Skip to content
June 15, 2012 / hachidarksky

Let It Snow (PART 1) | [ Kim Jongwoon / Yesung Fanfiction ]

author : hachidarksky

genre : parted, romance, fanfiction, angst, sad, tragic (?)

language : Indonesian

main cast : Kim Jongwoon / Yesung , Lee Ahre / Rere (@dhya_ELFCloud)

other cast : Moon Geunhyoung

notes from author : this fanfiction requested by my unni @dhya_ELFCloud :3 . happy reading, Clouds~

part : Let It Snow PART 1 | Let It Snow PART 2-final

“annyeong.. Lee Ahre, ng.. Rere Imnida.. bangapta..” aku menunduk dengan cepat begitu kulihat seisi kelas menatapku. Omona. Sudah berkali-kali aku memperkenalkan diri tiap aku pindah sekolah, tapi aku tetap tidak bisa menatap orang-orang yang ada didepanku. Apa aku tidak akan mempunyai teman lagi disini.. Harusnya aku memberi first impression yang bagus..

“bangaptaaa..” seisi kelas menjawab, membuatku semakin gugup.

“Rere-sshi, kau bisa duduk di bangku kosong sebelah sana” wali kelasku menunjuk bangku yang berada di pojok dekat dengan jendela. Baiklah.. setidaknya aku bisa menatap keluar jendela bila aku tidak tahu mau berbicara dengan siapa..

“ne songsaenim..” akhirnya aku membungkuk padanya dan pada kelasku, lalu mulai berjalan perlahan menuju belakang kelas. Semoga aku bisa akrab, setidaknya satu saja. Aku tidak mau sendirian lagi.

“bangapta” sapa yeoja yang duduk disebelahku.

“ba—bangapta..” aku tersenyum padanya. Baiklah, mungkin aku bisa mulai dengan berteman dengannya.

“baiklah semuanya, kita mulai pelajaran bahasa inggris kali ini, now open page 143” tapi mungkin nanti saat istirahat. Sekarang aku harus mengikuti pelajaran yang tertinggal dulu.

Panggil saja aku Rere, seperti yang aku katakan saat perkenalan di depan kelas tadi. Mungkin aku terlihat biasa, tapi sebenarnya aku mempunyai penyakit asma akut. Aku sering masuk rumah sakit karena asmaku. Sudah berkali-kali keluargaku pindah karena environment yang aku tempati tidak baik untuk kesehatanku, dan appaku yang juga selalu berpindah tempat untuk dinas kerja. Karena kebiasaan ini, aku jadi sering berpindah sekolah, dan akhirnya beginilah, aku sudah terlalu malas untuk mencoba beradaptasi. Akhirnya aku jadi susah mendapatkan teman.

“Rere-sshi?” aku terbangun dari lamunanku, kulihat yeoja yang duduk disebelahku sudah berada dekat sekali denganku.

“n—ne?”

“Geunhyoung.. Moon Geunhyoung imnida.. bangapta” dia mengulurkan tangannya, aku pun menyambutnya dengan senang hati. Akhirnya! Dari setiap sekolah, akhirnya ada yang menyapaku duluan!

“bangapta, kamsa”

“aku pergi dulu ne, Rere-sshi, sudah waktunya istirahat” dia akhirnya meninggalkanku. Yap, aku sendiri lagi. Padahal kalau mereka tau, aku ini benar-benar yeoja yang tidak bisa diam kalau sudah bercanda. Tapi mungkin karena aku masuk di pertengahan semester, makanya mereka sudah mempunyai teman sendiri-sendiri. Dan perkenalan diriku tadi terlihat suram.. Ahh.. sudahlah.

Sebelum akhirnya aku bersekolah disini, sebenarnya aku sudah satu bulan berada di kota ini. Karena aku masuk rumah sakit terlebih dulu. Yah, sepertinya aku sudah mencicipi semua rumah sakit di korea selatan ini. Aku mungkin sudah terlalu expert soal rumah sakit. Aku hanya bercanda.

Rumah sakit di kota ini cukup nyaman, dan karena ini termasuk kota kecil yang.. yah, cukup jauh dari kebisingan kota. Mungkin karena sudah memasuki musim gugur yang dingin, asmaku kumat tiada henti. Maka dari itu, mengikuti appa yang pindah dinas kerja, aku juga ikut-ikutan pindah rumah sakit. Dilema orang sakit..

Rumah sakit ini tidak ada kamar VIP dan bahkan VVIP, tidak seperti kota-kota besar. Aku waktu itu sekamar berdua dengan seorang namja. Rambutnya hitam legam, pendek, dan matanya sangat sipit. Yah, hampir sipit. Aku heran apa dia bisa melihatku? Hahahah. Kami selalu berbincang bersama. Dan kurasa dia sudah cukup lama di kamar itu. Aku masih ingat suaranya yang khas itu. Dia selalu bernyanyi di malam hari. Suaranya sangat indah.

Hmm.. aku ingat percakapan itu saat bersamanya..

——flashback

“bangapta! Lee Ahre penghuni baru kamar ini! Panggil aku Rere!” aku menghampirinya yang terbaring di kasur.

“hahah.. bangapta.. Kim Jongwoon..”

“aku panggil Jongwoon oppa?”

“ne, terserah apa saja juga boleh..” dia tertawa pelan.

“baiklah, mohon bimbingannya~” aku membungkuk 90 derajat padanya.

“hahahahah.. kau lucu juga.. kau sakit apa?” namja itu benar-benar sangat ramah, dan penuh dengan senyum. Aura yang dikeluarkannya hangat.

“aku? Aku mengidap asma akuut! Oppa?”

“aku.. sebentar, apa kau orang baru di kota ini?”

“mwo? Ne, aku baru pindah ke kota ini.. apakah kota ini menyenangkan?”

“ne, sangat.. kau harus melihat keindahan kota ini.. apalagi taman dekat SMAku..”

“oh ya? Kalau begitu setelah aku keluar, aku akan melihatnya, bersama oppa juga lebih baik!”

“hahahah.. ne.. aku akan berusaha menemanimu” dia menepuk kepalaku pelan.

Dia namja yang keren, dan benar-benar ramah. Kami selalu bercanda bersama, bahkan tawaku sampai membuat suster datang kekamarku dan memarahiku. Aku tidak tahu apa kehadiranku disini makin memperparah sakitnya atau malah membuatnya lebih ceria. Kami sering tertawa sampai terbatuk-batuk. Bahkan asmaku tak jarang kumat karena terlalu banyak tertawa.

Oh iya, Jongwoon oppa ternyata masih SMA! Dan dia seumuran denganku, yah, lebih tua dariku sedikit. Kukira dia sudah kuliah.. hahahah. Dia bercerita banyak tentang sekolahnya dan rasanya begitu menyenangkan mendengarnya. Aku ternyata akan masuk ke sekolah yang dia sering ceritakan itu. Aku sangat berharap dia akan sembuh saat aku sudah masuk. Bersamanya sungguh menyenangkan, aku banyak tertawa dan melupakan kenangan tidak enakku selama di rumah sakit.

Namun dibalik semua tawaku, sebenarnya aku sangat khawatir apa aku bisa menjalani kehidupan sekolahku disini seperti ini? Tertawa bersama.. aku harap Jongwoon oppa bisa bersamaku saat aku sekolah, dan menjadi temanku disana. Kekhawatiranku memuncak begitu aku diperbolehkan pulang oleh dokter.

“oppa..”

“ne? ada apa Rere-yah?”

“oppa.. apa mungkin aku bisa beradaptasi di sekolah nanti.. apa kau tidak mau cepat sembuh dan menemaniku di sekolah?”

“hm? Aku akan sangat senang kalau bisa cepat keluar dari sini dan menemanimu..”

“janji ya oppa, kau akan menjadi temanku dan bersamaku selalu”

“ne, dan kita akan melihat salju bersama di taman dekat SMAku.. SMA kita sekarang.. ne?”

“ne oppa! Pasti! Lekas sembuh.. aku akan menjengukmu.. hwaiting untuk kita!” aku melingkarkan kelingkingku pada kelingkingnya. Kami sudah berjanji. Janji harus ditepati.

flashback end——

“yah, dan disinilah aku.. sendirian.. mungkin di perpustakaan tidak akan terlalu sepi” gumamku sambil akhirnya berdiri dari bangkuku dan berjalan keluar kelas. Aku melihat teman-teman kelasku yang berbincang-bincang dan tertawa bersama dengan cerianya.. aku jadi ingin kembali ke sekolahku dulu.. sebelum aku berpindah-pindah seperti ini.

“aduh!” saking terlalu banyak melamun, aku tidak sengaja menyenggol kursi anak kelasku. “mianhae! Mianhae!” aku membungkuk berkali-kali.

“mwo? Gwenchana..” dia tersenyum. Namja.. senyuman yang manis.. mirip seperti Jongwoon oppa. Siapa namanya?

“mianhae..”

“Gwenchana Rere-sshi”

“ah ng.. permisi kalau begitu..” aku membungkuk dan membalas senyumnya, lalu pergi. Ya~ namja yang keren.. dan ramah. Nanti aku tanya Moon-sshi siapa nama namja itu.

Aku berjalan menyusuri lorong sekolah. Tidak berjalan ditengah, hanya dipinggir saja. Aku hanya anak baru disini, walau sudah kelas 3 SMA, aku tetap kakak kelas yang masih baru disini. Ada beberapa murid perempuan yang menyapaku. Kurasa itu teman sekelasku. Karena tentu saja, aku baru memperkenalkan namaku di kelas. Aku hanya bisa menjawab mereka dengan senyuman dan lambaian tangan yang cukup pelan.

Kurasa orang-orang disini cukup ramah pada lainnya. Mereka murah senyum, dan saling membantu. mungkin karena ini tidak seperti sekolah-sekolah di kota-kota bising yang sudah tercemar polusi. Disini tamannya sangat terawat. Dan pertengahan musim gugur ini, dinginnya menyegarkan. Malah sepertinya lebih membantu paru-paruku yang sudah sakit ini.

“Rere-sshi!” seseorang melambaikan tangannya padaku dan menghampiriku.

“Moon-sshi, annyeong” aku membungkuk padanya, dan dia membalasku.

“kau mau kemana?”

“aku? Hanya.. ke perpustakaan..”

“apa kau sudah tau tempatnya?”

“ah..” aku lupa. Aku sudah pernah ditunjukkan saat berkunjung ke sekolah ini. Tapi aku lupa bahwa aku lupa! Aish. Apa yang kukatakan?

“hehe, kurasa kau lupa.. ayo kutunjukkan!” dia menggandeng tanganku dan berjalan dengan riang disebelahku. Kalau saja aku namja, aku akan membuatnyaa menjadi yeojachinguku sekarang juga begitu melihat senyumannya.

“ne moon-sshi, aku tadi melihat namja keren”

“oh! Kau sudah langsung menemukan namja yang keren untukmu?”

“hehe.. yah, begitulah.. kurasa dia sangat keren.. sampai aku mengatakan bahwa dirinya keren..” aku menggaruk tengkukku yang benar-benar tidak gatal. Kurasa aku malu.

“aku jadi ingin tahu siapa namja keren itu!” dia tertawa. Dia berbicara seolah sudah mengenalku lama sekali. Seperti kita sudah berteman sejak dulu. Dia benar-benar baik.

Akhirnya kami sampai di perpustakaan setelah dia menunjukkan kembali kantin, ruang guru, ruang kesehatan, dan ruang ekstrakulikuler drama yang dia ikuti. Dia sedikit berakting tadi saat mengunjungi ruangan itu. Dia hebat.

“yak, akhirnya sampai di perpustakaan!”

“kamsa..” aku membungkuk padanya. Dan berjalan memasuki perpustakaan. Dia mengikutiku. Dan belum ada beberapa langkah aku memasuki perpustakaan. Bel tanda istirahat telah usai berbunyi.

“aigo! Mianhae Rere-sshi, kau jadi tidak bisa bersantai di perpustakaan!”

“ne, tidak apa.. aku malah senang kau mengajakku mengenal sekolahmu ini.. hehe” aku tersenyum padanya sekilas. “ayo kita kembali kalau begitu”

“ayo!”

Akhirnya kami kembali ke kelas kami. Guru pelajaran belum datang, aku masih bisa berbincang dengan Moon-sshi sekarang. ah. Ternyata namja itu masih duduk disana dan membaca sebuah novel sambil bertopang dagu. Dia melihat kearahku. Kurasa dia tahu aku memperhatikannya, karena sekarang dia tersenyum kearahku. Aigo. Dia bisa membuat asmaku kambuh!

“ne moon-sshi”

“ada apa?”

“siapa yang duduk disana?” aku menunjuk kearah namja itu, yang sudah kembali fokus pada novelnya kembali.

“ah.. itu.. Yesung-sshi.. Yesungie” wajahnya berubah seketika begitu mengatakan nama namja itu. Waeyo?

“kenapa? Wajahmu berubah drastis?”

“tidak apa.. dia.. namjachinguku..” DOR!! Oke, harapanku hilang sudah. Tidak mungkin aku merebutnya. Apalagi dari yeoja cantik seperti dirinya!

“ah.. begitu..” aku memalingkan wajahku dari moon-sshi. Aku sedikit patah hati.

“tapi, sudah tidak lagi..”

“tidak? Kenapa? Kurasa kalian cocok?” dia menatapku. Memberikan tatapan `kenapa kau tahu?` atau `benarkah?` dan semacamnya. Tapi itu sebuah raut wajah kaget.. syok.

“hahah.. ya.. karena..” dia berhenti berbicara. Kurasa aku sudah terlalu jauh bertanya. Aku menepuk pundaknya.

“sudah, tidak usah kau ceritakan kalau tidak mau..”

“ng.. ne.. mian” dia tersenyum kecil padaku. Guru pelajaran akhirnya masuk. Moon-sshi akhirnya kembali kebangkunya. Dan aku akhirnya hanya menatap tiga orang secara bergantian. Guru itu, Moon-sshi, dan namja yang akhirnya aku tahu namanya.. Yesung-sshi.

Setelah akhirnya dua mata pelajaran diberikan pada kami siang ini. Akhirnya tiba waktu untuk pulang. Hari pertama disekolah yang cukup baik. Aku mendapat teman baru, dan mengenal seorang namja keren. Apa karena dia sudah menjadi mantan Moon-sshi, aku bisa mendekatinya? Apa itu termasuk perbuatan teman yang jahat?

“Rere-sshi, aku duluan.. aku harus pergi latihan dengan teman dramaku” Moon-sshi menepuk pundakku dan pergi meninggalkan kelas.

“ne, hati-hati!” aku akhirnya membereskan buku-buku ku. Dan yang terlihat selanjutnya adalah namja yang duduk dibangku dekat pintu kelas. Yesung-sshi yang tertidur pulas. Apa aku harus membangunkanya? Harus tidak? Aduh. Bagaimana ini.

“ng.. Yesung-sshi?” aku mengetuk pundaknya pelan dengan telunjukku. Apa dia akan bangun dengan caraku ini?

“siapa?” dia menggerutu pelan. Aigo.. lucu sekali..

“Re.. Rere..” tiba-tiba dia membuka matanya. Membuatku mundur tiba-tiba dan menabrak meja dibelakangku. “adududuh!!” aku terduduk di lantai sambil memegangi punggungku. Bisa-bisa penyakitku tambah menjadi osteoporosis kalau begini.

“ah! Mian! Kau tidak apa?”

“ne, tidak apa.. hanya terbentur biasa kok..”

“tapi itu tadi suara yang sangat keras..” dia membantuku berdiri. Tangannya kecil.. dan lembut. Dan dia sangat tinggi!

“Hehe.. ne, tidak apa..” aku menepuk rokku, membersihkannya, walau aku tidak tahu sendiri apa yang kubersihkan. Debu?

“sudah waktunya pulang ya?”

“ne, makanya.. aku membangunkanmu..”

“kamsa kalau begitu..” dia membungkuk padaku. “kau tau darimana namaku?”

“dari.. Moon-sshi..” wajahnya berubah. Sedikit berubah, menjadi datar.

“ah..”

“ne, jadi.. aku pulang duluan ya” aku tidak mau membicarakannya lebih lanjut. Tidak mau sakit hati.

“kau mau ikut sebentar denganku?” aku langsung menoleh kembali padanya. “kurasa kau mau” dia tertawa pelan.

“a—apa wajahku—” aku berlari menuju kaca di lemari belakang kelas. Wajahku sangat berseri-seri! Aigo! Hentikan wajahku! Kau membuatku salah tingkah!

“hahah.. jangan menepuknya seperti itu, kasihan” dia menangkap tanganku yang sedang menepuk-nepuk pipiku yang sekarang memerah, bukan karena tepukkanku. Melainkan tangannya yang menggenggamku lembut.

“ng.. ne..” dia lalu menarikku keluar kelas. Dia tidak membawa tas apa-apa. Hanya novel saja bersamanya.

Kami berjalan menyusuri lorong sekolah yang sudah sepi. Suara langkah kami senada. Dia masih tetap melihat kedepan, sedangkan aku hanya melihat pada tangannya yang masih mengenggamku erat.

“kita mau kemana?” aku akhirnya membuka pembicaraan.

“ke tempat favoritku” aku bisa melihatnya tersenyum sekilas.

“jauh?”

“tidak, sebentar lagi sampai” tiba-tiba dia melepas genggaman tangannya, dan menunjuk sesuatu.

“ini dia” dia melangkah maju dan mencoba menghirup udara disekitarnya.

“indah..” aku hanya bisa terpana akan apa yang kulihat. Pohon besar yang sedang mengikuti musim gugur ini. Daunnya berwarna merah dan kecokelatan. Dan langit senja yang membuatnya semakin menyatu dengan alam sekitar. Musim gugur memang indah..

“sangat.. indah..” lanjutku lagi. Tapi kali ini karena melihatnya yang tersenyum diantara daun-daun yang berguguran diterpa angin sore. Dia manis.

“indah, kan? Ini tempat favoritku” dia lalu menyapu bangku dibawah pohon itu dengan tangannya. Mempersilahkanku duduk.

“terima kasih” aku akhirnya duduk bersamanya.

“jadi, ada yang ingin kau tanyakan?” aku tersedak.

“a—apa?”

“aku tau kau memperhatikanku terus mulai dari usai istirahat, selama pelajaran berlangsung malah..”

“tapi kau, membaca novel.. dan memperhatikan guru.. kenapa bisa tau?”

“karena setiap aku melihat kearahmu, kau selalu salah tingkah” tawanya.

“ng.. itu..” aku sekarang hanya bisa menunduk malu.

“hahah.. sudahlah.. aku tidak apa diperhatikan seperti itu, jadi? Ada yang mau kau tahu?”

“ne, Yesung-sshi.. wae kau tidak membawa tas, dan buku pelajaran sama sekali? Kenapa hanya novel yang kau bawa?”

“karena, ini hal terakhir yang kulakukan”

“maksudmu?” aku memiringkan kepalaku tanda tidak mengerti. Dia tertawa kembali.

“bukan apa-apa.. kau lucu” dia menghancurkan sisiran rambutku yang sudah sangat rapi sejak dari pagi.

“aigo rambutku!” aku akhirnya menyisirnya kembali dengan jari-jariku.

“sudah hampir gelap.. nanti kau dimarahi ummamu”

“tidak apa, kalau dia belum menelpon, dia belum mencemaskanku..”

“hahah! Aneh sekali!”

“ne, memang” aku tersenyum simpul. “Yesung-sshi, aku mau bertanya sesuatu”

“ne? apa itu? Tanyakan saja”

“apa kau punya kembaran?” dia terdiam dan memiringkan kepalanya.

“tidak, waeyo?”

“tidak apa, kau mirip dengan orang yang pernah kutemui.. semuanya mirip.. kecuali rambutmu yang sedikit lebih panjang.. yah, mungkin karena dia dirumah sakit, jadi rambutnya pendek”

“rumah sakit? Apa orang itu sedang sakit?”

“ne, dan aku berjanji padanya akan menceritakan hari pertamaku disekolahnya besok minggu”

“begitu.. semoga dia lekas sembuh”

“ne.. aku harap dia sembuh dengan cepat”

“so just shut up and be mine..” suara handphoneku sedikit mengagetkanku.

“ringtone yang bagus, angkatlah”

“hehe.. permisi sebentar..” aku mengangkatnya. Dan ternyata umma. Dia menyuruhku pulang sekarang.

“siapa?” tanyanya begitu aku mematikan handphoneku.

“umma.. aku harus pulang sekarang”

“kalau begitu, hati-hati di jalan” dia menepuk kepalaku pelan. Dia tidak akan mengantar yeoja kecil ini pulang, kah?

“kau tidak akan mengantar yeoja ini pulang?” omona. Pikiranku berbicara!

“hahah.. aku mau.. tapi aku sedang menunggu temanku juga sekarang..” dia tersenyum masam.

“baiklah.. aku pulang.. annyeong” aku melmbaikan tanganku dan berlari keluar sekolah. Aku sedikit kecewa, tapi yasudahlah.. kita juga baru kenal.

Sudah hampir gelap, dan angin musim gugur makin dingin. Omona! Anginnya… Bisa-bisa asmaku kumat lagi. Aku mengeluarkan jaket tebalku dari dalam tas. Setidaknya bisa menghangatkanku, dan menjaga paru-paruku? Terserahlah. Yang penting hangat.

Aku akhirnya sampai di rumah. Rumahku mungkin hanya 10-15 menit dari sekolah. Appa dan umma yang merencanakannya. Agar aku tetap berolahraga tapi tidak terlalu capek. Mereka sangat sibuk juga di kota ini. Appa dengan kerjanya, dan umma dengan.. pekerjaan rumah tangganya. Mereka memperhatikanku, kalau mereka mencemaskanku, atau ingat padaku. Setidaknya mereka masih mengingatku. Aku terlalu sering di rumah sakit sih.

“aku pulang..” aku melepas sepatuku dan menaruhnya dengan rapi di rak sepatu. Appa belum pulang, pikirku begitu melihat sepatu yang tadi pagi ia pakai masih tidak ada.

“selamat datang” umma keluar dari dapur dan memberi kecupan kecil di pipiku. “bagaimana sekolah barunya?”

“aku.. mendapat dua teman baru..”

“oh, bagus sekali!” dia kembali ke dapur lagi. Kurasa dia sedang bereksperimen, maksudku, mencoba resep-resep baru. Umma sangat suka memasak.

“aku ke atas, umma” aku mendengarnya mengatakan untuk turun saat makan malam, dan aku akhirnya masuk ke kamarku.

“ah, kenapa aku tidak tanya nomor handphonenya..” aku melihat handphoneku yang sepi sama sekali. Aku hanya menyimpan nomor umma dan appa.. dan juga rumah nenek, oh, dan emergency call rumah sakit yang sudah pernah aku tempati di handphone ini.

“harusnya aku minta nomor Moon-sshi juga ya” aku akhirnya meletakkan handphoneku di meja malamku, dan berjalan menuju lemari bajuku.

“baiklah, sekarang saatnya membersihkan diri, makan malam, dan tidur..” ucapku seraya meregangkan tubuh, dan akhirnya masuk ke kamar mandi.

-ccc-

“pagi!” Aku melambaikan tanganku pada namja tinggi di depan sana, yang akhirnya menolah padaku. Ini sudah hari ke-3 aku menjadi murid di sini. Aku mulai mendapatkan teman. Ah! Tapi aku masih belum mendapat nomer handphone Yesung!

“pagi..” jawabnya lembut dengan senyuman.

“pagi Rere-sshi!” suara yeoja mengikuti. Siapa?

“Moon.. sshi?” aku melihatnya melambaikan tangan di balik Yesung. Mereka.. tidak balikan lagi, kan?

“ayo masuk, guru sudah datang!” dia menarikku tanpa menghiraukan Yesung sedikitpun. Kurasa mereka tidak balikan. Entah kenapa aku merasa lega.

“pelajaran dimulai, tolong perhatikan, karena besok bapak akan memberi post-test tentang bab ini pada kalian” suara tidak setuju para murid mengikuti, dan aku hanya tertawa. Memang di semua sekolah, walau di sekolah sedamai ini pun, murid-muridnya juga tidak suka dengan ujian ya. Hahahah..

“mengerti?” dia melanjutkan, dan akhirnya teman-teman sekelasku ini mengangguk pasrah. Baiklah, mereka sangat kompak.

Guru sudah mulai menerangkan pelajaran di depan. Dan aku sekali lagi, untuk kesekian harinya. Aku melihat kearah namja itu. Dia, masih dengan damainya membaca novel. Apa dia tidak mendengar kata guru? Besok ada post-test lo!

“Moon-sshi,” aku akhirnya mencoba bertanya padanya.

“ada apa?” dia juga ikut berbisik seperti diriku.

“apa dia suka sekali membaca novel?” aku menunjuknya, Yesung. Dan Moon hanya menoleh sekilas melihat kearah yang aku tunjuk.

“ne, dia suka sekali” katanya sambil tersenyum kecil.

“ng.. baiklah..” aku akhirnya kembali memperhatikan guru. “eh.. tapi..”

“ada apa lagi?”

“apa tidak apa dia membaca di saat guru menerangkan seperti ini?”

“mwo? Sekarang dia sedang memperhatikan, kok” Moon menoleh kembali ke arah tadi.

“tapi—“

“ya! Apa kalian tidak memperhatikan?” aduh. Kenapa malah kita yang ketahuan.

“maaf pak, saya hanya bertanya yang tidak saya pahami..” aku berdiri dan membungkuk.

“kalau tidak paham lagi, tanya pada saya langsung” jawabnya dan kembali menulis di papan.

Bagaimana bisa dia sedang memperhatikan? Jelas-jelas dia sedang bertopang dagu, dan sekarang menguap sambil tetap membaca novelnya! Apa Moon-sshi tidak melihatnya dengan benar? atau saat dia melihatnya, Yesung-sshi sedang menutup novelnya? Mencurigakan. Dia namja yang benar-benar santai.

“ah, terserahlah” aku akhirnya hanya bisa mendengus tidak percaya. Yesung-sshi benar-benar membaca novel disitu!

“Rere-sshi,” aku menoleh dan melihat Moon-sshi sedang melihatku dengan tatapan.. memohon?

“ne? ada apa? Nanti jadi pergi?”

“mian, aku mau membicarakan itu.. klub drama akan mengikuti lomba, jadi.. aku harus ikut latihan sebagai salah satu senior mereka..”

“jadi.. setelah kegiatan klub selesai, kalian tetap latihan?”

“ne, maafkan aku.. selama seminggu ini.. sih..”

“ah.. begitu.. lama ya.. hehe”

“ne.. ah! bagaimana kalau kau coba kenalan dengan namja keren yang kau sukai itu saja” aku terdiam sebentar. Ng.. ha? Dia mendukungku? Omona!

“ah.. ne.. terima kasih kau memperbolehkannya..” aku menggaruk tengkukku.

“mwo? Tentu saja, kenapa aku harus melarangmu! Dari ceritamu, kurasa kalian sangat cocok.. aku ingin tau siapa! Kenalkan aku padanya” dia menepuk-nepuk pundakku senang.

“ah.. i—iya..” aduh, bagaimana aku bisa memperkenalkannya.. dia mantanmu..

“baiklah, aku pergi duluan.. mianhae sekali lagi!” akhirnya dia pergi meninggalkanku dikelas.

“ne, hati-hati..” aku akhirnya kembali membereskan barang-barangku. Kelas sudah sepi. Hanya tinggal aku.. ketua kelas.. dan.. Yesung-sshi, yang seperti biasa, tertidur.

“Rere-sshi, aku pulang duluan, jangan terlalu sore ne, yeoja tidak baik sendirian” ketua kelas yang selesai menghapus papan dan menyapaku. Dia ketua kelas yang baik.. namja yang baik.

“ah, ne, aku tidak sendirian kok.. ada dia..” aku menunjuk Yesung-sshi yang masih tertidur di bangkunya di dekat pintu belakang kelas.

“mwo? siapa? Namjachingumu menunggu diluar? Kau sudah punya? Siswa sini? Cepat sekali.. hahaha.. kalau begitu, sampai jumpa besok, ne” na—namjachinguu? Dia hanya teman biasaaaa! Dan dia sedang tertidur!

“uh, wae semuanya seperti itu! Apa wajahku merah sekarang?” aku menepuk-nepuk pipiku kembali. Uh. Bagaimana kalau dia melihatnya!

“yaa.. tidak usah ditepuk seperti itu, nanti wajahmu makin merah..” dia terbangun! Omona!

“bi—biar!” aku berjalan keluar kelas dengan cepat.

“tunggu, temani aku” dia menangkap tanganku. Tangannya sangat dingin.

“tanganmu.. dingin.. kupinjamkan sarung tanganku, ne?” aku melepas sarung tanganku.

“tidak usah, aku lebih suka seperti ini..” dia tersenyum dengan lembut.. ah.. manis.. “ayo”

“kita mau kemana?” dia akhirnya menarikku untuk berjalan lagi.

“taman.. biasa..”

Akhirnya kami sampai di taman kesukaannya itu. Musim gugur sudah hampir usai, daun yang tertinggal di pohon itu juga semakin sedikit. Apa pohon itu akan kesepian? Apa dia tidak kedinginan nanti saat musim dingin?

“kau tidak usah mengkhawatirkannya” aku tersadar dari lamunanku.

“si—siapa?”

“ne, kau tidak usah mengkhawatirkan pohon ini.. dia sudah sangat senang bila dikunjungi olehmu..” dia tersenyum kembali sambil mengusap pohon itu pelan.

“dan olehmu juga” aku menambahkan.

“ne, olehku juga..” tiba-tiba raut wajahnya berubah. Seperti orang yang kehilangan. Benar-benar.. melihatnya berwajah seperti terasa menyakitkan.

“ada apa?” aku akhirnya memberanikan diri bertanya.

“mwo? Tidak..” dia akhirnya duduk dan menatap langit yang sudah mulai senja.

“besok sudah hari sabtu ya..” aku menghela nafas, dan kepulan asap keluar. “Kenapa dingin sekali”

“sudah mau masuk musim dingin.. sebentar lagi waktunya habis..”

“waktu? Waktu apa?”

“hm? Pohon ini..” sepertinya dia berbohong. Tapi, aku tidak akan bertanya lebih lanjut.

“ng.. besok aku akan mengunjungi temanku, apa kau mau titip salam?”

“titip salam?”

“ne! lekas sembuh, atau, halo, atau terserah kau!” aku mengembangkan senyumku. Besok aku akan mengunjungi Jongwoon-ah! Aku akan bercerita banyak padanya.

“hahah.. lekas sembuh dan terima kasih..”

“terima kasih? Untuk apa?”

“membuatmu tersenyum seperti itu” dia mengelus pipiku dengan tangannya yang dingin itu. Tapi rasanya hangat. Apa wajahku memerah lagi?

“merah.. hihi” dia tertawa kembali. Menahan tawanya. “seperti bakpao yang baru matang..”

“uh! Dasar!”

“so just shut up and be mine..”

“ah! Pasti umma..” aku mengangkatnya, dan memang umma. Dia menyuruhku cepat pulang karena appa sudah pulang! Appa!

“disuruh pulang?”

“ne.. sampai sini dulu oppa.. senin kita bertemu lagi” aku membungkukkan badanku dan berpamitan padanya.

“ne.. maaf tidak mengantarmu pulang lagi..”

“ne tidak apa.. jangan pulang larut malam ya! Nanti masuk angin!” aku berlari dan masih tetap melambaikan tanganku padanya. Hingga akhirnya dia tidak terlihat lagi.

“besok aku akan bertemu Jongwoon-ah! Aku akan menceritakan semuanya! Tentang Moon-sshi, dan Yesung-sshi!” aku berlari dala perjalanan pulangku. Besok akan benar-benar menyenangkan!

-ccc-

“Jongwoon-ah!!” aku berlari memasuki kamarnya.

“Rere-yah.. annyeong”

“annyeong!”

“kau semangat sekali, bagaimana sekolahmu?”

“baik!” aku duduk di kursi yang berada di sebelah ranjangnya.

“kau sudah mendapatkan teman?”

“ne! mereka sangat baik.. sekolahnya sangat seru..”

“benarkan? Aku tahu kau pasti akan mendapatkan teman dengan cepat..”

“hehe..”

“tapi Rere-yah.. mianhae..”

“mwo? Waeyo?”

“sebenarnya aku.. sudah tiada” aku terdiam. Ha? Apa? Jongwoon bercanda kan? Tidak mungkin.

“kau bercanda..”

“tidak”

“hahahaha.. tidak mungkin.. kan? Oppa?”

“mianhae..” tiba-tiba dia menghilang.. memudar dengan senyuman tipisnya. Tidak. Aku tidak mau dia pergi. Jangan pergi! Jebal!

“JONGWOON-AH!!”

—end of part 1—

  next part :  Let It Snow PART 2-final

other fanfiction : Fanfiction Indonesian Language

Advertisements

9 Comments

Leave a Comment
  1. hachidarksky / Jun 15 2012 9:48 pm

    please give this some comment for the next part.. 🙂
    need it so bad 😀

  2. Kyaaaaaaaaaa… KyuRin… gk mau tau,, besok chapter 2 nya harus dan wajib muncul.. *maksa*
    aku penasaran nih u,u

    tapi ngomong-ngomong nama lee ahre jelek amat ya -_________- #plaaak.. *berlagak amnesia*

    baguuuuuuuuuuuuus kok..
    aku sedih liat yeye kayak gitu..
    aku sebagai rere #plaaak. merasa tersakiti T_T
    sebenarnya yeye sakit apa?
    mati gak?

    kalo mati, ntar aku sama siapa?? huaaawwhh.. masih gk rela.. #jdaaar…
    pokoknya UPDATE A_S_A_P

    Aku boleh sering2 update ya ^^//
    gomawo lo saeng udah di buatin nih ff yang DAEBAK !!!

    • hachidarksky / Jun 16 2012 8:14 pm

      yg pertama, kamsa unni :3 :3
      hehehe ^^v

      part2 nya masih di dalam otak /plak

      laaah.. XD
      yg mau neme lee ahre siapa waktu itu kkk XD

      sbnernya yeye sakit.. sakit hati ditinggal jongjin /apahubungannyaXD
      mati gak ya enaknya X9

      kalo yeye mati, ntar unni sama jeje aja XD

      ne, kamsa sekali lagi~ :*

  3. jangan lama-lama updatenya -__________- *ngancam*
    kalo nggak, Kyupil aku siksa nih!!

    gk mau tau, aku maunya cuma sama yeye *titik*
    kyupil aja saja gih yang mati #plaaaak.

  4. lovelyesung / Jul 31 2012 7:53 am

    ANNYEEEEEOOOOOOOONG~~~~ YUHUUUUUUUU~~~~~
    aku baru nongol :p lupa mau comment apa /slap
    umm alurmu kecepetan say, trus aku suka bingung pas conversation, bingung mana yang kalimatnya tokoh A/B soalnya kamu jarang ngasih detilnya, mungkin itu yang harus ditambah biar readermu nggak terlalu mikir banyak buat cari tau siapa yang lagi bicara.
    part yang ini aku masih bingung sih tapi part ke 2…. ntar commentnya disana aja ah~

    • hachidarksky / Jul 31 2012 6:38 pm

      cring >__>)
      akan saya perbaiki hal itu di ff yang akan lewat (?) mksudku, di ff yg akan datang selanjutnya~ >w>)/
      oke, mari kita lanjut ke komen di part dua~

      wuzzz~~~~~~

  5. elfcloud3424 / Aug 3 2012 11:45 am

    Reblogged this on elfcloud3424 and commented:
    Yesung

  6. Kim Rye Hoon / Nov 17 2012 4:34 pm

    Good Job!!!
    bagus min ceritanya <3<3,<)

    Cuma kadang suka pusing 'siapa yang ngomong di part ini' , gitu…
    Seandainya kalo dibikin komik keren kali ya, hehehe…
    Tetap menulis yaa, FIGHTING!

    • hachidarksky / Nov 21 2012 9:37 am

      kamsa~ :33

      kalo bisa dbkin komik mau bgt juga nih XD

      oke fighting~ :3

      kamsa udah mampir baca 😀

Leave some Advice :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: