Skip to content
June 2, 2012 / hachidarksky

Sparkling You (PART 3-final) | [ Cho Kyuhyun and Park Ririn Fanfiction ]

author : hachidarksky

genre : parted, romance, fanfiction, slice of life

language : Indonesian

cast : Cho Kyuhyun, Park Ririn (@hachidarksky), Heo Jinri (oc)

part : Sparkling You PART 1 | Sparkling You PART 2 | Sparkling You PART 3-final

previous story :

“Ririn?” aku terkejut dan melihat darimana arah suara itu datang. Dia menatapku dengan tatapan tidak percaya. Tidak. Aku tidak mau bertemu dengannya.
“Rin!” aku melangkah mundur melihatnya membuka apron yang dipakainya. “Ririn! RIN-AH JANGAN LARI!” aku berlari menjauh dari café itu. Aku tidak mau bertemu dengannya. Hatiku tiba-tiba terasa sakit kembali. Semua kata-kata tunangan itu menyeruak memenuhi kepalaku. Aku kembali menangis.
“AAAAARRGHH!!” aku berteriak sekeras mungkin sambil tetap berlari tanpa tujuan yang jelas dan menabrak semua yang berada didepanku. Suara teriakannya makin tenggelam tak terdengar. Kenapa disaat seperti ini aku malah bertemu dengannya. Tidak adakah hal lain yang.. setidaknya.. tidak lebih menyakitkan dari melihatnya? Aku lebih baik tertabrak oleh mobil daripada melihatnya. Melihat wajahnya, namja.. yang kucintai.. memikirkannya dan pertunangan itu saja sudah membuatku sakit bukan main. Biarkan aku mati saja!
BRUK!
“sa—sakit..” aku masih saja menangisi sakit hatiku. Bukan sakit karena menabrak orang didepanku.
“hei, apa kau tidak apa?” orang itu mengulurkan tangannya padaku. Aku menengadah. Namja.

——

“hei, apa kau tidak apa?” orang itu mengulurkan tangannya padaku. Aku menengadah.

“ti—tidak..” seorang namja? Pantas saja rasanya sakit menabraknya.

“benar?” dia menarikku agar berdiri.

“tapi kau menangis?”

“ah? Ini sudah biasa.. hehe” aku harus cepat pergi dari sini. Kalau tidak Kyu bisa menemukanku.

“sudah biasa? Maksudmu?”

“ng.. mian, tapi aku harus pergi sekarang.. mianhae telah menabrakmu” aku membungkuk padanya dan berjalan dengan cepat.

“hei, tunggu!” aku akhirnya berlari lagi. Tolong, biarkan aku sendiri!

“BERHENTI!” aku terkejut karena namja itu berteriak padaku. Aku sedikit kesal. Bisa-bisanya baru bertemu dan meneriakiku.

“ada a—“ aku tertegun dengan apa yang kulihat.

“PARK RIRIN BERHENTI!” K—Kyuhyun. Aku segera berbalik dan mulai berlari lagi. Wae dia bisa mengejarku! Ini karena aku menabrak namja itu, aku jadi terpaksa berhenti!

“KUMOHON JANGAN KEJAR AKU!” aku berteriak sebisaku.

“WAE?!” dia menarik pundakku dan membalik badanku. Dengan cepat dia memelukku erat.

“lepaskan aku!” aku mencoba melepas pelukannya yang terasa menyakitkan.

“tidak sebelum kau menjelaskan semuanya padaku”

“lepaskan!” aku mendorongnya sekuatku. Tapi dia namja. Apa dayaku melawannya.

“kenapa kau meninggalkanku!”

“Kyu! Sakit!” aku meraung kesakitan. Pelukannya benar-benar kuat. Dia menyakitiku.

“hei, lepaskan yeoja itu” itu, suara namja yang tadi.

“siapa kau? Jangan ikut campur”

“tapi dia menangis”

“me—“ Kyuhyun tiba-tiba melepas pelukannya. Raut wajahnya yang tadinya sangat kasar berubah menjadi lembut luar biasa. Aku merasa.. sakit..

“sakit..” aku terjatuh lunglai di trotoar.

“mianhae Rin.. maafkan aku.. kumohon..” dia mengelus pipiku pelan. Menghapus airmataku.

“wae” aku menepis tangannya.

“mianhae..”

“wae kyu! Jelaskan.. semuanya padaku.. tentang hidup ini..” aku menangis makin keras.

“kumohon jangan menangis lagi..”

“kau namja babo!” aku berdiri dan mulai berlari lagi.

“Rin! Jebal!!”

Aku berlari kembali tanpa arah. Kurasa dia sudah tidak mengejarku lagi. Atau setidaknya, aku sudah menghilang dari kejarannya. Aku berhenti di sebuah café yang, terpencil. Cukup sepi untuk café yang lumayan bagus desain interiornya. Seorang pelayan mendatangiku.

“permisi nona, untuk dua orang?”

“du—dua?” aku menoleh kebelakang, dan yang terlihat adalah namja itu, namja yang tidak sengaja kutabrak tadi. Dengan nafas yang benar-benar tidak teratur.

“ne, tolong dua..” jawabnya.

“ta—“

“sudahlah, ayo duduk”

“apa yang kau..”

“duduk” aku akhirnya duduk berhadapan dengannya. Dia namja yang cukup.. muda?

“jadi.. kenapa kau mengejarku?”

“tidak tahu” dia tersenyum padaku. Hm. Kurasa wajahku sangat datar sekarang.

“wae?” tanyaku lagi.

“mungkin karena, aku tidak suka melihat yeoja menangis” standar.

“ah..” aku sedikit muak. Semua namja sama. Lebih baik aku menjadi yeoja suram di kampus seperti biasanya.

“jadi namamu Ririn?”

“ne”

“aku Jinri, Heo Jinri” dia mengulurkan tangannya.

“baiklah, salam kenal” aku hanya membungkuk pelan.

“hm.. tadi siapamu?”

“kenalan” aku memalingkan wajahku.

“hanya kenalan? Kalian tidak terlihat seperti itu?”

“lihatlah seperti itu”

“hm, sepertinya aku salah mengajakmu bicara sekarang.. bagaimana kalau besok? Aku tau tempat bagus”

“mian, aku tidak bisa”

“ayolah, ririn-ah” aku terkejut dengan panggilannya yang mendadak jadi sok akrab itu.

“ririn-ah? Kau, umur berapa?”

“tidak bolehkah? Aku SMA, kelas 3”

“SMA??” aku hampir berdiri mendengarnya.

“ne, apa kau bukan SMA?”

“kuliah”

“noona! Tidak mungkin.. hahahahah”

“ne, noona” mungkin moodku memang sudah hancur. Aku tidak tertawa sama sekali.

“ya, noona, oke? Besok kita ketemu disini” dia berdiri dari duduknya.

“tapi aku—“

“oke, dah noona” dan dia pergi.

“dia..” aku menunduk dan menggebrak meja.

“nona.. tidak apa?” aku melihat pelayan yang, juga masih muda itu menatapku.

“tidak apa.. maafkan aku” aku akhirnya berdiri dan meninggalkan café itu. Aku harus cari jalan lain untuk kembali ke mobilku, tanpa melewati Kona itu.

Aku akhirnya jalan berputar melewati gang-gang kecil dan akhirnya sampai, tepat di sebelah Kona. Omona. Apa ini akan menjadi hari sial keduaku. Aku berjalan menuju mobilku tanpa menoleh sedikitpun. Tegap tanpa ragu. Menuju mobil biru yang tidak jauh dari café itu.

“Leaf!” aku akhirnya masuk ke mobilku dan mulai menjalankannya kembali. Melihat ke arah spion, memastikan tidak ada yang mengikutiku. Dan aku baru sadar. Aku meninggalkan iphoneku di kursi. Aigo. Untung saja tidak diambil orang.

“tapi, kalau diambil juga.. tidak.. jangan..” aku meraih iphoneku dan terpampang banyak sekali misscall dan sms darinya. Ahahah.. berhenti menangis, Rin.

“babo” aku menaruh iphoneku disaku celana dan melanjutkan perjalananku.

Baiklah.. sekarang aku harus tidur dimana.. aku bahkan tidak membawa uang. Hanya bisa untuk membeli fastfood dua kali dan hotel bintang 2 satu hari. Uh. Uangku. Mungkin sebaiknya aku cari part-time. Kalau begitu, aku harus membeli koran.

Aku akhirnya pergi ke toko kecil untuk membeli sebuah koran. Di dalam mobil aku mencari lowongan kerja dengan bantuan lampu kecil dalam mobil. Benar-benar susah melihat dalam keremangan ini. Mungkin sebaiknya aku mencari hotel dulu. Atau aku tidur di mobil dulu saja hari ini. Sudah malam. Aku capek. Hari yang melelahkan.

-ccc-

“omona, badanku sakit semua” kalimat pertama yang terucap ketika aku bangun. Ya. Badanku sakit semua. Tidur didalam mobil itu tidak enak. Apalagi kalau salah posisi.

“lalu…. Bagaimana aku mandinya? Aigo..” aku kembali ke kursi depan dan memakai seatbeltnya.

“Untunglah aku masih punya tenaga untuk membereskan kertas-kertas itu tadi malam” Aku menghela nafas panjang dan mulai menyalakan mesin mobilku.

“hmm.. yasudahlah, cari kerja.. cari kerja..” aku membuka koran kembali. “menghitung jumlah kendaraan? Sepertinya mudah.. aku coba ah. Hanya sampai sore juga..”

Akhirnya aku pergi ke Dosan Park. Tidak jauh.. aku dulu sering kemari bersama.. keluargaku. Hahah.. keluargaku.. baiklah, lupakan kenangan itu. Aku disini untuk kerja, mencari uang. Aku akhirnya bertemu dengan ahjumma yang memasang iklan itu. Dia memberiku alat penghitung kendaraannya.

“setiap kendaraan lewat, tolong kamu pencet ya”

“ah, ne baik” aku membungkuk dan akhirnya duduk dikursi yang sudah ada.

“ah, anu.. boleh aku permisi sebentar? Aku mau ke kamar mandi”

“oh, silahkan.. dimulai jam 10 saja kalau begitu” aku membungkuk berkali-kali dan akhirnya mencari kamar mandi umum. Ya, setidaknya aku harus mencuci mukaku, kan. Setelah itu baru aku akan mengerjakannya dengan semangat!

Akhirnya setelah mencuci muka dan menyisir rambutku dengan jariku, aku bergegas kembali ke tempat kerja part-time ku tadi. Aku berhenti karena lapar yang melnada. Uh. Tadi malam aku tidak makan. Akhirnya aku mencoba mencari penjual makanan. Apa ada ya sepagi ini? Tapi ini sudah hampir jam 10, masa’ tidak ada.

“hotdog!” yaa~ makanan.. akhirnya. Aku akhirnya membeli dua, tentu saja untukku sendiri. Aku kelaparan. Kronis.

Setelah akhirnya menghabiskan kedua hotdogku yang lumayan memenuhi perutku, aku kembali juga ke tempat part-time ku.

“mohon kerjasamanya” aku dan ahjumma itu sama-sama menunduk dan duduk. Baiklah. Pekerjaanku dimulai~ kerja pertamaku~.

Selama satu jam penuh, aku dan ahjumma banyak berbincang. Ya, beliau cukup menyenangkan. Belum banyak juga kendaraan yang lewat, jadi, perbincangan kami lancar-lancar saja. Tapi makin siang, kendaraan yang lewat makin banyak. Omona. Apa karena sudah waktunya makan siang? Uh. Aku lapar juga..

“Ririn-sshi, kita istirahat makan siang dulu, ne”

“ba—baik” aku berdiri dan membungkuk padanya. Makan siang? Apa akan diberi makan? Sepertinya tidak sih.. ya, aku berharap terlalu banyak.

“ini Ririn-sshi” hwo! Makan siang.. gratis.. hiks.

“oh, ada apa? Kenapa kau menangis?”

“tidak, tidak apa.. mataku kemasukan debu.. hehe” aku mengusap airmataku.

“selamat makan” kami berdoa sebentar dan memulai makan siang kami. Sederhana, tapi enak. Oishii~ ah, kebiasaan bahasa jepangku.. hahahah.

“Ririn-sshi, setelah makan siang ini, kita istirahat sebentar, lalu melanjutkan peghitungan sore hari..”

“baik” aku tersenyum dan melanjutkan makanku.

Aku menghabiskan makanku perlahan. Sebuah makanan gratis dengan uang yang terbatas dikantongku itu harus dihargai tiap suapannya. Walaupun makanan kotak ini ada sayurnya, untuk kali ini saja. Aku harus menghargainya. Yang penting makan! Ne!

Akhirnya setelah selesai makan, aku dan ahjumma beristirahat sebentar dan berbincang-bincang lagi. Pembicaraan kami mulai random. Mulai dari makanan kesukaan hingga gosip artis. Semua kami bicarakan. Yeoja kalau bertemu memang seperti ini kan. Hahahah.

“oh, kita berbicara terlalu banyak, sebaiknya kita kembali bekerja” ahjumma tertawa dan membereskan kotak makanan.

Baiklah, kerja lagi.. ayo kerja lagi.. sudah sedikit sepi, jadi bisa sedikit santai.

“…” aku menguap perlahan. Pekerjaan ini memang tidak terlalu melelahkan.. tapi sedikit membuatku mengantuk. Setiap kendaraan lewat aku memencetnya. Klik. Klik. Klik. Omona. Aku tidak sengaja menghitung orang bersepeda.

“Ririn-sshi, konsentrasi.. hahaha”

“ehehe.. mian..”

“satu jam lagi selesai kok” aku dan ahjumma tertawa bersama dan melnajutkan kerja kami.

——

“terima kasih Ririn-sshi untuk hari ini.. ini bayarannya” ahjumma yang sangat baik hati itu memberi amplop padaku. Yaampun, uang!

“sa—sama-sama..” aku membungkuk padanya. “terima kasih atas pekerjaannya” aku tersenyum pada ahjumma itu dan dia menepuk pundakku pelan.

“hati-hati pulang kerumahnya ya”

“ne..” aku tersenyum simpul. Pulang kerumah?

“annyeong” dan akhirnya dia pergi.

“uang! Tidak terlalu melelahkan pekerjaannya.. hmm.. uangnya juga tidak banyak.. tapi worth it lah.. sebaiknya aku makan sekarang. aku sudah lapar lagi..”

Aku akhirnya menyetir mobilku kembali. Dan tanpa sadar aku menyetir menuju café kemarin sore. Café tempat aku beranji pada Jinri. Tidak, dia yang memaksaku berjanji padanya. Aku akhirnya turun dari mobilku dan ternyata, Jinri sudah ada disana.

“noona!”

“ne..” aku berjalan pelan kearahnya dan duduk.

“noona datang!”

“tentu saja, babo. Bagaimana bisa aku meninggalkan janji yang sepihak seperti itu”

“hehe.. noona, apa kau tidak pulang kerumah?”

“mwo? Wae?”

“kau tidak mengganti bajumu” dia menunjuk bajuku yang memang dan pasti, tidak berganti sejak kemarin.

“ah, ne.. begitulah”

“kau, kabur dari rumah?”

“mwo? Ba—bagaimana kau bisa tahu?”

“dari sikapmu kemarin sih, seperti itu” dia tertawa kecil.

“kenapa kau tahu sih..” aku berdecak sebal karena tawanya. Sial anak kecil ini.

“sudah punya tempat menginap?”

“belum, hari ini aku part-time dan mendapat uang.. setidaknya aku bisa beli baju mungkin”

“aku punya kenalan yang bisa meminjamkanmu baju, lebih baik uangnya kau buat menginap saja dulu. Dan makan” dia tertawa lagi.

“hentikan tawamu itu, Jinri-sshi!” aku menarik pipinya, mencubitnya.

“adududuh!”

“huh.. dasar”

“kalau begitu, kau beli makanan saja dulu, aku akan ambil baju dari kenalanku. Rumahnya dekat sini. Tunggulah”

“ne, baiklah..” mungkin dia namja yang cukup baik. Setidaknya, aku tidak memiliki perasaan padanya. Hatiku sudah tertutup rapat untuk masalah cinta. Dan dia lebih cocok menjadi adik.

“permisi, aku pesan yang ini” aku menunjuk menu dan pelayan itu membungkuk padaku.

“apa kabar iphoneku..” aku mengambil iphoneku. Dan terkejut. Misscall dan sms yang menumpuk tidak bisa biasa. Dan 100% dari Kyuhyun-sshi.. Kyuhyun.. sshi..

“noona!” aku kaget dan menoleh kearah datangnya suara itu. Jinri datang dengan tas kecil. Kurasa itu isinya baju.

“cepat sekali”

“tentu saja, Jinri!” dia tertawa kembali. Sebenarnya tawanya hampir mirip dengan Kyu.. hanya saja, Kyu lebih evil.

“tapi maaf kalau jelek ya”

“mwo? Tidak apa..”

“ah ya, noona! Dan aku menemukan part-time bagus! Uangnya banyak lo”

“benarkah? Dimana?”

“nanti aku tunjukkan padamu, makan dulu saja”

“baiklah” ya~ dia namja yang baik.. sudah menjadi teman bicaraku, meminjamkanku baju.. dan sempat-sempatnya mencarikan pert-time untukku!

“jangan buru-buru.. masih lama mulai kerjanya.. hahaha” aku akhirnya tersenyum untuknya.

Selagi aku memakan makananku, aku hanya melihatnya sesekali. Dia banyak sekali berbicara. Kadang tidak penting sih, tapi ada juga yang aneh. Eh, itu juga tidak penting ya?

“Jinri!” aku menoleh kearah suara yang memanggilnya. Namja lagi.

“yaa! Apa kabar!” mereka saling berpelukan. Sepertinya teman dekat.

“apa dia yeojachingumu?”

“ani!” aku menjawab dengan cepat.

“hahahah.. ne, bukan kok”

“hwo, sayang sekali, padahal dia cantik” aku menatap namja itu datar. Ya, anak kecil diamlah.

“ne, noona satu ini memang cantik, tapi dia galak”

“noona?”

“dia sudah kuliah lo!”

“tidak mungkin! Kukira dia setahun dibawah kita” ish. Maaf deh kalau kalian sampai berpikir begitu. Bukan salahku ya.

“ne Jinri, apa kau berniat melakukan hal itu?”

“tidak tahu, mungkin..”

“sayang sekali, lebih baik jadi milikmu saja” apa yang dua namja ini bicarakan? Pembicaraan yang super absurd. Dan, untuk apa juga aku dengarkan.

“lalu, sebenarnya apa yang kau lakukan disini? Bukan untuk menemuiku tentunya”

“hahah! Tentu saja mencari kerja” kerja? Kerja apa? Apa mudah? Aku mau tahu.

“jadi kau kemari bukan karena melihatku ya?”

“hahahah.. kau yang kulihat kedua tadi”

“maaf, tapi aku duluan” mereka berdua tertawa. Oke. Aku makin tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

“apa yang kalian bicarakan?” aku akhirnya menyela tawa mereka.

“part-time kami”

“ah..” aku kembali melanjutkan makanku. Spertinya part-time anak SMA jaman sekarang sedikit aneh? Ya terserahlah.

“baiklah, aku cari yang lain.. selamat bekerja!” akhirnya namja itu meninggalkan kami berdua lagi. Makanku sudah selesai. Sekarang Jinri menatapku dengan tatapan yang aneh.

“apa?”

“mwo? Tidak” dia memalingkan wajahnya. Aneh. Raut wajahnya tadi antara.. suka, iba, kecewa, dan sekarang wajahnya merah?

“jadi, bagaimana kerjanya?”

“kerjanya nanti malam.. bagaimana kalau kita pergi dulu?”

“mwo? Kalau kau mentraktirku, aku fine”

“baik noona pelit” dia menjulurkan lidahnya dan berjalan keluar café. “ayo!”

“ne ne aku membayar dulu” aku akhirnya membayar makananku dan keluar mengikutinya.

“kita mau kemana?”

“ke.. Cheongdam Park”

“baiklah..” Cheongdam Park ya? Aku lupa yang mana..

Akhirnya kami pergi berangkat dengan mobilku. Dia membawa motor, tapi ya, katanya dia mau mencoba naik mobilku, atau bersamaku. Aku tidak tahu. Sebenarnya dia cukup menyenangkan, sih. Hanya saja aku.. tidak terlalu suka. Dia hampir mirip dengan Kyu. Dan aku tidak suka ada yang menyamainya. Tapi walaupun mirip, Jinri tidak mempunyai apa yang dimiliki Kyu.. yaitu sebuah Kilauan yang.. entah darimana asalnya. Kyuhyun itu sebenarnya.. namja yang sangat.. berkilau.

“noona, kita sudah sampai!!” dia mengejutkanku dan aku langsung menginjak remku.

“ya! Waeyo kau mengagetkanku!”

“karena kalau tidak, kita akan kelewatan” dia menunjuk tempat parkir.

“aigo. Begitu saja sampai harus mengagetkanku”

“sudah, galak sekali sih.. ayo kita cepat turun”

“ne ne..” menuruti namja kecil sok memerintah itu menyebalkan.

Kami berdua akhirnya berjalan-jalan mengelilingi Cheongdam Park, sebenarnya dia yang sangat semangat, aku sih biasa saja. Dia banyak sekali bertemu dengan teman SMAnya dan kenalannya. Dia mondar-mandir kesana kemari. Benar-benar seperti anak kecil. Aku sedikit heran dengan kelakukannya. Namja kecil yang aneh.

“ne, noona!” dia melambaikan tangannya di depan penjual es krim. Dia cukup jauh dariku. Dia sangat.. seperti.. seperti anjing yang sedang bermain kejar-kejaran dengan majikannya.

“apa?”

“kita beli ini ya?”

“terserah kau saja, kenapa harus tanya aku dulu sih!” aku akhirnya menghampirinya.

“ini untuk noona” dia memberi es krim coklat untukku.

“kamsa”

“ne!” dia berlari lagi dan duduk di bangku yang cukup rindang. Tapi sekarang sudah sore, tentu saja rindang.

“ya, kau ini seperti anak kecil saja”

“hehe.. aku tidak pernah jalan-jalan dengan seorang noona..”

“mwo? Memangnya kau tidak jalan-jalan dengan keluargamu?”

“aku hanya dengan appa sekarang” aku terdiam mendengarnya.

“ah.. mianhae..”

“ne, tidak apa.. aku anak tunggal, appa juga selalu sibuk sendiri.. jadi aku merasa senang sekali bisa berjalan-jalan seperti ini dengan noona”

“mwo? Ya.. baiklah..” hm, ternyata kehidupannya cukup mellow.. hampir sepertiku? Tidak.. kurasa dia lebih kesepian.. tapi dia punya banyak sekali kenalan, sedangkan aku.. hahah.. jadi siapa yang lebih kesepian? Tapi wajahnya terlihat lebih kesepian dariku sekarang. Mungkin aku sudah memberinya waktu untuk merasakan rasanya mempunyai saudara.. baiklah.. aku baik sekali.

“ah, sebentar lagi sudah waktunya part-time!” dia melihat layar handphonenya dan memakan eskrimnya dengan cepat.

“mwo? Baiklah, kita langsung dengan mobilku?”

“kita kembali dulu ke café yang tadi.. motorku ada disana, kan”

“ah, ne.. hahaha” akhirnya kami berjalan kembali menuju mobilku. Dan kembali ke café tempat kita bertemu tadi.

——

“ya, ayo naik motorku saja noona” kami sudah sampai di café yang tadi, dan tiba-tiba dia menanyakan hal itu. Waeyo?

“mwo? Aku dengan mobilku saja.. bolehkan?”

“ng.. baiklah..” raut wajahnya seperti tidak memperbolehkan, tapi.. entahlah.

“jangan ngebut ne”

“makanya noona naik motorku saja”

“tidak, aku akan pergi dengan mobilku” aku menyedekapkan tanganku. Sebenarnya ada apa ini?

“baiklah noona” akhirnya dia turun dari mobilku dan segera memakai helmnya lalu menyalakan motornya, dan aku masih tetap dengan mobilku tentu saja.

Dia mulai menjalankan motornya dan di belokan pertama, dia menghilang dari pandanganku. Aku sampai bingung, apa mau anak ini. Sebenarnya dia niat membantu tidak sih. Ah. Kurasa itu dia! Aku akhirnya mengikuti motor itu kembali. Omona. Aku harus melewati Kona lagi? Tidak adakah rute lain? Aku menekan pedal gasku dan ikut ngebut bersama motor besar hitam legam Jinri.

Tidak lama kami pun keluar dari area apgujeong-dong ini. Sebenarnya tidak keluar mungkin, hanya saja, tempat ini sedikit sepi. Kerja apa ditempat sepi seperti ini?

“noona” dia sudah melepas helmnya dan melambaikan tangannya padaku. Dia berdiri di depan motel kecil.

“Jinri-sshi, kerja? Mananya?”

“ya, disini kau bisa mendapat tempat tidur dan kerja sekaligus! Keren kan!”

“ng.. baiklah..”

“kenapa? Noona tidak percaya padaku?”

“tidak.. aku percaya kok..”

“noona memang orang baik” dia tiba-tiba memelukku. “tapi noona..”

“ne?”

“tidak.. ayo” dia berjalan dan tiba-tiba membungkuk pada resepsionis. Oh. Apakah aku sudah dipesankan? Keren sekali. Kurasa Jinri punya banyak kenalan.

“ini noona, 314” hyaa.. nomornya kamarnya sangat keren.. maret.. 14.. aku menatap Jinri.

“terima kasih” aku tersenyum padanya, dan wajahnya tertegun. Ada apa?

“Hanri ya?” tiba-tiba saja ada namja lain yang keluar dari kamar itu. A—siapa?

“ne” Jinri mengulurkan tangannya.

“oh, kau mendapat noona yang bagus?” dan Jinri hanya mengangguk pelan.

“cepatlah”

“baiklah, kerja bagus untuk hari ini” dia memberikan uang pada Jinri. Jinri hanya menatapku datar. Tidak. Iba.

“Mian noona, dunia ini keras” dan meninggalkanku yang terdiam ditempat karena ucapannya.

“JINRI!!”

“ya, baiklah.. hati-hati di jalan Hanri” aku bergetar hebat. Apa ini sebenarnya. Apa yang terjadi? Siapa namja ini? Kenapa Jinri dipanggil Hanri? Kenapa Jinri meninggalkanku? Wae?

“ka—kau siapa?”

“hahahah.. Hanri memang hebat.. masuklah yeoja”

“tidak mau”

“benar?” dia menarikku kedalam secara paksa.

“lepaskan aku!”

“yah, tidak bisa yeoja, kau sudah datang kemari.. jadi, kau harus menemaniku” me—me-apa? Apa maksudnya?

“Kumohon lepaskan aku..”

“ya, suara yang bagus”

“lepaskan!!” aku memukul perutnya dan wajahnya. Dan berlari menuju pintu.

“kau tidak bisa keluar, ini kuncinya”

“Jinri! Tolong!” aku menggedor pintu dengan gaduh. Siapa saja, tolong aku.

“hm, Hanri memang hebat, bisa menemukan yeoja sepolos ini..” aku berbalik dan tidak tahu apa yang harus kulakukan. Namja ini.. besar.

“kumohon.. jangan” aku berlari menjauh darinya. Kamar ini cukup besar. Aku harus menghindari darinya. Apa yang hendak ia lakukan padaku. Kumohon. Siapapun. Jinri.. Kyu..

“yap, kau tidak bisa lari kemana-mana lagi, yeoja” dia menangkap tanganku dan memojokkanku.

“andwe! Jebal!” aku mulai menangis. Menangis dengan cukup keras.

“menangislah”

“Kyu—hmphm!!” tidak. Kumohon. Ciuman terakhirku dengan Kyu..

“hmph!! Lepask—kan!!” aku menendang perutnya dengan kakiku sekuat tenaga. Dai meringkuk kesakitan.

“kau, kuat juga yeoja”

“JEBAL!! KYUHYUN-AH!!” aku akhirnya masuk ke kamar mandi. Satu-satunya tempat yang bisa kupakai untuk berlindung. Aku masih bergetar tanpa henti. Aku mengambil iphoneku. Dan semua terasa berputar. Aku tidak bisa.. aku ingin pulang.. Kyuhyun.. ah..

“yeoja-ya.. kalau kau tidak membukanya, aku akan mendobraknya secara paksa” dia tetap menggedor pintu kamar mandi yang sudah aku kunci. Aku duduk dipojok kamar mandi. Bersembunyi sebisaku. Berharap dia datang menjemputku.. walaupun ini sudah terlambat.. Kyu..

——

CHO KYUHYUN

Sial kemana perginya dia! Aku kehilangannya. Bagaimana bisa aku kehilangan mobil dengan warna biru menyala seperti itu! Dia juga tidak mengangkat telponku. Aish. Ririn-ah, jawab aku.

“apa mungkin masuk ke jalan ini? Ah mwo! Itu mobilnya” aku langsung membanting setirku dan memarkirkan mobilku seadanya di depan mobilnya. Aku menghampiri mobil biru itu dan mencoba melihat kedalamnya. Iphonenya tidak ditinggal, dan jok belakangnya cukup bersih. Dia benar-benar tidur di mobil. Dan sekarang dia dimana? Dari semua gedung disini, apa mungkin dia masuk ke—

“tidak mungkin” aku berlari masuk kedalam motel yang benar-benar.. aish. Apa yang dia lakukan didalam sini.

“KAU!” aku menghampiri namja yang hanya sepundakku itu, yang mengejar Ririnku saat itu. Dia.. Kurasa dia hendak pergi dari sini. “mana dia!”

“dia?”

“jangan berpura-pura tidak tahu” aku meraih kerah bajunya.

“si—siapa!” aku akhirnya menghajarnya.

“Ririn”

“noo—noona?” dia tergagap dengan memgang mulutnya yang sudah mengeluarkan darah.

“benar, dimana dia”

“dia.. dia di.. maaf aku.. aku lupa” dia memalingkan wajahnya dariku.

“kau benar-benar..” aku hendak memukulnya lagi. Dan kali ini. Dengan semua amarahku.

“lantai tiga!” dia berteriak tertahan dan tentu saja. Aku tetap menghajarnya.

“ikut aku, tunjukkan kamarnya” aku akhirnya, masih dengan memegang erat kerah baju namja kecil ini, berjalan dengan cepat menaiki tangga. Sampai terjadi sesuatu padanya. Mereka benar-benar akan kubunuh.

Aku menaiki tangga dengan cepat. Setiap lantai banyak sekali orang yang memperhatikanku. Mungkin aku terlalu berisik dibawah tadi. Tapi terserah. Ini urusanku. Oh. Dan mungkin mereka melihatku dengan tatapan itu karena aku membawa namja kecil ini dengan seenaknya.

“hyung, kumohon lepaskan aku”

“hyung? Siapa yang memperbolehkanmu berbicara?”

“biarkan aku berjalan sendiri atau polisi akan datang karena panggilan motel ini”

“dan kau akan lari? Tidak” aku masih tetap menyeretnya hingga sampai di lantai tiga.

“tunjukkan kamarnya” aku melepas cengkeramanku dan membiarkannya berjalan terhuyung mencari kamar itu.

“kalau tidak salah ini” aku langsung membuka kamar itu. Kosong. Aku menatapnya kembali.

“kau mau membohongiku? Sebenarnya apa yang kau lakukan padanya!” aku menggeledahnya dan menemukan segenggam penuh uang.

“kau.. menjualnya” aku meremas uang itu.

“ti—tidak hyung, aku.. aku disuruh”

“demi uang, hah” aku merobek uang itu didepannya satu persatu.

“h—hyung!!”

“katakan dimana dia”

“314!!”

“apa susahnya” aku masih tetap menariknya. “apa kau ya—“

“JEBAL!! KYUHYUN-AH!!”

“kurang ajar” aku menghajar namja kecil itu dan kurasa dia pingsan. Aku mencoba membuka pintu itu. Sial. Di kunci.

“RIN-AH!!” aku mencoba membukanya secara paksa. Tiba-tiba aku merasakan getaran dalam saku celanaku. Selagi aku mencoba membuka pintu ini, aku menjawab telpon itu tanpa melihatnya.

“SIA—“

“K—Kyu..”

“Rin!! kau tidak apa?!”

“Kyu.. mianhae.. saranghae.. mian..” aku bisa merasakan suaranya yang bergetar hebat. Dia.. dia menangis.

“Rin! kau tetaplah di—“ tiba-tiba sambungan ini mati.

“AISH!! RIN-AH!!”

BRAKK

“yeoja, aku akan mendobraknya sekarang. waktu ha—siapa kau!”

“kau.. apa yang kau lakukan padanya..” aku bisa melihat ruangan yang berantakan ini. Jaket bulunya.. ada diatas kasur. Aku berjalan kearah namja yang berada di depan pintu kamar mandi itu.

“aku bertanya, siapa kau” namja yang hampir sama besarnya denganku itu berhenti menggedor kamar mandi itu. Pasti dia disana. Tapi aku akan menghabisi namja ini terlebih dahulu.

“aku? Hanya namja yang sedang mencari yeoja milikku”

“yeoja milikmu? Yeoja ini? Dia milikku. Sebaiknya kau mundur, dan mencari yeoja lain dari Hanri. Mungkin kau akan mendapatkan yeoja polos yang bagus juga darinya”

BUAKK

“dia, milikku” aku memberi evilglareku padanya. Sedikit mempan. Tapi tidak lama. Aku mundur beberapa langkah, untuk membuatnya menjauhi pintu kamar mandi itu. Setidaknya aku tidak ingin dia mendengar kegaduhan yang akan terjadi setelah ini.

——

PARK RIRIN

Dalam ketakutan yang hebat, aku menggenggam erat iphoneku. Berusaha mencari nomernya. Untuk menekan tombol dial saja aku membutuhkan tenaga yang banyak. Aku bergetar terlalu hebat. Aku takut. Aku tidak mau berakhir seperti ini. Aku ingin bertemu dengannya sekali saja. Mendengar suaranya untuk terakhir kalinya.. kumohon.. angkatlah..

“SIA—“

“K-Kyu..” airmataku mengalir kembali mendengar suara amarahnya. Ini salahku. Semua salahku.

“Rin!! kau tidak apa?!”

“Kyu.. mianhae.. saranghae.. mian..” aku masih menangis tanpa henti. Untuk kali ini saja. Jangan hentikan tangisanku. Maafkan yeoja babo satu ini yang selalu menangis.. terima kasih atas semua yang kau lakukan untukku.

“Rin! kau tetaplah di— bzzt“ sambungannya terputus secara tiba-tiba. Aku hanya menatap layar iphoneku dengan pandangan kosong. Mian saranghae.. Kyuhyun-ah..

“yeoja, aku akan mendobraknya sekarang. waktu ha—Sia—!” aku meringkuk dalam. Aku tidak tahu. Aku tidak mau tahu. Lebih baik aku mati saja sekarang. Kyu, mianhae..

Tiba-tiba sunyi menghampiri. Tidak ada suara pintu yang diketok dengan paksa. Semuanya menjadi diam tanpa sebab. Aku mendengar suara barang-barang yang berbenturan. Dan suara, pecahan kaca. Tapi aku masih tetap menangis. Lebih baik aku sudah disurga sekarang.

BRAKK!!

Baiklah.. aku mati sekarang.

“RIN!”

“pergi!! Jebal! Aku tidak mau!! Kau telah merebut ciuman terakhirku.. dengan Kyu..” aku menangis dan mulai memberontak. Melempar semua yang ada di kamar mandi pada namja itu.

“Rin! ini aku!” pandanganku kabur. Tapi orang ini entah mengapa.. terlihat begitu.. bersinar dimataku. Siapa..

“Kyu..?”

“mianhae Rin.. maafkan aku..” dia memelukku erat. Aku makin keras menangis.

“Kyu.. Kyuhyun..” aku balas memeluknya. Bajunya sangat lusuh. Tidak seperti Kyuhyun-ku yang selalu rapi..

“maaf.. menangislah.. maafkan aku..” dia mengusap rambutku pelan. Kyuhyun..

“wae kau.. ada disini..”

“aku.. mengikutimu..” aku bisa merasakan tubuhnya yang bergetar hebat. Apa dia menangis?

“apa kau.. menangis..?” aku menengadah, mencoba melihat wajahnya yang sangat kurindukan. Dia benar-benar berantakan. Aku bisa melihat pipinya yang memerah. Apa yang telah dia lakukan?

“apa yang kau lakukan.. Kyu?” aku menyentuh pipinya pelan dan dia hanya meringis kesakitan.

“kau ini benar-benar yeoja yang bisa menghancurkan hidupku.. jangan pergi dariku lagi.. arasseo?” Kyuhyun menatapku tajam tapi aku dapat melihat kerut di keningnya yang benar-benar terlihat cemas.

“Mianhae.. Gomawo.. Arraseo..” aku menangis lagi dan memeluknya lebih erat. Dia benar-benar namja yang bisa membuatku merasakan segalanya.

“saranghaeyo Ririn-ah..” dia mencium bibirku lembut.

“kumohon.. jangan berhenti” wajahnya sedikit terkejut, tapi dia mulai menciumku lebih dalam.

“mianhae..”

“maafkan aku juga Kyu..”

“ayo kita keluar dari sini” dia memakaikan jaket buluku, dan menggendongku.

“K—kyu”

“sudah, kau diam saja..” dia melingkarkan kakiku dipinggangnya dan mulai membawaku keluar dari kamar mandi. Aku hanya bisa melingkarkan tanganku pada lehernya. Dan yang terlihat diluar kamar mandi ini.. kamar yang berantakan, dan namja itu tergeletak di pojok ruangan dengan serpihan kaca yang berserakan. Kurasa, itu yang kudengar tadi.

“apa dia..”

“tidak, hanya pingsan”

“tapi kau..”

“tidak tahu, mungkin karena kau, aku bisa menghabisinya.. hahah” dia mengelus punggungku pelan. “aku sampai harus menghabisinya dengan botol wine tahun 1959 yang masih setengah penuh yang ada di mejanya.. sayang sekali bukan?” dia tertawa pelan.

“dasar kau ini..” aku ikut mengembangkan senyumku karena ucapannya.

“jagi.. pakai hoodiemu ya..” dia menutup kepalaku dengan hoodie jaketku.

“apa Jinri ada..?”

“Jinri? namja kecil satu itu? Hanri maksudmu? Mian, dia juga kuhajar”

“tidak apa.. terima kasih” aku membenamkan wajahku di pundaknya.

“kita naik mobilku saja ya.. nanti mobilmu..”

“ne, terserah kau saja..”

“baiklah putri.. as you wish

“mwo? Hahah.. aku Rin..” aku akhirnya tertawa. Dia bisa dengan mudah membuatku tertawa. Bersamanya memang lebih.. menenangkan.. dan menyenangkan..

“hahahah.. ne.. jangan dengarkan omongan orang-orang disini, oke?” dia mengecup keningku pelan.

Dan dia benar. aku mendengar banyak sekali omongan orang-orang selagi aku dan dia menuruni tangga. Mereka.. mereka tidak tahu keadaan yang sebenarnya. Jangan menjelek-jelekkan dia. Dia melakukan ini untuk menolongku! Berhenti!! Kalian membuatku muak!

“sudah kubilang, jangan dengarkan mereka..” usapan tangannya di punggungku membuat tubuhku yang bergetar karena amarah tenang kembali. Dia benar.. aku tidak akan mendengarnya. Mereka tidak tahu apa-apa.

Akhirnya dia menurunkanku di jok mobilnya. Aku merindukan mobil hitamnya ini. Dia berlari kecil menuju pintu samping dan membukanya pelan.

“annyeong, Ririn-ah.. kita kemana?” tawanya. Dia lalu duduk dan menelpon seseorang.

“annyeong, kemarilah cepat” ucapnya dan kemudian dia menutup telponnya.

“siapa?”

“sopir noonaku”

“ah..” tidak sampai 15 menit, tiba-tiba suara klakson seperti memanggil kami.

“sebentar ne” dia turun kembali dan menghampiri mobil sedan hitam di depan kami. Seorang namja keluar. Ah, kurasa aku kenal namja itu.. dia yang membantuku mengambil mobil saat dirumah Kyu. Eh? Lalu bagaimana dengan sedan hitamnya itu?

“ke rumahku, ne?” dia masuk dan menyalakan mobilnya. Aku melihat ke spion dan melihat mobil sedan hitam itu mengikuti, dan mobil biruku dibelakangnya.

“siapa, di mobil hitam?”

“sopir appa”

“ah.. kalian memang kaya..”

“hahah.. sudahlah” aku melihat ke lampu jalan yang terang. Sudah malam.. bulan sudah berada di puncak. Sangat indah. Hm.. aku lelah..

“Kyu.. aku tidur sebentar ya..”

“ne jagi.. tidurlah” dia sedikit memelankan laju mobilnya. Dan aku.. tertidur.

-ccc-

“panas.. sesak..” aku mencoba meregangkan tubuhku tapi tidak bisa. Seperti tertimpa batu besar dan aku tidak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali.

“siapa..” aku mencoba menengadah. Dan tidak sampai satu centi wajahnya berada di depanku. “K—Kyu!” aku terkejut. Wajahnya.. yang tertidur. aku ingin menyentuhnya.  Tapi aku tidak bisa bergerak!

“hmm.. pagi..” dia bukannya meregangkan tubuh malah memelukku. Sebentar. Apa dia meregangkan tubuh dengan memelukku? Aigo!

“kenapa kita—“

“mwo? Kan kau..”

“aku apa?” aku mencoba mundur.

“kau tadi malam tidak bisa kubangunkan, jadi kugendong saja.. sebenarnya aku mau tidur di sofa.. tapi kau tidak melepas pelukanmu.. jadi, apa itu salahku?” tanyanya dengan senyum evil.

“ma—masa’? kau bohong” aku merah padam. Pasti.

“kau tidak percaya? Kau bahkan masih memakai jaket tebalmu” tawanya.

“mwo!” dia benar. pantas saja panas. Sudah memakai jaket, dipeluk olehnya pula.

“aku ambilkan baju noonaku, gantilah bajumu..” dia bangun dari tempat tidur dan keluar dari kamar.

“gomawo..” aku hanya bisa terduduk di tempat tidur..nya. ini kamarnya? Aigo! Aku dikamarnya? Aku—aku dikamar namja!!

“Rin, ini baju dan handuk..” dia masuk kekamar dan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

“mwoya? Waeyo kau tertawa?”

“kau.. seperti habis.. di.. tidak.. tidak apa.. kau sangat berantakan..” dia masih tertawa dan menyerahkan baju dan handuk itu.

“apa? Aku memang habis dianiaya” aku mem-pout-kan bibirku.

“hahah.. mian..” dia menepuk kepalaku pelan. “sudah sana mandi”

Aku akhirnya masuk ke kamar mandi. Dan dia, keluar dari kamar setahuku tadi.

——

“Kyu..?” aku sudah selsai mandi, sudah selesai semuanya, tapi Kyu tidak ada dikamarnya sama sekali. Dimana dia? Aku mencoba menengok keluar dan aku bisa melihatnya. Melakukan sebuah.. full bows.. pada appanya.

Apa yang dia lakukan? wae dia melakukan itu? Apa yang mereka bicarakan? Aku akhirnya merangkak keluar kamar dan mencoba mendengarkan pembicaraan mereka.

“kau, membawa yeoja kerumah? Baru appa dan umma tinggal dua hari, kau sudah membawa yeoja kerumah?”

“tapi appa, dia—“

“apa kau lupa pada janjimu? Kau sudah berjanji pada kami untuk melakukan pertunangan itu, karena kau masuk ke jurusan postmodern art itu”

“ja—jadi..” aku langsung menutup mulutku. Rin, kau tidak boleh bicara!

“kumohon appa, aku akan keluar dari universitas itu, tolong.. batalkan pertunangan itu”

“tidak bisa Kyu, appa dan keluarga mereka sudah berteman lama.. dan kau kira dengan memutuskan pertunangan ini, semuanya akan tetap biasa saja? Mereka akhirnya menyetujuinya, dan kau menolaknya sekarang? itu sudah terlambat”

“umma..”

“maaf Kyu.. umma tidak bisa membantumu kali ini..”

“kalau begitu, sebaiknya aku tidak berada disini, aku akan pergi saja, bukankah itu lebih baik.. bilang pada keluarga mereka, aku meninggal, dan semuanya selesai”

“a—“ aku terkejut akan keberaniannya.

“kau!”

“aku akan menikah dengannya.. bukan yeoja lain” dia berdiri dan membungkuk pelan. “terima kasih”

“tu—tunggu!” aku akhirnya keluar dari persembunyianku dan menuruni tangga dengan cepat.

“Rin!”

“kau.. yeoja tidak tahu diri”

“maafkan Kyuhyun.. kumohon.. lupakan semua perkataannya.. biar aku saja yang pergi..” aku membungkuk 90 derajat pada kedua orangtuanya.

“tapi Rin—“

“tidak Kyu, cukup aku dan keluargaku yang bermasalah.. kau tidak boleh bermasalah dengan keluargamu juga.. mungkin memang sebaiknya aku mengikuti kata orangtuaku..” aku tersenyum padanya.

“aku.. pamit.. pergi dari sini.. maafkan aku yang lancang..” aku akhirnya berjalan pelan meninggalkan mereka. Kyuhyun memelukku pelan.

“jebal jangan pergi..”

“mian Kyu.. aku harus pergi..” aku akhirnya melepas pelukannya dan membuka pintu besar ini. Haah.. aku akan memulai hidup baruku dengan namja lain..

“Rin?”

“m—mwo! Umma!”

“kau pergi kemana saja!!” aku ketakutan sekarang. umma benar-benar berwajah menyeramkan. Aku tidak pernah melihatnya semarah ini. Wajahnya berbeda dari amarahnya yang biasanya.

“mian umma.. aku—aku menerima apapun yang akan kau lakukan”

PLAKK

“jangan pergi lagi.. kau membuat umma hampir mati.. aku mencemaskanmu.. kau bahkan tidak membawa uang dan bajumu.. kau tidak mengangkat telpon umma sama sekali..”

“mi—mian umma..”

“umma mengerti.. umma tidak akan memaksamu lagi.. maafkan umma..”

“la—lalu apa yang umma lakukan disini?”

“umma dan appa akan membatalkan pertunangan itu..”

“per—apa?”

“Cho-sshi!” appa yang sedaritadi berada di belakang umma tiba-tiba masuk dan berpelukan dengan appa Kyuhyun.

“apa ini? Umma?”

“kemarilah.. umma dan appa akan menyelesaikan semuanya..” aku akhirnya mengikuti umma dan duduk di sofa ruang tamu mereka. Kini posisiku berbeda. Sekarang kami berhadapan. Aku dan keluargaku berhadapan dengan keluarganya.

“Park-sshi, siapa yeoja ini?”

“ini, kenalkan.. Rin, berdirilah”

“Ri—Park Ririn imnida” aku membungkuk kembali. Oke, ini situasi awkward.. baru saja aku membungkuk pada mereka tentang pertunangan Kyu.. sekarang aku membungkuk pada mereka sebagai.. calon.. tunangan.. Kyu?

“anakmu?”

“ne Cho-sshi”

“benarkah?”

“benar, dia anak kami yang kedua..” umma menepuk pundakku pelan. Aku masih tidak percaya.

“dia sudah disini sejak tadi malam, apa kalian tahu itu?” appa Kyuhyun mengerutkan dahinya dan menatapku dalam.

“kau.. apa yang kau lakukan disini?”

“mian umma.. sebenarnya..”

“sebenarnya komo.. kemarin malam, dia..”

“Kyu menyelamatkan Rin dari namja.. menyeramkan.. umma..” aku menunduk dalam melanjutkan perkataan Kyuhyun.

“kau! Apa kau tidak apa? Apa ada yang terluka? Siapa namja itu? Apa yang dia lakukan?” appa mengguncang tubuhku.

“aku tidak ingat, appa..” aku hampir menangis lagi mengingat kejadian tadi malam. Hari terburuk dalam hidupku.

“kita bicarakan itu dirumah, sekarang, appa dan umma akan menyelesaikan ini.. dan carilah namja yang kau cintai sendiri.. ne? jangan menangis Rin.. jangan pergi dari rumah lagi..” appa mengusap airmataku. Appa..

“jadi.. Cho-sshi.. kami kemari untuk membicarakan hal penting” appa memulai pembicaraan.

“ne? apa itu?”

“kami hendak membatalkan pertunangan anak kami dengan keluargamu”

“a—“ aku hanya bisa bertatapan tidak percaya dengan Kyu. Apa yang kupikirkan benar. kami.. benarkah ini?

“tapi akhirnya kau menyetujuinya dua hari yang lalu.. dan sekarang kau mencoba membatalkannya?” raut wajah appa Kyuhyun berubah.

“mian Cho-sshi.. tapi kami tidak mau membuatnya terbebani lagi..” appa berdiri dan membungkuk dalam.

“tapi appa—“

“sudah Rin.. biarkan appa menyelsaikan ini.. kau tenang saja”

“tapi.. umma..” aku dan Kyu hanya bisa diam. Kedua orangtua kami sedang.. sedang dalam percakapan yang.. susah untuk disela.

“Rin..” Kyu akhirnya memanggil namaku.

“pe—permisi” aku akhirnya berdiri.

“Rin!” umma menarik bajuku agar kembali duduk.

“ada apa, Ririn-sshi” appa Kyuhyun benar-benar membuatku gugup.

“appa, jangan menatapnya seperti itu..” Kyuhyun menarikku untuk berdiri disebelahnya.

“Appa, Komobu.. maafkan kelancangan Ririn menyela pembicaraan kalian.. tapi.. tapi Ririn menerima pertunangan ini” aku membungkuk dalam pada mereka berdua.

“Rin!”

“ne, Appa, Komobu.. Kyu juga menerimanya” dia membungkuk bersamaku.

“kau tadi menolaknya, Kyu”

“sebelum kau pergi dari rumah, kau menolaknya, Rin”

“tapi appa.. bagaimana aku bisa menolaknya sekarang.. kalau kalian.. menjodohkanku.. dengan namja yang kucintai?” aku menggenggam erat tangan Kyuhyun.

“dia?” appaku dan kyuhyun berbicara serempak.

“ne appa, dia yeoja yang aku bicarakan setiap hari..”

“dia..”

“bolehkan, appa.. umma?” aku menatap mereka bergantian. Tersenyum.

“apa kau bahagia dengannya?” umma angkat bicara.

“tentu saja umma.. dia yang membuatku, berhenti menangis”

“kalau kau bahagia dengannya, umma setuju.. ne appa, dia yang meminta”

“baiklah.. Cho-sshi.. mungkin.. seperti yang anda dengar sendiri..”

“ne Park-sshi, pertunangan itu masih dibuka” mereka berdiri dan berjabat tangan, dan tertawa.

“ne Kyu.. kau mendapatkannya” Kyu dan ummanya tersenyum bersama. Omona.. mereka benar-benar mirip.

“ne umma.. terima kasih” dia memelukku erat dan berbisik pelan padaku.

“ne jagi.. kau memang milikku..” dan mengecup keningku.

“saranghaeyo Kyuhyun-ah..”

“saranghaeyo, Ririn-ah”

“stop, kalian tidak boleh berciuman” keluarga kami menghentikkan apa yang hampir saja kami lakukan.

“wa—waeyo appa?” Kyuhyun tidak terima.

“kalian masih AKAN bertunangan, cincin saja belum ada.. jadi tidak boleh”

“tapi appa, kami sudah kuliah.. bahkan sebentar lagi selesai!” Kyuhyun mem-pout-kan bibirnya dan aku hanya bisa tertawa.

“turuti kata appa, Cho Kyuhyun, yeoja yang akan menjadi anaemu harus pulang.. karena dia masih harus kuliah”

“appaaa..”

“ne Kyuhyun-ah, appamu benar.. aku harus pulang, dan nanti kita pasti akan bertemu di tempat kuliah” aku mengecup pipinya.

“ne, dengarkan calon anaemu” ternyata appa Kyuhyun cukup menyenangkan. Dia benar-benar baik. Dan, senyumnya juga mirip dengan Kyu..

“sampai bertemu nanti” aku akhirnya pergi dengan keluargaku. “mobilku..”

“nanti sudah ada di kampus” jawab Kyuhyun dengan senyum khasnya.

“baiklah, selamat pagi” akhirnya kami benar-benar berpamitan pergi.

Ya.. ini sebuah akhir yang menyenangkan. Aku, akan menjadi anaenya! Sebuah.. kebetulan yang luar biasa enyenangkan. Aku mencintainya.. aku, mencintai keluargaku. Aku harap aku bisa bahagia seperti ini terus. Selamanya. Saranghaeyo.. everyone.

——

Epilog

“ne umma, terima kasih” aku memeluk umma beserta jok kursi mobil yang ia sandari.

“ne sayang.. kalau kau senang, umma dan appa juga..”

“tapi umma, apa yang kalian maksud dengan.. tidak mau terulang? Memangnya ada apa?”

“kau tentu tidak tahu, karena kau masih baru masuk SMA..” jawab appa.

“apa?”

“sebenarnya, unnimu.. kau tahu kan, dia sangat bebas?”

“ne appa..”

“dan dia menyalah gunakan kebebasan itu”

“maksud appa.. namja yang unni nikahi?”

“ne, secara tidak sengaja, tentu saja..”

“sudahlah appa, dia bahagia..”

“ne umma..”

“kalian mengekangku karena itu?” aku hampir menangis lagi. Sebenarnya, mereka sangat memperhatikanku. Namun aku tidak menyadarinya. Mianhae appa.. umma..

“ne, kami tidak ingin kau terlibat pergaulan seperti itu. Kita sudah sampai rumah”

“rumaaah!!” entah kenapa. Aku benar-benar merindukan rumah ini. Aku benar-benar merindukannya. Sangat.

“mandi dan sarapanlah.. appa akan mengantarmu ke kampus”

“ne appa, saranghae!” aku keluar dan langsung berlari menuju kamarku.

“YAAA! BETAPA AKU MERINDUKAN KALIAN!” aku memeluk semua bonekaku.

“mandi, sarapan, kampus, Kyu!” aku bergegas melakukan semuanya. Aku ingin bertemu dengannya lagi. Walau kami hanya terpisah sebentar. Aku merindukannya.

“mmng! Tugas design!” aku mengambil SLRku dan melihat semua foto yang ada. “Kyu..” aku terhenti begitu melihat senyumnya.

“dia.. hahah..” aku memencet tombol next dan.. “omona, lucu sekali! Kucing putihku dulu dengan unni.. hmm.. ini saja yang jadi tugas kami. Baiklah. Ayo mandi. Aku akan bertemu dengannya di kampus!

Aku mandi dan sarapan dan, sesuatu benar-benar mengejutkanku. Appa tidak jadi mengantarku. Waeyo!

“kau sudah dijemput”

“dijemput?” aku tersedak oleh jus jerukku.

“ne, olehnya” appa tersenyum dan membiarkanku pergi meninggalkan meja makan.

“hati-hati dijalan, ne” umma memelukku dan mengecup keningku. “kalau kau menagis karenanya, bilang pada umma”

“ne umma” aku memeluknya erat. “aku pergi!”

“ne, annyeong”

Ternyata benar. dia sudah berada di teras rumahku. Duduk tegap, dan sangat rapi. Dia memang, namja yang paling.. semuanya yang pernah kutemui. Aku sampai tidak bisa mendeskripsikannya dengan baik. Dia sempurna.

“Ri—rin!” dia tampak gugup sekali.

“waeyo?”

“tidak apa.. appa, menyuruhku, memberi.. ini padamu..” dia menyerahkan kotak berwarna ungu gelap padaku.

“apa ini?”

“buka saja..” dan ya, wajahnya merah padam. Mencurigakan, bukan?

“ci—cincin..” aku menangis lagi.

“Rin-ah! Jangan menangis!”

“ummmaaaaaa” dan umma langsung menghampiri kami.

“apa yang kau lakukan! belum semenit, dan kau sudah membuatnya menangis!”

“umma.. dia melamarku..” aku menunjukkan kotak berisi cincin itu.

“ya, kau jangan membuat umma dan appa cemas” akhirnya akulah yang kena pukul.

“aduduh.. sakit..” Kyu hanya menahan tawanya. Uh. Awas dia.

“pakai, dan segera berangkat! Sudah jam segini.. ayo pergi”

“ne umma” dia akhirnya memakaikan cincin itu padaku. Omona.. kirei.. eh, cantik..

“kau cantik” dia menggandeng tanganku. “saranghaeyo”

“yaa! Berangkat! Jangan bermesraan disini” umma mengetuk kepalaku kembali.

“kami berangkat”

“ne, hati-hati”

Hmm~ akhir yang bahagia, memang akhir yang seperti ini.. aku menyukainya. Ne, dan aku mencintai namja yang sedang mengenggam erat tanganku ini. Namja yang benar-benar berkilau.

“Kyuhyun-ah, saranghae” aku bergumam pelan dan dia mempererat genggamannya.

“Ne.. nado saranghae..”

the end—

——

thanks for reading this fanfiction from part 1 ’till part 3 !!

THANKS A LOT !!

please leave a commnet, ok? ^^

———

if you want to, please read another fanfiction of Kyuhyun-sshi here 🙂

Still with This Love [ Cho Kyuhyun Fanfiction ]

with sequel

Faster Than a Hearbeat [ Park Ririn Fanfiction ]

or maybe

It’s You (너라고) [ Cho Kyuhyun & Park Ririn Fanfiction ]

or you can check the other here 🙂

FANFICTION INDONESIAN LANGUAGE

Advertisements

15 Comments

Leave a Comment
  1. lovelyminbi / Jun 2 2012 9:04 am

    Hng, baru kali ini baca punyamu kecepetan.. Itu di tengahnya kecepetan..

    Overall dari part 1 sampek 3 keren, tapi yg ketiga ini aja yg banyak tapi kecepetan..

    Kau memakai nama Jinri sbg nama orang jahat ya.. Dasar.. -,- padahal di ceritaku dia anak baik baik -,- huuu..

    • hachidarksky / Jun 2 2012 9:38 am

      gitu ya? kecepetan ya? mananya? sini kubetulin.. TT^TT
      hiks hiks..
      habis aku bingung.. TT^TT
      itu aku aja udah gak tega bikin rin dianiaya.. dan jinri jdi namja jahat.. hiks.. TT^TT
      tapi nama aslinya kan hanri, bukan jinri jadinya.. kkkk XDD

      yaa~
      tapi akhirnya selesai.. :’)

      • lovelyminbi / Jun 2 2012 2:19 pm

        udah, benerin dulu hahaha.. tapi udah keren kok.. serius..
        tambahin aja.. sapa suruh bikin jahat jahat :p

      • hachidarksky / Jun 3 2012 9:02 pm

        hoye~ :3 :3 :3
        oke, sedang otw kok.. ^.^d

        hiks..
        JINRI MIANHAEEEEEEEE

  2. hachidarksky / Jun 2 2012 9:49 am

    SORRY UNDERMAINTENANCE ;P

  3. lovelyminbi / Jun 4 2012 11:20 pm

    yak, itu lebih mending daripada kemarin.. kau cuman nambahin bagian di motel doang kan? kkk *ketahuan cuman baca bagian itu*
    sisa komennya udah di atas ya, gak berubah

    • hachidarksky / Jun 5 2012 12:50 am

      aku nambahin yang bagian dia kerja sama jalan2 ke cheongdam park sm jinri juga tauk.. -,-!!
      kan kau bilang yang kurang disitu..
      hwooo.. mayak.. -…-
      trus aku juga udah bikin sedikit ttg khidupan jinri.. hiks.. jinri kau tidak direken sm umma bi

      okok dah~

      • lovelyminbi / Jun 5 2012 2:12 pm

        sudah aku baca kok..
        oke, aku bukan ummanya jinri yee

      • hachidarksky / Jun 5 2012 6:04 pm

        ohok begitu toh XD
        jinri, kita dimarahin sama umma….. *mojok bareng jinri, kyu ditengah (?)*

  4. NC’annya mana saeng?? –” *Nagih #plaak. yadong kumat
    Wah Hap’En ya!! senangnya #peluk Kyupil.. heheh

    keren dah, si Kyupil romantis and so sweet banget sih??
    jadi pengen di romantisin deh *eh..
    ciumannya kurang hot tu!!! *lirik author…

    Baiklah… sekian review dari saya…
    Nice Fict…
    aku tunggu FF berikutnya ya dan jangan lupa!! *siap2 nodongin pistol
    FF yang aku tunggu ne!! hehehe…

    Hwaiting saeng!!!
    Keep Writing ^^

    • hachidarksky / Jun 6 2012 11:59 am

      gabisa disini XD
      kalo ada NCnya aku kasi password ntar XDD
      kkk~ XDD #PLAKK

      harus happy end, kalo gak nanti aku galau gimana XDD *tarik peluk kyuppabo*

      kurang hot ya? kalo terlalu hot saya ntar blushing sendiri #eh XD

      terima kasih atas reviewnya unni >.< :*
      aku akan membuat request anda sekarang :3

      ne, hwaiting! and you too!
      keep writing XDD

  5. Just Nisa / Jun 13 2012 3:56 pm

    wahh, ceritanya baguuuss.. ada yang gak terduga, tapi masih ada juga yang kebaca alurnya nanti kemana. mungkin lebih kreatif di akhir bakalan bikin FF nya lebih bagus.
    overall bagus ko, dialog kalo bisa lebih singkat, soalnya kadang dialog ama narasi itu bisa bikin jelas dan bisa juga bikin bosen 🙂
    truuus *banyak omong* mianeh! *bows* sifat ortunya rin tuh bisa berubah secepat itu, mungkin lebih diperjelas lagi proses si ibu yang asalnya jahat jadi baik :))
    dan, aku gak ngerti adegan yang mobil2 keluar, yang pas di rumah kyu, pas Rin nyari mobilnya >.<
    jujur aja ya jauh lebih bagus FF yg Still with This Love menurutku. gak tau kenapa. mungkin karena yg ini dikerjainnya buru2 atau entah ada faktor apa hehe

    overall ff ini udah bagus banget ko 😀
    mianeh aku banyak omong. but, its better than a silent reader kan? :p
    keep writing, you have good talent :))

    • hachidarksky / Jun 13 2012 6:15 pm

      hahahahah.. thankyu 😀
      iya bikinnya rada cepet soalnya aku harus belajar buat snmptn ^^
      lagian harusnya cuma jadi oneshoot.. tpi jdi bnyk kkk :p

      ah, yg mobil itu..
      itu kyu kbnykn mobil di garasi XD
      mknya smpe keluar semua baru mobilnya rin bisa keluar.. kkk

      ne, still with this love aku bikinnya sampe nangis sendiri sih :’)
      baca faster than a heartbeat juga.. ^^ itu sequelnya 🙂
      bagian rin vs vic ada di situ 🙂

      oke, thankyu for all your comment :DD
      i’ll try to improve it later ^^

  6. nindityawardani / Oct 24 2012 6:55 pm

    Yah? Akhir yang bahagia memang 😀

Leave some Advice :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: