aku mau. Ini hidupku.

Aku menyetir tanpa arah dan sekarang kurasa aku ada di Cheongdam-dong.. siang begini tempat ini cukup ramai juga. Aku hampir terjebak macet kalau saja aku tidak mengambil semua celah yang ada. Apa karena ini sudah mau masuk jam makan siang? Aigo. Sepertinya aku salah jalan. Aku benar-benar akan terjebak macet kalau disini..

“apgujeong-dong….” Aku menghela nafas panjang karena tidak bisa keluar dari kerumunan mobil yang mengelilingiku. Baiklah. Aku akan pasrah menghadapi kemacetan ini. Ini kemauanku pergi dari rumah. Aku akan menjalani semuanya. Yosh. Berjuang rin.

Hampir 4 jam lebih aku pergi dari rumah dan aku masih di apgujeong-dong. Oke. Aku menyerah. Lebih baik aku berjalan kaki saja. Dengan mobil biru muda dan macet seperti ini, aku akan lebih mudah ditemukan. Aku akhirnya berusaha sebisaku memarkirkan mobilku di pinggir jalan. Dan untungnya masih ada orang baik di dunia ini. Dia berhenti dan membiarkan mobilku melaju kepinggir jalan. Aku mengklakson mobil itu pelan dan membungkuk padanya. Entah orang didalam mobil itu melihat apa tidak, setidaknya aku sudah berterima kasih.

Aku turun, tidak. Apa aku akan turun dengan baju seperti ini? Kemeja putih lusuh dan celana jeans pendek.. serta flat shoes coklat muda. apa aku tidak pernah melempar jaketku ke kursi belakang? Kuharap ada. Aku mencoba mengacak-acak kursi belakangku yang penuh dengan kertas kuliah. Dan yap! Aku menemukan coat berwarna coklat gelap. Dan entah sejak kapan aku memiliki coat aneh dengan bulu seperti ini. Ini punya siapa sih? Aku? Terserahlah. Aku pakai saja, toh cukup panjang.

Aku akhirnya keluar dari mobilku menggunakan baju seadanya dari hasil kabur dari rumah dan coat coklat gelap dengan hoodie yang berbulu. Sebenarnya sedikit aneh menurutku. Tapi mau bagaimana lagi. Aku lebih tidak mau keluar dengan bajuku tadi.

Banyak toko branded dimana-mana. Café, restoran, toko kecil, semuanya ada. Ah, aku hanya beberapa kali jalan-jalan kesini. Itu saja saat ada unni dulu. Sekarang aku hanya melewatinya bila pulang sore, mencari jalan yang ramai.. agar aku tidak kesepian.

“Kona..” aku melihat café itu dari jauh. Sepertinya tempat yang bagus. Aku akan coba kesana ah.. mungkin aku bisa disana lama.

Di jalan dan di trotoar, jalan di Apgujeong-dong tidak bisa sepi. Aku susah payah sampai bisa berada di depan Kona. Kona Beans. Aku hendak masuk kedalamnya. Namun langkahku terhenti dengan cepat. Ada dia. Dia.. sedang apa dia? Dia tidak kuliah? Apa dia mengambil kuliah sore nanti? Sekarang sebenarnya jam berapa?

“jam.. jam 4 sore!” aku terkejut melihat jamku sendiri. Apa aku sudah pergi selama itu? Kuliah pagi dan siang sudah selesai, dan sekarang harusnya kuliah sore dimulai. Wae dia disini? Part-time?

“Ririn?” aku terkejut dan melihat darimana arah suara itu datang. Dia menatapku dengan tatapan tidak percaya. Tidak. Aku tidak mau bertemu dengannya.

“Rin!” aku melangkah mundur melihatnya membuka apron yang dipakainya. “Ririn! RIN-AH JANGAN LARI!” aku berlari menjauh dari café itu. Aku tidak mau bertemu dengannya. Hatiku tiba-tiba terasa sakit kembali. Semua kata-kata tunangan itu menyeruak memenuhi kepalaku. Aku kembali menangis.

“AAAAARRGHH!!” aku berteriak sekeras mungkin sambil tetap berlari tanpa tujuan yang jelas dan menabrak semua yang berada didepanku. Suara teriakannya makin tenggelam tak terdengar. Kenapa disaat seperti ini aku malah bertemu dengannya. Tidak adakah hal lain yang.. setidaknya.. tidak lebih menyakitkan dari melihatnya? Aku lebih baik tertabrak oleh mobil daripada melihatnya. Melihat wajahnya, namja.. yang kucintai.. memikirkannya dan pertunangan itu saja sudah membuatku sakit bukan main. Biarkan aku mati saja!

BRUK!

“sa—sakit..” aku masih saja menangisi sakit hatiku. Bukan sakit karena menabrak orang didepanku.

“hei, apa kau tidak apa?” orang itu mengulurkan tangannya padaku. Aku menengadah. Namja.

—end of part 2

Advertisements

5 Comments

Leave a Comment
  1. lovelyminbi / May 31 2012 9:13 pm

    hmm.. ini bukan sequel kan?
    hahaaha.. gud gud.. marah-marahnya kurang tu.. kurang sedikit nggreget..
    kata-kata ummanya yang kurang nggreget.. tapi sampek akhir bagus kok hahaha..

    • hachidarksky / May 31 2012 9:18 pm

      mau tak buat sequel ta? kkk
      ini belum selesai kok..
      kira2 sampe part 3 ><
      ihiks.. part 3 rate M ah~ #plak

      kurang ya marahnya?
      umma sudah males marah2 mungkin(?) XD

      gomawo saranghaeyo~~ :**

  2. Waaaaah..
    siapa tuh yg ditabrak Rin?
    Kyupil? gak mungkin? lalu siapa?
    argh.. penasaran nih!!
    pintar nih Author nge’ T.B.C tepat disitu!! iihh #gebukin Author.

    Itu jangan-jangan Rin mau di tunangkan dengan Kyupil ya? #plaak *sok tau
    Chapter berikutnya buatin NC’annya KyuRin dong~~ #Yadong Kumat *tapi Maksa*
    Jadi biar mereka bener-bener tidak terpisahkan *apadah*

    kajja!! aku tunggu lanjutannya KyuRin!!! #teriak pake toa
    Hwaiting ^^
    jangan lupa request’anku looh *puppy eyes*

    • hachidarksky / Jun 1 2012 11:17 am

      yang ditabrak rin adalaaah..
      jeng jeenng..
      namja *ditabok* XD

      kamsa unni :3

      atau mungkin dia akan ditunangkan dengan namja tersebut…………. XD

      romaNCe ya? hmm.. dipertimbangkan (??) XD

      ne! hwaiting!
      ok! saya tidak akan lupa request anda! XD

  3. nindityawardani / Oct 24 2012 6:20 pm

    Keren. Dari part 1 mpe 2 cukup bgus. Meski cepet bnget alurnya 😀

Leave some Advice :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: