Skip to content
June 22, 2012 / hachidarksky

Let It Snow (PART 2-final) | [ Kim Jongwoon / Yesung Fanfiction ]

author : hachidarksky

genre : parted, romance, fanfiction, angst, sad, tragic (?)

language : Indonesian

main cast : Kim Jongwoon / Yesung , Lee Ahre / Rere (@dhya_ELFCloud)

other cast : Moon Geunhyoung, Shin Inha (oc)

notes from author : this fanfiction requested by my unni @dhya_ELFCloud :3 . happy reading, Clouds~

part : Let It Snow PART 1 | Let It Snow PART 2-final

previous story :

“Jongwoon-ah!!” aku berlari memasuki kamarnya.
“Rere-yah.. annyeong”
“annyeong!”
“kau semangat sekali, bagaimana sekolahmu?”
“baik!” aku duduk di kursi yang berada di sebelah ranjangnya.
“kau sudah mendapatkan teman?”
“ne! mereka sangat baik.. sekolahnya sangat seru..”
“benarkan? Aku tahu kau pasti akan mendapatkan teman dengan cepat..”
“hehe..”
“tapi Rere-yah.. mianhae..”
“mwo? Waeyo?”
“sebenarnya aku.. sudah tiada” aku terdiam. Ha? Apa? Jongwoon bercanda kan? Tidak mungkin.
“kau bercanda..”
“tidak”
“hahahaha.. tidak mungkin.. kan? Oppa?”
“mianhae..” tiba-tiba dia menghilang.. memudar dengan senyuman tipisnya. Tidak. Aku tidak mau dia pergi. Jangan pergi! Jebal!
“JONGWOON-AH!!”

——

 “Rere? Kenapa? Ada apa?” aku membuka mataku. Umma. Apa tadi mimpi?

“u—umma..”

“kau berkeringat sangat banyak.. kau memimpikan apa? Daritadi kau berteriak..”

“u—umma.. sekarang hari apa? Apa aku sudah ke rumah sakit? Apa ada telpon tentang Jongwoon oppa?”

“hari sabtu.. kau hari ini baru mau ke rumah sakit kan untuk bertemu dengannya..”

“benarkah? Jadi tadi hanya mimpi?”

“kau memimpikan apa?”

“ti—tidak.. aku hanya lapar umma..” aku mengalihkan topik pembicaraan dengan segera. Aku tidak mau mengingat mimpi aneh itu. Lagi. Tidak mau. Tidak. Itu tidak mungkin. Jongwoon oppa pasti akan sembuh. Dia sudah berjanji akan melihat salju denganku!

“kalau begitu mandilah, sarapan sudah ada..” umma menepuk kepalaku pelan dan akhirnya keluar dari kamar.

“uh.. tidak mungkin.. lupakan mimpi itu. Lupakaaan” aku menepuk-nepuk kepalaku berharap semua benar-benar hanya mimpi. Tidak mungkin Jongwoon oppa telah tiada. Tidak mungkin.

Aku segera duduk di kursi meja makan begitu aku selesai mandi dan berbenah. Roti panggang dan selai strawberry.. aku melahapnya perlahan hingga aku terkejut karena umma yang melambaikan tangannya tepat di depan mataku.

“kau kenapa?”

“ng? mwo? Tidak apa..” aku menghabiskannya dengan cepat dan meminum satu gelas susu dingin milikku.

“aku ganti baju dulu appa” aku akhirnya kembali kekamarku dan cepat-cepat berganti baju. Aku harus bertemu dengan Jongwoon oppa. Harus.

“appa, ayo” aku mengejutkan appaku yang masih membaca koran dengan sangat santai di teras rumah.

“hah? Kemana?”

“appaaa..”

“iya iya.. appa bercanda.. sekalian cek kesehatanmu ya” appa melipat korannya dan menepuk kepalaku. “Ayo”

Akhirnya aku dan appa berpamitan pada umma. Appa akan mengantarku dan menemaniku cek kesehatanku di rumah sakit. Hari sabtu memang aku harus cek-up .. karena ini sudah mau masuk musim dingin, nanti takutnya penyakitku dengan indahnya kambuh tiada henti, kan aku yang repot. Hahaha. Tapi nanti appa akan meninggalkanku bersama Jongwoon oppa. Aku yang minta memang. Siapa sih yang mau diganggu oleh orangtua saat sedang berdua dengan namja yang dikagumi? Hehe.

Tiba-tiba saja handphoneku bergetar, siapa yang sms pagi-pagi? Mwo? Moon-sshi?

 ——

“ Rere! Apa kau pergi hari ini? ”

“ ne, waeyo? ”

“ ah, padahal akhirnya aku tidak ada latihan hari ini.. aku ingin mengajakmu keliling kota ini 😥 ”

“ waaaa.. aku mau sekali.. tapi aku harus ke rumah sakit.. mau cek sekalian mengunjungi temanku >< ”

“ hari ini aku juga mau ke rumah sakit! Bahkan aku sudah sampai.. ”

“ hwo! Mungkin kita bisa bertemu! Kau mengunjungi siapa? ”

“ tapi aku hanya sebentar, ng.. kau tahu siapa kok.. mantanku ”

“ mantan? ” mantan? Aku tahu siapa? Yesung? Atau mungkin mantannya yang lain? Dia kan cantik, dan populer..

“ ne, aku masuk dulu.. salam untuk temanmu ya.. ah! Apa minggu kau pergi juga? ”

“ baiklah.. minggu? Kurasa aku akan mengunjungi temanku ini lagi sampai siang.. setelah itu tidak ”

“ baiklah! Ayo kita pergi bersama! Bertemu di sekolah ya! Dah Rere~ :33 ”

“ ne~ ^^ ”

——

Hehe, aku akan pergi dengan temanku besok~ yeeay~ menyenangkan sekali! Kira-kira pakai baju apa ya?

“Rere, sudah sampai.. jangan senyum-senyum gitu..” aku tersadar dari pikiranku karena suara tawa appa.

“uh.. biarin dong” aku menjulurkan lidahku dan keluar dari mobil. “ayo appa, cepat!” aku akhirnya menarik tangan appa agar cepat masuk ke rumah sakit. Cepat selesaikan cek-up ini, dan aku bisa berdua dengan Jongwoon oppa!

Appa dan suster yang kukenal, Suster Lim, yang selalu memarahiku kalau tawaku sudah kelewatan selama aku dirawat disini, membawaku ke ruang dokter. Disana appa dan dokterku banyak sekali berbicara. Aku hanya mengangguk dan menggeleng saat dokterku itu bertanya. Yah, pokoknya biar cepat, lah..

“kau jangan tertawa sampai kehabisan nafas lagi saat bertemu dengan Jongwoon ya, Rere-sshi..” dokter menepuk pundakku.

“aku.. tidak janji” aku tertawa dan terbatuk.

“nah, jangan berlebihan..”

“baik dok.. apa sekarang aku boleh menemuinya?”

“tentu saja, dia masih di ruangnya yang biasa”

“ne, terima kasih dok!” aku berlari keluar ruangan dan menutupnya pelan. Sayup-sayup aku mendengar percakapan appa dan dokter.. sepertinya mereka membicarakan penyakit yang tidak aku mengerti. Apa tadi namanya? Aigo. Apa peduliku.

Aku berjalan cepat di lorong rumah sakit karena Suster Lim sudah memperhatikanku dengan tatapan sinisnya sejak aku keluar ruangan dokter. Dia memang sinis, tapi sebenarnya sangat baik padaku.

“ng.. kamar nomer berapa.. ya.. kok aku lupa..” aku berjalan pelan melihat kedalam kamar pasien melalui jendela di pintunya. Ng.. apa di lantai 4?

“ah, kurasa ini..” aku mencoba mengintip kamar bernomor 314 ini dan benar, Jongwoon oppa!

“Hehe, aku akan mengejutkan.. siapa itu?” aku memicingkan mata melihat kearah siluet itu. Namja? Yeoja? Siapa? Eh! Dia berbalik! Omona!

Aku kalangkabut mencari tempat sembunyi. Untung saja ada tempat sampah yang cukup besar. Aku akhirnya bersembunyi dibaliknya. Bukan di dalamnya. Dibaliknya. Sebentar, kenapa aku harus sembunyi?

“cepat sembuh, oppa..” yeoja, seorang yeoja keluar.. nugu? Sepertinya aku tau.. aku memperhatikan yeoja itu hingga dia menghilang masuk ke dalam lift. Siapa dia? Teman Jongwoon oppa?

“Rere, apa yang kau lakukan disini? Tidak masuk?” aku terkejut dan hampir saja menjatuhkan tempat sampah disampingku.

“Su—Suster Lim!” aku menyentuh dadaku yang berdegup super kencang. “bikin kaget saja.. nanti asmaku kambuh gimana?” aku menjulurkan lidahku padanya dan dia membalas dengan memukul kepalaku pelan.

“siapa yang kau lihat? Tidak langsung masuk?”

“ng.. tadi ada yeoja.. keluar dari sini..”

“aah.. kau cemburu ya? Hahahah.. Rere cemburu.. bilang Jongwoon ah..”

“su-suster!” akhirnya aku dan Suster Lim malah rebutan gagang pintu, dan aku hanya bisa jatuh terjerembab begitu tiba-tiba pintu itu berhasil dibuka oleh Suster Lim.

“ehem, Jongwoon, ada yang ingin bertemu” suster Lim tertawa dan meninggalkanku yang masih mengusap keningku pelan. Uh. Dasar.

“kau tidak apa? Kalian berdua selalu saja.. hahaha..” dia tertawa. Aku merindukan tawanya..

“ne, tidak apa.. hanya sakit sedikit..” aku masih mengusap keningku. Sial sakit juga.

“silahkan duduk..” ah, kurasa yeoja tadi duduk di kursi ini. Siapa yeoja itu? Pagi sekali dia datang.. lebih pagi dariku..

“ne oppa, tadi siapa?” Jongwoon oppa tertegun. Waeyo? Aku salah tanya sepertinya.

“teman sekolah..”

“ah.. begitu..” dan keheningan tercipta. Baiklah.. ini hening sekali. Kami seperti tidak tahu mau berbicara apa lagi..

“oppa! Dapat salam dari temanku, Moon dan Yesung-sshi..” aku akhirnya memulai pembicaraan.

“Moon? Kau sekelas dengannya?”

“ne, wae? Kau juga?”

“iya.. dan Yesung? Kau berteman dengannya?”

“ng.. ne, waeyo?”

“tidak, selamat ya.. sudah kukatakan.. kau pasti mudah mendapatkan teman” ng.. déjà vu? “apa kau diajak olehnya ke taman sekolah?”

“mwo? Ne, kau tahu darimana? Jangan-jangan oppa yang minta ya? hahahah”

“hahahaha.. ne bisa dibilang begitu..”

“pantas saja! Lagipula oppa, dia mirip sekali denganmu.. hanya saja rambutnya lebih panjang sedikit darimu..”

“dia namja yang tampan sepertiku kan? Bagus dong”

“dasar oppa!” aku memukul lengannya pelan. Mereka benar-benar mirip.

“apa kau juga sudah menemukan namjachingu?” tanyanya tiba-tiba.

“m—mwo?? Belumlah! Siapa yang mau dengan yeoja yang baru pindah sepertiku..”

“kenapa? Kau cantik, apa salahnya?” dia tertawa lagi.

“huh! Kalau begitu, ada namja yang kusukai!”

“hoo? Nugu? Katakan padaku” wajahnya terlihat terkejut, tapi, matanya.. apa dia sedih?

“ada deh, dia itu baik, lembut, dan suka membaca novel di kelas.. dan selalu tidur selama pelajaran terakhir hingga bel pulang” aku menjulurkan lidahku. Dan tentu saja itu adalah Yesung-sshi! Hahah! “tidak seperti oppa yang ternyata kelewat evil

“oh begitu? Jadi begitu sekarang kamu?” dia mulai mengacak-acak rambutku.

“Gyaa!! Rambutkuu!” aku yang sehat ini pun tidak bisa menahan serangannya. Kalau dia sudah sehat, pasti di kelasku akan ramai sekali!

Akhirnya kami berdua mulai bercanda tiada henti. Tidak jarang aku dan dia terbatuk-batuk. Banyak sekali cerita yang ingin kuceritakan padanya. Dan dia juga ingin sekali mengetahui cerita yang terjadi di kelasnya itu. Sungguh menyenangkan. Aku mengenal perilaku teman-teman sekelasku darinya. Aku benar-benar berharap dia cepat keluar dari sini dan kembali masuk untuk belajar bersama kelas kami kembali.

“sudah sore begini, apa Appamu tidak marah?” Jongwoon oppa akhirnya berhenti tertawa dan bertanya hal lain.

“tidak apa, kalau dia belum menelpon, dia belum mencemaskanku..” aku tersadar, ternyata sudah sore! Aigo wow!

“hahah! Aneh sekali!”

“ne, memang…. Ng?”

“wae?”

“tidak.. kurasa aku pernah.. mendapat percakapan seperti ini..”

“mwo? Benarkah?”

“ne, tapi.. lupakan saja..” kurasa, waktu aku bersama Yesung-sshi..?

“so just shut up and be mine..”

“ah, suara handphonemu.. ringtone yang bagus, angkatlah”

“ng.. sebentar ne..” kenapa sepertinya aku sudah pernah melakukan percakapan ini..?

“nugu?” tanya Jongwoon oppa sesaat setelah aku mematikan sambungan telponku.

“appa, dia sudah di tempat parkir..”

“ah, kalau begitu sampai disini perbincangan kita..”

“ne.. besok aku hanya sampai siang oppa.. aku diajak Moon-sshi berkeliling kota”

“oh, tidak apa kalau begitu..” dia terdiam sebentar, kami terdiam bersama. “selamat bersenang-senang”

“hehehe.. ne.. cepat sembuh ya oppa..” aku berdiri dan memeluknya pelan. “Kamsa sudah menjadi teman pertamaku” aku mengecup pipinya yang cukup dingin.

“m—mwo.. cheonma..” seketika aku melihat warna merah yang jarang terlihat dari wajah pucatnya. Mungkin ini pertanda dia akan membaik dengan cepat! Ya!

“aku pulang dulu, Appa sudah menelponku lagi” aku mengangkat telponnya dan membungkuk pada Jongwoon oppa.

“hati-hati di jalan” akhirnya aku keluar dari kamarnya. Uh, appa ini, tidak tahu kalau anaknya sedang senang!

“ya appa! Sebenta—“ saat aku akhirnya masuk ke dalam lift, seorang namja lewat di depan pintu lift yang hendak menutup ini. Namja yang aku kenal. Aku akhirnya menahan pintu lift ini dan menengok keluar sekali lagi. Memastikan apa benar, dia namja yang kukenal itu.

“Ye—yesung?” tiba-tiba namja itu menghilang memasuki salah satu kamar. Mwo? Apa yang dia lakukan disini? Kenapa dia terlihat begitu.. dingin? Apa dia tidak lihat kalau ini aku? Atau itu bukan dia? Tapi, tapi.. tidak mungkin aku salah lihat..

“Rere! Ayo cepat! Nanti makan malamnya keburu dingin!” aku tersadar dari lamunanku karena teriakkan appa di telingaku.

“Aigo ya! Sebentar appa!” aku menghilangkan semua pikiranku itu. Kalau itu benar Yesung-sshi, aku akan memastikannya padanya Senin besok!

-ccc-

“Yesung-sshi!” aku sedikit menggebrak mejanya untuk membangunkannya dari tidur siang panjangnya. Bel istirahat sudah berbunyi, dan teman-teman kelasku ini sudah berhamburan entah kemana. Termasuk Moon-sshi yang Senin ini mulai latihan drama bersama klubnya kembali setelah kemarin Minggu jalan-jalan bersamaku. Kelas benar-benar kosong tanpa sisa.

“mwo? waeyo?” dia akhirnya terbangun dan menatapku santai. Mwo? Wajahnya..

“apa yang kau lakuka—ka—kau sakit? Kenapa pucat sekali?” seketika semua hal yang membuatku bingung seakan menyingkir dari kepalaku.

“ha? Tidak, tidak apa..” aku tidak sengaja menyentuh tangannya. Dan dia sangat.. dingin. Kurasa dia benar-benar sakit. Aku harus membawanya ke ruang kesehatan.

“ayo ke ruang kesehatan, kau benar-benar pucat, dan dingin, dan tentu sedang sakit” aku menariknya paksa.

“tidak usah!” aku terhenti, karena baru pertama kali ini aku mendengarnya bersuara tinggi seperti itu. Apa barusan dia membentakku?

“aku baik-baik saja, ini selalu terjadi saat menjelang musim dingin”

“be—benarkah?”

“ne”

“ng.. mian aku memaksamu..” aku murung-semurung-murungnya. Baru kali ini aku merasa dia marah padaku. Dan rasanya menyakitkan.

“sudahlah, tidak usah dipikirkan.. maafkan aku juga”

“ng..” aku hanya bisa mengangguk.

“kalau kau masih merasa bersalah, kita tidak jadi melihat salju pertama bersama lo”

“ah, ne, aku baik-baik saja kok” aku memasang senyum semanis mungkin. Aku ingin melihat salju dengannya!

“ah ya, katanya kau menyukai seorang namja disekolah ini? Nugu?” aku akhirnya duduk di kursi depan mejanya.

“hm.. siapa ya.. rahasia” mana mungkin aku memberitahunya! Dia adalah dirimu!

“jadi kau begitu sekarang padaku? Dasar pelit.. hahaha”

“biar yee” aku merasa.. familiar.

“mungkin dia juga suka denganmu dan akan menembak duluan? Aku akan membantumu deh.. katakan padaku”

“tidak, tidak mauu”

“aku yakin dia akan menjadi orang yang beruntung”

“tentu saja!” aku tertawa bersamanya.

GREKK

“jadi begini ya—Rere?” aku berhenti tertawa begitu pintu geser kelas terbuka, dan yang terlihat adalah Moon-sshi, dan dua teman klub drama dan perpustakaannya. Ne, Moon-sshi juga anggota klub perpustakaan. Temannya yang berambut pendek hitam disebelahnya itu ketua klubku sekarang, klub perpustakaan, namanya Inha-sshi. Yeoja itu sama seperti Yesung-sshi, selalu mencari kesempatan untuk membaca novel di saat pelajaran, bahkan dia duduk di bangku sebelah Yesung-sshi. Mungkin saling menulari?

“apa yang kau lakukan disitu?” omona! aigo! Aku ketahuan berdekatan dengan mantannya! Bisa-bisa.. aku, dia— “Rere?”

“ti—tidak, tidak ada apa-apa kok.. aku.. aku harus ke kamar mandi” aku membungkuk pada mereka semua dan berjalan cepat keluar dari kelas. Aigo! Kenapa aku harus kabur!

“aish, wae aku kabur! Ini tambah terlihat mencurigakan!”

“Rere-sshi!” aku bingung mencari arah suara itu. Suara panggilan itu berasal dari dua arah! Ya! Apa mungkin Yesung mengejarku? Tidak mungkin!

“Rere-sshi!” aku menengadah dan berhenti tiba-tiba karena ada seorang namja tinggi berambut coklat gelap, yang, aku tidak tahu siapa sudah berdiri tepat 5cm di depanku.

“ah—n—ne?”

“begini, ng.. karena akhirnya kita bertemu dan hanya berdua.. mungkin sebaiknya kukatakan sekarang.. yah, mungkin kau tidak tahu aku, tapi.. begini—“ aku terdiam dan melongo begitu saja melihat namja ini berkata panjang lebar. Kurasa aku tau akan kemana pembicaraannya ini. “—maukah kau, menjadi yeojachinguku?” ha? Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kenapa tiba-tiba jadi menyatakan perasaannya padaku? Aku bahkan tidak tahu namanya! Kenapa jadi membingungkan seperti ini sih?!

“n—nugu?”

“aku hanya siswa biasa, dan salah satu anak klub perpustakaan..” dia mengenggam tanganku lembut.

“ta—tapi aku—” kurasa wajahku memerah sekarang. Semua perkataan yang ingin aku keluarkan menjadi terbata-bata. Uh! Ini membingungkan, menyeramkan, dan membuatku malu! Apa yang dia lakukan! aku tidak pernah ditembak oleh namja! I—ini sungguh—

“chukkae” aku menoleh, dan aku melihatnya berada tidak jauh dariku. Yesung-sshi.

“ta—tunggu!”

“ah, aku belum mengenalkan namaku ya, namaku Yong—“

“mian, tapi aku tidak bisa!” aku akhirnya berlari mengejarnya. Kumohon, kau salah paham! Yesung-sshi! Aku tidak menyukainya!

Dicari bagaimanapun, dia tidak ada dimana-mana. Aku sampai melewatkan satu mata pelajaran. Kemana perginya dia? Benar-benar cepat sekali dia menghilang. Padahal lorong sekolah ini panjang dan sepi. Dan semua tempat yang ada sudah kukunjungi. Uh. Bagaimana ini.. apa kita tidak akan melihat salju bersama.. aku bahkan belum menyatakan perasaanku padanya.. dan dia sudah salah paham. Tapi.. kenapa dia bersikap seperti itu? Apa dia juga.. menaruh perasaan padaku?

“Rere-sshi, darimana saja kamu?” aku menengadah dan melihat guruku, berdiri di depan pintu kelas yang sedang kubuka.

“ng.. tersesat..”

“kau harus menghafal sekolah ini lebih baik lagi, sekolah ini tidak sebesar yang ada di kota. Sekarang cepat duduk”

“baik..” aku akhirnya berjalan gontai menuju bangkuku. Aku duduk dan mencoba menengok kearah bangkunya, melihat kearah Moon-sshi yang sudah menatapku cemas, dan Inha-sshi yang sudah membaca novelnya dengan sembunyi-sembunyi.. dan.. namja itu. Dia! Dia disini?! Dia tertidur di bangkunya?! Apa maksudnya! Dia! Aish!!

“KAU!”

“Rere-sshi, apa lagi?” aku tersadar ternyata aku sudah berdiri dengan anarki dan menunjuk kearah Yesung.

“di—dia” aku bergetar, rasanya ingin menangis. Aku sudah susah payah mencarinya di seluruh penjuru sekolah hanya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dan dia ternyata tertidur disini!

“wae? Inha-sshi? Apa yang kau lakukan?”

“m-mwo? Aku tidak melakukan apa-apa! Aku tidak membaca novel!” bukan Songsaenim! Bukan Inha-sshi! Tapi Yesung-sshi!

“tolong, perhatikan gurumu” Songsaenim berjalan kearah Inha-sshi dan memasukkan novelnya kedalam laci mejanya. “dan Rere-sshi, tolong duduk kembali..”

“ta—tapi bukan Inha-sshi!”

“siapa lagi? Bisakah saya melanjutkan pelajaran ini dengan tenang? Besok saya akan mengadakan ujian tentang bab ini”

“ta—dia—Ye—“ aku merasa sangat lemas dan dadaku sakit sekali.

“Rere! Kau kenapa?” Moon-sshi tiba-tiba berdiri dan memgang pundakku dengan tatapan yang benar-benar.. sangat cemas.

“as—asmaku..” aku terduduk di lantai sambil tetap meremas baju putih sekolahku ini. Kenapa tiba-tiba kambuh seperti ini.

“Rere!” kurasa aku pingsan?

-ccc-

Aku membuka mataku perlahan. Aku bisa melihat dinding langit-langit berwarna soft blue yang sangat familiar. Aku dirumah..? apa tadi aku benar-benar pingsan? Uh.. dadaku, kepalaku.. sakit semua.. aku sudah lama tidak kambuh seperti itu. Rasanya, yang membuatku sakit adalah.. Yesung.. sshi.. tanpa sadar airmataku keluar.. kenapa aku harus menangis? Padahal, dia yang.. salah.. kan..?

“uhuk, kenapa.. menangis..” aku berusaha menoleh kesampingku. Dan dia ada disini. Dengan wajah yang benar-benar.. lebih pucat dari biasanya.. seperti menahan sakit yang luar biasa. Bahkan, mungkin warna wajahnya sudah mendekati putih. Benar-benar pucat.

“Yesung.. sshi..”

“akhirnya kau.. bangun juga..”

“apa maksudmu? Berapa lama aku—uhuk!”

“dua.. hari..” nafasnya lebih tersengal-sengal daripada aku yang mempunyai penyakit asma.

“dua? Aku.. jarang pingsan sampai selama itu..” batukku makin menjadi.

“ne.. kau, kenapa bisa kambuh seperti ini lagi? Apa ada yang salah?”

“aku.. aku tidak pernah menceritakan kepada siapapun selain Moon-sshi tentang penyakitku.. kenapa.. kau bisa tahu?”

“itu..”

“tapi Yesung-sshi.. mian.. terima kasih..”

“mian untuk apa?”

“mian.. karena, sepertinya.. kau sangat, kecewa saat ada namja yang menyatakan perasaannya padaku.. atau aku hanya ke-geer-an saja mungkin.. tapi mian.. aku tidak menyukainya.. aku menyu—“

“tentang hal itu, tidak apa.. aku senang kau bisa menemukan teman namja selain aku.. itu saja..”

“sebenarnya aku menyu—“

“Rere?” tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Umma..

“ada apa umma..?” aku kembali terbatuk dengan hebat.

“kau sudah bangun! Kukira kau mengigau.. sebentar umma ambilkan air dulu”

“hm.. Rere..”

“ne Yesung-sshi..?”

“maafkan aku juga”

“maaf kenapa?” aku melihat wajahnya yang benar-benar seperti orang yang kehabisan tenaga. Dia benar-benar membuatku cemas.

“maaf.. karena aku tau, aku yang membuatmu jadi seperti ini.. lalu, maaf juga karena aku tidak bisa lebih lama disini.. aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari lingkaran janjiku.. karena mencemaskanmu..” dia masih mencoba mengatur nafasnya yang sangat berat itu.

“lingkaran janji? Apa maksudmu?”

“dan satu lagi.. mian.. kurasa aku tidak bisa melihat salju bersamamu..”

“wa—wae? Yesung-sshi!” aku menahan tangannya saat dia mulai berdiri dari kursinya. Dingin. Tangannya benar-benar dingin.

“mian.. kamsa.. kau.. yeoja yang baik dan ceria.. tetaplah ceria sperti saat kita pertama kali bertemu.. satu bulan yang lalu..”

“Rere, ini airnya” umma masuk secara tiba-tiba dan Yesung berhasil melepas tanganku.

“sampai jumpa, di lain waktu” dia membungkuk padaku, dan keluar begitu saja. Umma bahkan tidak menghalanginya. Aku sudah berlinangan airmata seperti ini, tapi umma tidak menahan namja itu. Wae?

“Rere?? Kenapa menangis? Apa ada yang sakit lagi? Katakan pada umma, nak”

“umma..” aku akhirnya menangis kembali. Aku belum menyatakan perasaanku. Dan aku merasa sudah ditolak olehnya. Dan bahkan dia berkata akan meninggalkanku.. tidak akan menepati janjinya. Kenapa? Apa aku berbuat salah padanya?

“umma, aku.. harus kesekolah, besok.. uhuk-uhuk!” aku menghapus airmataku.

“tapi! Kau masih sakit begini!”

“tidak, aku akan membaik.. aku ingin bertemu dengannya.. walau tidak mungkin lagi..”

-ccc-

“pagi..” aku masuk kedalam kelasku, dan semuanya melihatku dengan tatapan tidak percaya.

“Rere! Selamat datang kembali!” seisi kelas bersorak gembira. Entah kenapa rasanya senang sekali. Mereka benar-benar teman yang baik..

“terima kasi—uhuk!” sebenarnya memang belum sepenuhnya pulih, tapi, aku berharap dia masih ada di..

“Yesung-sshi..?” aku melihatnya yang ternyata sudah berada dibangkunya, menunduk dalam tak melihat kearahku sedikitpun.

“kelas, mohon duduk di bangku masing-masing.. Rere-sshi juga.. selamat datang kembali, dan tolong duduk di kursimu sekarang..”

“baik pak..” aku akhirnya berjalan menuju bangkuku karena wali kelasku sudah masuk tanpa salam sedikitpun.

“hari ini, bapak senang karena Rere bisa kembali bergabung bersama kita.. tapi bapak, sangat.. sedih.. karena.. kita kehilangan satu teman kita yang sudah berjuang keras menghadapi penyakitnya..”

“be—benarkah?!” Moon-sshi berdiri dan tampak sangat terkejut. Siapa? Aku tidak melihat satu bangku kosong di kelas ini. Apa yang memiliki bangkuku ini dulu?

“ne.. maaf Moon-sshi.. tapi ini, benar..” Songsaenim tampak sedih sekali. Siapa sebenarnya?

Tiba-tiba saja Yesung-sshi berdiri dari bangkunya, dan berjalan perlahan ke depan kelas. Berdiri di sebelah Songsaenim. Dia mengelus punggung songsaenim pelan. Seakan memberi ketegaran hati padanya. Siapa? Kenapa aku tidak tahu ada teman sekelasku yang sakit? A—apa.. Jongwoon.. oppa? Tidak mungkin, aku tidak mendapat pesan apa pun dari rumah sakit, Suster Lim, dan dokterku!

“Yesung-sshi.. telah kembali kesisinya.. tadi malam..” tiba-tiba tangis Moon-sshi meledak. Kenapa mereka bisa berkata sekejam itu! Yesung-sshi masih ada disini! Kenapa kalian tidak melihatnya yang berda di depan! Apa kalian buta!

“TIDAK MUNGKIN!”

“Re—rere..?”

“ITU TIDAK MUNGKIN! YESUNG MASIH HIDUP! DIA MASIH ADA DI SINI BERSAMA KITA!”

“apa yang kau katakan? dia sudah tiada..” Moon-sshi menatapku tidak percaya.

“tidak mungkin! Dia namja yang baik, dan ceria! Dia suka membaca novel, dan.. dan tertidur di kelas! Dan sekarang dia ada disana! Disebelah Songsaenim! Kenapa kalian tidak ada yang melihatnya!!” seisi kelas menatapku. Tatapan yang benar-benar.. tidak percaya akan satu hal pun yang barusan keluar dari mulutku.

“bagaimana kau tahu.. dia.. selalu membaca novel.. tertidur dikelas.. dan namja yang.. baik.. kau bahkan tidak pernah bertemu dengannya.. kau.. kau datang.. saat dia sudah hampir 4 bulan berada di rumah sakit” aku tertegun seketika mendengar semua ucapan yang keluar dari sela-sela isak tangis Moon-sshi. Tidak mungkin.. ini tidak mungkin.. apa maksudmu, aku melihat hantu? Begitu? Tidak mungkin!

drrrrt

——

“Rere, ini Suster Lim.. maaf kami tidak memberitahumu.. karena dia melarang kami.. tapi, Jongwoon.. mengucapkan banyak terima kasih padamu.. dan, selamat tinggal.. Rere.. dia sudah tiada..”

——

Aku makin bergetar hebat membaca sms dari Suster Lim.. temanku yang paling aku sayangi.. Jongwoon oppa juga.. dia.. juga meninggalkanku.. ini tidak mungkin.. kenapa semuanya meninggalkanku..

“semuanya.. kembali tenang.. mari kita doakan kepergian teman kita.. Kim Jongwoon, atau yang biasa kita kenal dengan Yesung..” aku terkejut bukan main. J—Jongwoon.. Yesung.. mereka..

“itu.. bukan nama aslinya?” aku benar-benar syok. Aku terduduk lemas di sebelah Moon-sshi. Moon hanya mengangguk padaku dan masih tetap menangis.

“ne.. kami memanggilnya Yesung karena.. suaranya benar-benar indah..”

“a—apa.. kau.. mengunjungi.. rumah sakit waktu itu.. mengunjungi.. Yesung..? maksudku, Jongwoon?”

“ne..”

“sebenarnya.. dia.. dia sakit apa.. Jongwoon itu?”

“Kanker.. Paru-paru..”

“semuanya.. sore ini, kita akan menghadiri.. pemakaman Yesung-sshi.. berdoa untuknya selalu.. dia pasti akan senang di sana..” aku melihat ke arang songsaenim kembali, dan disana, Yesung sedang membungkuk dalam.

“Kamsa.. mian.. kamsahabnida..” dia menangis. Aku tidak tahu apa yang aku lihat ini hanya ilusiku saja.. atau itu benar-benaar dia.. aku sudah tidak tahu mana yang benar sekarang. semua kenyataan yang datang bertubi-tubi ini membuatku semakin menangis keras bersama Moon-sshi.

“dia berkata.. terima kasih..” aku akhirnya berbicara disela isakanku. Dan Moon-sshi makin tidak bisa menahan tangisnya.

“sama.. sama..”

Seisi kelas.. dalam keheningan yang panjang.. menangisi, kepergiannya. Namja baik.. dari kelas kami.

-ccc-

Aku berjalan gontai masuk kedalam rumah. Kedua orangtuaku hanya mengikutiku dari belakang. Mungkin mereka mengira aku akan pingsan lagi karena selesai menghadiri pemakaman Yesung.. Jongwoon oppa. Tapi aku sudah tidak bisa pingsan.. pikiranku sudah tidak bisa memikirkan apapun. Aku masih syok akan semua kenyataan ini. Semua kenyataan yang bercapur menjadi satu. Kenapa dia tidak memberitahu padaku saja? Apa itu berat?

“Rere.. kau.. tidak apa..?”

“ne umma.. aku ingin.. sendiri dulu..” aku masuk ke kamarku dan menguncinya. Menenggelamkan wajahku ke dalam bantal biruku. Menangis.

drrrrt

“siapa.. sih.. hm..? suster Lim..? untuk apa?”

——

“Rere?mian kami tidak pernah bilang padamu.. soal penyakit Jongwoon..”

“ne.. tidak apa suster.. pasti ada alasannya.. kan?”

“ne.. dia tidak ingin memberitahu hanya padamu.. saat kau akhirnya masuk rumah sakit ini, dan satu kamar dengannya.. dia berkata padaku untuk tidak memberitahukannya padamu.. karena dia tahu, dia tidak akan bertahan cukup lama”

“tapi, kenapa sus? Aku sebenarnya.. lebih baik mengetahuinya dari awal daripada seperti ini.. 😥 ini membuatku sangat sedih :’(“

“karena, dia bilang tidak ingin membuatmu bersedih..tapi, ternyata kalian malah berteman seperti ini.. padahal Jongwoon itu sebenarnya sangat pendiam dan kadang sangat dingin padaku dan dokternya.. jadi mungkin karenamu juga, akhirnya dia bisa lebih bahagia, kan? Jangan bersedih terus.. nanti Jongwoon tidak suka lo.. hahaha”

“benarkah? Aku sudah membuatnya lebih bahagia? Baik sus.. aku tidak akan bersedih.. ini demi dirinya ya kan”

“ne, kau harus semangat.. dia berpesan padaku.. untuk tetap menyemangatimu”

“terima kasih Suster Lim.. anda sangat baik..”

“ne, ah ya.. waktu itu dia membuat sesuatu untukmu, tapi saat kucari di kamarnya.. tidak ada dimana-mana..”

“apa itu?”

“hm, tidak tahu juga.. yasudah.. sekarang kau cepat istirahat saja.. kau pasti sedang menangis sekarang karena tadi di pemakaman kau tidak menangis sama sekali”

“hehe.. ne.. kalau begitu.. jumuseyo.. kamsa..”

“ne, cheonma..”

——

Aku akhirnya meletakkan handphoneku di bawah bantalku. Terima kasih.. Jongwoon.. Yesung.. terima kasih..

——

Epilog

Sudah seminggu sejak kepergiannya.. dan sekarang sudah memasuki musim salju.. aku selalu, setiap pulang sekolah.. berhenti di taman yang biasa dia kunjungi.. memandangi langit, dan berharap dia melihatku di atas sana. Aku bahkan belum sempat menyatakan perasaanku, dia sudah pergi meninggalkanku. Dan kini, akhirnya Moon-sshi mau menceritakan semuanya padaku.

“apa kau melihatnya.. di kelas ini.. waktu itu?” tanyanya pelan.

“ne.. semuanya, aku membicarakan tentang dia.. kukira kau mengerti siapa yang kumaksud sedang membaca novel, tertidur, dan mengapa aku ada di depan bangkunya waktu itu.. tapi ternyata kau tidak..”

“mian, tapi aku benar-benar tidak melihat siapapun.. apa benar dia masih sering membaca novel dan tertidur?”

“ne.. selalu.. dia kadang memperhatikanmu..”

“begitu.. sebenarnya, saat itu.. saat akhirnya dia masuk rumah sakit, aku sedang latihan drama.. dan saat aku tiba di tempat bertemu kami seperti biasanya..”

“taman belakang sekolah itu..?”

“kau, juga tahu tempat itu?”

“ne.. dia mengajakku kesana tiap pulang sekolah..”

“hm.. saat aku bertemu dengannya.. dia sudah tidak sadarkan diri.. dengan wajah yang benar-benar pucat.. di depan pohon besar itu.. aku menangis tiada henti.. saat itu..”

“dan, kau diputuskan olehnya?”

“ne, dia sudah pasrah karena.. dia tahu dia tidak akan bertahan lebih lama lagi dengan penyakitnya itu..”

“tapi aku bertemu dengannya sebulan yang lalu.. hidup.. memang tidak bisa diduga..” aku menghela nafas panjang. Ini benar-benar realita yang berat. Orang yang kusayangi ternyata orang yang kucintai.. mereka orang yang sama.. yang membuat hati ini selalu berpacu dengan cepat.

“Moon, ayo kita harus latihan drama lagi” Inha-sshi tiba-tiba masuk dan menarik lengan Moon.

“mian Rere.. dan terima kasih karena telah berteman dengannya..” akhirnya dia pergi meninggalkanku di kelas sendirian.

“saatnya pulang..”

Aku berjalan pelan menyusuri lorong sekolah. Sesekali melihat keluar jendela. Banyak siswa yang memakai syal. Musim salju.. tapi salju belum juga turun.. apa aku masih bisa.. setidaknya.. berharap aku dan dia melihat salju bersama?

“ah, salju..” aku melihat salju putih yang turun perlahan di luar jendela. Apa itu salju pertama? Aku sudah berjanji padanya untuk melihat salju bersama.. walau dia tidak ada, aku akan tetap kesana.. menemani pohon besar itu..

Salju-salju putih itu turun perlahan seperti daun yang berguguran. Semua terlihat menjadi putih bersih. Tanpa noda.. salju bersih.. yang jarang kulihat di kota besar seperti dulu. Andai dia bisa melihatnya bersamaku juga.

“sore..” aku berhenti tepat saat hendak memasuki taman kecil ini. Melihat ke sebuah pemandangan yang aku tidak bisa mendeskripsikannya. Ini, tidak mungkin.

“Ye—Jongwoon oppa”

“Yesung atau Jongwoon.. terserah padamu..” dia tersenyum padaku, dan menepuk bangku di sebelahnya. Pakaiannya putih seputih salju. Rambutnya yang hitam legam sama persis seperti saat dia dirumah sakit. Dia bertelanjang kaki. Dan membawa sebuah kotak yang, tidak bisa dibilang kecil, dan juga besar. Tapi.. Dia.. bukankah dia..

“ternyata memang tidak bisa meninggalkan dunia begitu saja dengan beban seberat ini.. hahaha”

“beban? Apa?” bisikku pelan, tapi aku masih tetap berdiri. Aku masih tidak percaya dengan yang kulihat ini. Apa ini hanya sebuah halusinasi?

“Kau, yeoja yang baik.. aku sudah bilang itu padamu.. dan juga ceria.. karena itulah aku mencemaskanmu. Kau selalu bercerita padaku tentang dirimu yang tidak mempunyai teman di setiap sekolahmu.. padahal kau benar-benar yeoja yang menyenangkan dan menenangkan..”

“kenapa oppa.. melakukan ini padaku?”

“karena hari terakhir kau di rumah sakit saat itu.. wajahmu.. benar-benar hal yang sangat membuatku cemas selama aku hidup.. entah kenapa.. aku ingin berada disampingmu dan menjadi temanmu, menemanimu mendapat teman baru. Tapi aku tahu, itu tidak mungkin.. dan dokter bilang, aku mungkin, hanya bisa bertahan hingga akhir musim gugur ini..”

“kenapa kau tidak mengatakan semuanya padaku dari awal?” aku menahan airmataku sebisa mungkin.

“bukankah dengan begitu, kau akan makin sedih? Aku hanya ingin memberimu harapan untuk tetap melangkah maju..” dia tersenyum seperti seorang malaikat. “tapi kau tahu.. semua yang kita lalui.. bersama.. membuatku senang”

“lalu apa.. yang kau maksud dengan lingkaran janji?” aku menggigit bibir bawahku. Mencoba menahan tangisan yang hampir keluar dari pelupuk mataku.

“aku membuat perjanjian dengan tuhan, agar memperbolehkanku hidup lebih lama.. walau hanya satu musim.. untuk bisa bersamamu, menemani dirimu, melihat keberadaanmu di sekolah.. dan menepati janjiku denganmu.. tapi ternyata tidak bisa.. hahah..”

“kau melanggarnya.. saat itu..”

“ne, demi dirimu, aku melanggar janji itu.. setidaknya aku ingin memastikan kau baik-baik saja.. dan itu karena salahku, kan? Maafkan aku..”

“tidak, itu bukan salahmu..” aku menutup mulutku dengan telapak tanganku. Namja ini.. apa dia tidak tahu perasaanku? Ditinggalkan oleh namja yang paling disayangi dan dicintai.. kenapa.. dia tidak mengerti..

“dan karena aku mengingkari janjiku pada-Nya.. aku telah menguras semua tenagaku..” dia berdiri dan berjalan kearahku. “mian, aku tidak bisa bersamamu lagi..”

“Yesung.. oppa..” airmataku mulai menutup mataku.

“dan kau tahu satu hal? Aku akhirnya mengerti.. kenapa setiap saat kau berada didekatku.. rasanya hangat dan nyaman.. bahkan saat seperti ini juga.. walau aku sudah tiada, aku masih bisa merasakan kehangatan itu.. itu bukan karena sifatmu yang baik dan selalu ceria bagai matahari..” dia membuka kotak itu. Kotak berisi syal putih.

“mak—maksudmu..?”

“tapi karena.. aku mencintaimu” dia mengalungkan syal putih lembut itu, dan mengecup keningku pelan. “saranghae.. mian, saranghae..”

“oppa..”

“jangan menangis, pada akhirnya aku bisa mengatakannya dan bebanku menghilang, dan kau sekarang malah menangis? Apa kau membuat bebanku bertambah?” dia tertawa pelan.

“mian.. nado.. nado saranghae..” aku dalam linangan airmata ini, bisa melihatnya tersenyum sangat indah.

“benarkah? Gomawoyo..” dia memelukku lembut.

“jebal jangan pergi lagi.. tetaplah disini..”

“mian Rere.. gomawo.. Saranghae” dan untuk yang terakhir, dia mengecup lembut bibirku.. dan perlahan kelembutan dan kehangatan bibirnya itu menghilang.

“gomawo..” suaranya menghilang bersama desir angin dan salju yang mengencang.

“Yesung..” aku memeluk syal putih yang entah kenapa.. masih dapat kurasakan. Aku melihat kedalam kotak yang dia berikan padaku.

——

Untuk Rere, aku membuatnya susah payah untukmu selama dirumah sakit.. jaga baik-baik.. hadiah natalku untukmu ^^ –Jongwoon

——

“Kamsa..” aku menangis kembali dan tersenyum kecil. “jadi ini yang dia buat? pantas saja.. rajutannya tidak rapi begini.. hehe” dan akupun akhirnya berjalan pulang dengan hati ringan.

Terima kasih untukmu, namja yang selalu memperhatikanku.. walau dari jauh sekalipun.. saranghae, Yesung.. Jongwoon oppa.

the end—

——

thanks for reading clouds and elf :3

sincerely, author hachidarksky ^^)/

Advertisements

22 Comments

Leave a Comment
  1. hachidarksky / Jun 22 2012 5:20 pm

    mian kalo kurang gimana gitu.. hhe ^^’a

  2. lia960102elf / Jun 22 2012 8:04 pm

    Keren!!!! Eonni FF y nyentuh bgt >___<
    Pokok y DAEBAK!! ^__^

    • hachidarksky / Jun 22 2012 8:14 pm

      kamsa saeng :3 :3 :3
      aku tunggu ff karyamu~

  3. elfcloud3424 / Jun 22 2012 9:25 pm

    Kyaaaaa … TT_TT… HIks… hiks… kau membuatku menangis KyuRin… hiks hiks..
    sumpah,, unni nangis baca chapter ini, rasanya nyesek banget, apalagi Rere belum sempat menyatakan cintanya pada Jongwoon a.ka Yesung.. hiks.. hiks..

    gak terima!!!! #ambil pisau nyoba bunuh diri#
    kasihan Rere,, dan Yesung juga, kenapa dia gk menepati janjinya u,u

    ini udah sangat bagus KyuRin..
    Ini FF straight pertama yang buat unni nangis,,
    Gomawo udah dibuatin FF yang daebak gini #ambil tisu

    suwer masih nyesek walaupun udah selesai baca, jadi ngerasa kalau itu beneran terjadi, apa bisa unni setegar Rere #plaaaak.
    sudah cukup nangisnya T_T…
    Nice, Good, Great n apalah, pokoknya semuanya unni sebut buat FF mu ini.

    FF angst yang bikin unni nangis T_T.
    Keep writing KyuRin ^^ #Senyum terpaksa, karena masih sedih#

    • hachidarksky / Jun 22 2012 9:30 pm

      kyaaa.. *kasi tisu*
      kamsa unni.. TT.TT
      sy juga ikut nyesek pas bikin..
      hiks..

      dia gk bisa nepatin soalnya tenaganya udah terkuras..
      rere sih.. pake pingsan segala.. /plak

      ne unni.. kamsa :’)
      my pleasure to make this FF for you.. :’)
      you too, keep writing~

      • elfcloud3424 / Jun 22 2012 9:38 pm

        Yaa!!!
        Yg bikin pingsan kan km -_____- sampe 2 hari gitu,,
        kalau gk sampe 2 hari kan rere sama yesung masih bisa romantisan berdua #masih gk terima#

        pokoknya aku akan bikin kyupil #plaaak Kyuhyun menderita di FF yang akan unni buat *emang kapan mau buat Straight*

        tapi jeongmal gomawo *ala-ala lagunya suju*
        #hug Kyupil.. hehehe

      • hachidarksky / Jun 22 2012 9:43 pm

        kkk..
        biar seru lo sampe 2 hari.. kan metal (>w<)\m/
        biar lgsg kena di hati.. /plak

        okeh, buat dia menderita *__*)9
        sy akan selalu berada disampingnya XD

        kkk
        nado cheonma gwenchana kamsa gomawo /sebutajasemua /plak
        #hugkyu #kickyesungtounni kkk 😀

  4. lovelyminbi / Jun 23 2012 6:06 pm

    nya muuu… -Nya ..
    aku baca lewat lewat.. soalnya ngantuk.. huehehehe… tegang bacanya euy..
    hahaha..

    apa ya.. mungkin karena bacanya cuman waktu ngobrolnya doang jadi gak lihat apa yang kurang. Tapi TEGA AMAT KAU MEMBUAT PACAR GUEH MATI HAAA? *padahal biasanya bikin yesung juga mati* tega lu tega.. aku bikin kyu mati baru tahu rasa lu *ngadu yesung, eh salah kan udah mati.. ngadu sungmin aja deh*

    • hachidarksky / Jun 23 2012 7:16 pm

      kon mabuk ta? XD *ngakak baca komen gak jelas*

      loh, wae kau baca pas ngobrolnya doang D: *angkat leptop min, siap lempar*
      KATANYA GAKPAPA PIYE TOH D: !! *lempar leptop min*
      oke yaudah, ayo sana bikin ff kyu mati >DD

      ….
      *pukpuk yesung* XDD

      • lovelyminbi / Jun 23 2012 7:28 pm

        kesisi-Nya nak !!! hadeeehhh…
        di bilangin ngantuk kok… iki wes mboh mbohan gawe ff maneh..

        kyu mati? gak seru.. kamu mati aja.. kasian tuh namja terus yang di kubur, sekali sekali yeoja yang di kubur XDD

        yesung mianhae *pukpuk*

      • hachidarksky / Jun 23 2012 7:33 pm

        wakakakakakak XDDD
        gaonok “kesisi” ne wah XDD
        nggarai ngakak XD

        loh.. wae D:
        aku pgn tau dia kalo mati kyk gmn di ff <– anae jahat
        kkkk X^DD
        kan aku rada ga tega bikin kyu-ku mati XD
        kan kamu udah :3 :3 /plak

        *tepuk tangan* (?)

      • lovelyminbi / Jun 23 2012 7:37 pm

        ngomong gak ada, coba di baca lagi yang waktu sonsaengnimnya ngomong kalo yesung udah MATI *di golok yesung – ampun jagiii*

        kamu mati aja ya.. tapi kapan kapan kalo ceritaku udah pada tamat hiks

      • hachidarksky / Jun 23 2012 7:43 pm

        OAH YANG ITU XD
        kukira yang di komen `mabok`mu.. XD

        hiks.. aku kan udah pernah mati..
        jadi robot lagi (?) kkkk

        yaudah deh.. awas lo ya.. *__*)9

      • lovelyminbi / Jun 23 2012 8:21 pm

        apaan yang awas?
        ayo di ganti, tuhan itu tidak boleh kecil anak tua *eh

      • hachidarksky / Jun 23 2012 10:03 pm

        awas gak dibikini… .__.

        tuhan gak boleh kecil ha maskdunya? *bingung*

      • lovelyminbi / Jun 23 2012 10:42 pm

        tulisaannya !!! hadeeehh.. udah tua deh si unni ini :p

      • hachidarksky / Jun 23 2012 10:45 pm

        tulisan yg mana D: D:
        tolong lebih detil lagi D::

      • lovelyminbi / Jun 23 2012 10:50 pm

        sisi-NYA nah tuh.. itu nya tuhan kan?

      • hachidarksky / Jun 23 2012 10:51 pm

        iya.. kan N nya udah besar.. ga boleh gitu aja ya? yaudah aku ganti.. :\

      • lovelyesung / Jul 31 2012 7:59 am

        ANNYEONG LAGI 😀 AKU NYEMPIL LAGI AH~~~ *geser bi
        hmmm nah disini udah mulai keliatan alurnya, dan aku baru tau kalo Yesung sama Jongwoon itu orang yang sama. aku fikir mereka kembar gitu -____-a
        well over all sih bagus *berasa agnes monika… MONIKA SAMA YESUNG IYA! HAHAHAHAHA* kalau commentku mulai absurd begini berarti saatnya kita kabur… Whooossssss~~~~~~~ eits lupa, aku follow blogmu, follback yoooo. ANNYEEEEEEEEEOOOOOONG~~~~~~ *kabur lagi*

      • hachidarksky / Jul 31 2012 6:41 pm

        yeaay~
        bahagia sekali org2 mikir mereka kembar..
        sy berhasil :’3 /semplaked/
        umu.. :3
        oke makacih kaka~

        ah.. mbak agnes monica…..
        cepat pergi anda dari siwooon !!!
        siwon milik depiiiiii *kejaaaaar*

  5. ayu tri / Apr 3 2015 2:26 am

    Hikss, Gaªª terima akhirnya seperti ini…

Leave some Advice :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: