Skip to content
August 2, 2012 / hachidarksky

Extra Tutorial of Love [ Shim Changmin and Shim Minmi Fanfiction ]

author : hachidarksky

genre : oneshoot, romance, fanfiction, slice of life

language : Indonesian

main cast : Shim Changmin, Shim Minmi (3001changminnie.wordpress.com)

other cast : Kim Raemun, Park Ririn, Dong Youngbae, Choi Dongwook

notes from author : a thankyou gift for my Minmi unni~ . and this story kinda based on manga I’ve read~ enjoy! 😀

 —

Selamat sore, aku Shim Minmi. Seorang siswi SMA biasa yang menjalani hidup dengan sangat normal. Tidak punya pacar, hidup dengan santai, melewati hari-hari dengan dua teman konyolku di sekolah, dan mulai minggu kemarin.. aku terpaksa mengikuti les tambahan karena ummaku menginginkanku masuk ke Universitas ternama di Seoul.

Aku sedang duduk dan melihat keluar jendela, menatap orang yang berlalu lalang dengan wajah datar mereka melewati sore yang indah diluar sana. Sedangkan aku, duduk di sini, menunggu guru pengganti datang. Apa kalian tidak suka dengan kebebasan kalian berjalan diluar sana sedangkan aku malah berada disini? Harus belajar? Gantikan aku saja kalau kalian masih berwajah datar seperti itu! Tolong! Aku malas.. sangat.

“apa kau tahu? Guru penggantinya seorang namja!”

“eeh? Apa keren?”

“aku tidak tahu, semoga saja!”

Aku makin memalingkan wajahku mendengar gosip dari dua siswi di depanku. Mereka ini, belajar tidak, bergosip iya. Mana bisa aku fokus belajar di tempat les yang katanya paling manjur ini kalau isinya seperti ini? Lebih baik aku belajar bersama teman kelasku saja daripada disini. Ish, ini menyebalkan.

“selamat sore! Maaf saya terlambat!”

“sore!”

Dan beberapa yeoja mulai berbisik tidak berhenti. Cih. Mulai deh, ribut soal namja keren. Apa kerennya guru les? Kerenan juga anak boyband. Terserahlah. Aku harap ini cepat selesai dan aku tidak harus berlama-lama menatap guru pengganti yang me—tidak mungkin. Tidak! Minmi! Kau tidak boleh jatuh hati padanya! Tidak bisa! Guru pengganti ini.. tampan bukan main!!

“perkenalan dulu ya..”

“ne songsaenim!” histeris mulai menjadi, dan.. dan aku juga ingin ikut histeris bersama mereka! Tapi—tapi egoku..

“nama saya, Shim Changmin”

“Bangaptaaa!!”

Asal tahu saja.. isi dari kelas lesku ini adalah full siswi. Dan tentu saja, seruan histeris mereka barusan pasti membuat ribut satu tempat les. Guru tampan ini juga sampai menutup telinganya. Aigo.. dia benar-benar manis..

“hahah.. mohon kerjasamanya.. Bangapseumnida..” dan dia tersenyum. Bunuh aku. Tolong.

“Songsaenim, bagaimana kami harus memanggilmu? Changmin-sshi?” tanya seorang siswi. Pertanyaan bagus!

“terserah kalian saja.. saya harap bisa lebih dekat dan rileks dalam pengajaran saya”

“Changmin oppa!”

“ahahah.. kalau itu—“

“kami akan memanggil anda Changmin oppa!” dua yeoja yang sering bergosip didepanku ini membuatku mengacungkan jempol tanpa kusadari. Untuk pertama kalinya, aku sependapat dengan mereka!

“Opppa!” seru seluruh yeoja di kelas. Secara diam-diam, aku pun ikut bersorak bersama mereka. Kyaaa! Oppaaa!!

“ahah.. baiklah kalau itu mau kalian..” dia tampak tidak mau, tapi kurasa dia pasti kalah dengan semua seruan yeoja di kelas ini! Ah! Aku harus menceritakan hal ini pada dua orang babo itu!

“baiklah.. kita harus memulai kelasnya.. oke?” dia tersenyum dan membuat seisi kelas kembali berteriak. Ini seperti melihat acara fansign dan konser idola ternama! Yaampun dia benar-benar tampan dan manis! Changmin oppaaa!

“ada apa ini? Jangan berteriak terus! Belajar!” guru senior tempat les ini datang tiba-tiba dan membuat seisi ruangan terdiam seketika dan langsung membuka buku pelajaran.

“terima kasih sunbae..”

“lakukan pekerjaanmu dengan benar”

“baiklah.. kita buka halaman 14..”

Dan akhirnya kelas les ku kembali diam dan mulai memperhatikan apa yang diajarkan oleh guru pengganti ini. Ah.. kalau gurunya seperti ini.. aku bakal betah disini.. tidak lulus pun tidak apa.. eh, Minmi! Kau kan harusnya ingin cepat selesai les! Kenapa jadi berpikir seperti ini!

“ng.. Shim.. Minmi?”

“ah? Ne?” aku berdiri tegap begitu namja imut nan manis itu memanggil namaku. Bagaimana dia tahu? Kyaa!

“kau mengangkat tangan saja tidak apa kok.. silahkan duduk kembali” dia tertawa dan seisi kelas juga menertawakanku. Sial. Ternyata dia sedang mengabsen nama kami! Yaampun, ini memalukan!

“mi—mianhae..” aku duduk dengan wajah super merah. Sial. Sial.

Setelah dia selesai mengabsen, dia mulai mengajar kembali. Sesekali bercanda dengan para murid dan di saat yang lain wajahnya sangat serius menerangkan. Namja yang mengagumkan.. apa dia punya yeojachingu?

“hei, apa kita tanyakan nomer handphonenya setelah les selesai?”

“kita harus tahu apa dia punya yeojachingu juga apa tidak! Siapa tahu kita dapat kesempatan mendekatinya~”

Oh, dua yeoja tukang gosip ini ada bagusnya juga untuk dimanfaatkan. Mereka seperti bisa membaca pikiranku! Aigoo.. mereka harus kuacungi jempol saat ini!

RIIIIIIINGG

“ah.. sudah waktunya selesai saja? Hahahah.. baiklah kita akhiri disini dulu.. sampai jumpa besok, saya senang mendapat murid pertama seperti kalian” dia membungkuk dengan gentle nya pada kami. Aku makin jatuh hati padanya.

“Changmin oppa!”

“ah? Ne, ada apa?”

“apa oppa punya yeojachingu?” STRIKE! Kerja bagus!

“hahah.. kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu..” dia terdiam sebentar, bisa kulihat dia bersusah payah menelan ludah begitu melihat tatapan seisi kelas yang benar-benar ingin tahu jawabannya.

“tidak, saya tidak punya” KYAA!!

“boleh kami minta nomer handphone oppa?”

“ng.. kalau itu.. kalian harus mendapat ranking satu dalam tes pelajaran bahasa inggris yang akan diadakan tempat les ini besok lusa”

“eehh? Waeyo oppa!”

“karena.. nomerku sangat rahasia” dia tertawa dan lalu membungkuk lagi. “selamat malam, langsung pulang, jangan pergi-pergi.. jumuseyo semuanya..” dan dia pergi meninggalkan ruangan dengan diiringi seruan tidak terima para yeoja. Ish! Kenapa pelit sekali! Tapi dia terlalu manis sampai kami tidak bisa menolaknya!

“uh, bahasa inggris? Aku tidak yakin akan mendapatkan nomernya..”

“nanti kita tanya pada yang dapat saja! Sudah, ayo kita pulang!”

“benar juga! Oke, ayo~”

Aku memperhatikan dua yeoja yang suka bergosip itu pergi keluar dari kelas. Mereka, membantu! Hahahah.. tidak kusangka mereka sangat berguna disaat seperti ini.. besok aku akan bercerita pada dua teman baboku di sekolah.. soal namja.. yang benar-benar manis ini.. karena kurasa aku benar-benar jatuh hati padanya.

-ccc-

“PAGI!”

“aduh! Minmi! Kau ini! Untung saja bekalku tidak jatuh”

“hehe, mian..” temanku yang baru saja kuterjang dengan indah ini bernama Kim Raemun, Rere. Single, pasti, ceria dan juga sangat aneh. Sebenarnya hampir sama sepertiku sifatnya hahahah. Tapi aku tahu dia pasti lebih aneh dariku. Dan sekarang, aku tidak melihat temanku yang satu lagi. Dimana dia~?

“pagi.. hoaahm..”

“Ririn~!” aku berlari kearah temanku yang masih memakai hoodie jaketnya itu, Park Ririn. Hmm~ udara pagi ini kuakui memang dingin sih.

“yaa.. apa yang kau lakukan.. jarang kau main peluk seperti ini..” dia menghindar begitu saja dari pelukan mautku. Uh! Pelit!

“hei! Hei! Kau tahu~ aku sangat senang hari ini~!”

“kami bisa melihatnya..” mereka menghela nafas tidak seperti biasanya.

“yaa! Kenapa kalian seperti itu! kalian biasanya heboh tidak karuaaan! Aku punya cerita niiih” aku memukul-mukul meja milik Rere berkali-kali hingga dia memegang tanganku.

“aku juga punya cerita” ucapnya pelan.

“aku juga” tambah Ririn tiba-tiba.

Seketika kami bertiga terdiam. Bingung. Siapa yang harus bercerita duluan sekarang. apa aku harus mulai duluan? Tapi kurasa mereka harus mulai duluan karena wajah mereka.. mengatakan kalau itu cerita sedih? Kurasa aku mulai duluan saja! Pasti mereka langsung lupa akan kesedihan mereka!

“aku bertemu seorang namja!”

Eh? Ha? Mereka bilang apa? kenapa sama sepertiku??

“apa? kalian bilang apa?”

“sebenarnya, aku bertemu seorang namja..” Rere berselonjor dimejanya dan bisa kulihat wajahnya memerah.

“ne, aku juga” Ririn juga begitu. Wajahnya sangat merah!

“kalian juga? Aku juga!” aku bertepuk tangan sendiri diantara kami bertiga. Kyaa kyaa! Mereka menemukan namja disaat yang sama denganku! “aku cerita duluan yaa~!”

“aku dulu, sebelum aku lupa” sergah Ririn tiba-tiba.

“ya! Bagaimana kau bisa melupakan namja itu begitu saja!” aku menegtuk kepalanya dengan pensilku. Temanku yang satu ini selalu bisa saja membuat kami tertawa karena ucapannya itu.

“ayolah! Kalian tahu aku pelupa!” dia mulai mempoutkan bibirnya dan kami tertawa makin menjadi.

“baik, ceritakan.. setelah itu aku!” Rere duduk tegap sambil mengacungkan tangannya tinggi-tinggi.

“ya.. Rere-yah.. kau kira ini kuis.. baiklah aku cerita paling terakhir.. kalian ini, seperti anak kecil!”

“hehe! Oke aku mulai~!”

Ririn akhirnya menceritakan bagaimana dia bertemu dengan namja itu. Namun ternyata dia masih belum tahu nama namja yang ia kagumi itu. Dia masih memanggilnya Namja Subway. Aneh sekali. Tapi pantas sih.. Ririn selalu bertemu dengannya di Subway memang. Dan dari ceritanya ini.. dia terlihat seperti seorang stalker malahan. Memperhatikan gerak-gerik Namja Subway itu dibalik majalah. Benar-benar berbakat menjadi stalker.

“dia, sangat manis” ucapnya menutup akhir ceritanya. Aku dan Rere bertepuk tangan karena cerita panjang nan lebar juga super detail miliknya. Ririn kalau bercerita seperti menjelaskan isi dari novel secara mendetil. Benar-benar tidak ada yang luput sedikitpun kurasa. Mungkin karena itu nanti dia jadi pelupa.. banyak sekali yang harus dia hafalkan!

“Aku! Aku sekarang!” Rere mulai mengangkat tangannya benar-benar seperti sedang dalam acara kuis saja.

“ne, mulai lah”

Rere akhirnya bercerita tentang namja yang tidak sengaja ia temui di jalan pulangnya. Namja yang satu ini mendapat julukan Namja Musim Gugur. Mereka, makin lama makin aneh saja memberi nama. Kenapa tidak tanya namanya saja sih.. heran deh. Tapi, nama Namja Musim Gugur katanya karena dia duduk dikursi dibawah pohon besar yang sedang mengalami pengguguran daun di musim gugur ini. Apa tidak ada nama lain gitu ya? Namja Misterius atau apa gitu? Tapi daripada itu.. Rere benar-benar seperti orang kasmaran. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini.

“tidak kau ajak bicara?”

“sudah.. tapi dia hanya diam saja..”

“sabar ya” aku menepuk pundak Rere pelan. “sekarang giliranku!”

“hanya itu saja komentarmu? Jahaaat”

“ya! Aku bahkan tidak diberi komentar!” Ririn mulai mempoutkan bibirnya lagi.

“ceritamu sangat bagus kok” aku memberi thumbs up pada Ririn dan tertawa evil padanya.

“ayolah, sekarang giliranku!”

“baiklah.. mulai cepat!”

KRIIIING!

“ah, bel mulai pelajaran.. nanti saja saat istirahat makan siang ya, Min-chan!” Ririn beranjak dari kursi yang ia duduki dan mengembalikan kursi itu pada tempatnya.

“sudah, jangan sedih hahahahah.. nanti saat istirahat lebih leluasa bercerita, kan?” Rere menepuk pundakku pelan. Wajah dengan sunggingan senyumnya itu seperti balas dendam karena komentar singkatku tadi.

“uh, baiklah..” akhirnya aku kembali ke bangku milikku di pojok depan dekat jendela, dan mulai menerawang keluar seperti biasa. Tapi kali ini, aku tidak sembarang menerawang.. aku menerawang.. Changmin oppa.

“akhirnya malah saat pulang sekolah aku menceritakannya.. kalian babo” aku melipat tanganku dan mengumbar wajah kesalku pada mereka.

“aku dipanggil oleh wali kelas tadi saat istirahat..” Ririn mengibaskan tangannya dengan wajah malas.

“aku diminta membantu senior klubku..” Rere juga berselonjor lemas dengan wajah malasnya.

“yasudah, aku tidak jadi cerita”

“aaa.. iya iya.. jangan marah.. ceritakan.. sebentar lagi aku harus pulang.. kalau tidak.. aku tidak bisa bertemu dengan namja itu” Ririn menutup wajahnya karena malu.

“stalker..” gumamku pelan dan dia hanya menjulurkan lidahnya.

“jadi.. mulai sekarang, aku ingin pulang cepat untuk segera ketempat lesku” aku berhenti sebentar melihat reaksi yang akan mereka berikan. Tapi mereka hanya diam saja. “YA! Reaksinya mana? Reaksii?”

“ah mian” Ririn ternyata sedang melihat kearah handphonenya yang tersembunyi dibalik meja, dan Rere..

“ha mwo? Apa? ada apa?” dia tidur. Kukira dia mendengarkan sambil menutup matanya!

“aaaa kalian jahaatt”

“aku dengar kok.. kenapa kau? Tumben ha? Bukannya disana ada dua yeoja tukang gosip menyebalkan yang selalu kau ceritakan itu? hahahah.. pasti namja itu murid baru ya?” tanya Ririn setelah dia meletakkan handphonenya di dalam tas.

“bukan!”

“bukan? Maksudmu?” hehe. Reaksi ini yang kutunggu!

“dia.. seorang guru”

“MWO??”

“ye, guru~!”

“kau gila! Kenapa sampai suka pada seorang guru sih! Ini seperti di komik dan fanfiction saja.. cinta antara guru dan murid.. ini cinta terlarang!” Ririn menggebrak meja Rere dan membuatku serta Rere terkejut bukan main.

“yah! Jangan di gebrak.. kasihan mejaku.. gebrak mejamu sendiri sana..”

“apa maksudmu cinta terlarang? Cinta itu sah-sah aja kali segala umur profesi apapun.. asal ada cinta~”

“ini cinta terlarang.. yang sering kubaca.. dan ini kejadian di kehidupan temanku sendiri.. ini.. ini..” Ririn mengepalkan tangannya dan menunduk dalam.

“waeyo? Tidak apa kan!”

“INI SANGAT SERU!!” tiba-tiba saja dia langsung berdiri dan meloncat kegirangan. “ya! Tunjukkan wajah guru itu! pasti sangat tampan sampa kau betah di tempat lesmu itu!”

“aku belum punya fotonya, tapi nanti akan kuambil! Pasti!”

“yahha! Kau juga seorang stalker!!” dia malah menepuk punggungku keras dan tertawa terbahak-bahak.

“curang sekali kamu min-chan.. aku bahkan tidak di gubris olehnya..” Rere mulai lemas kembali. Sepertinya cerita cintanya tidak lancar sekali.

“ya! Kau tidak digubris.. aku dan orang itu bahkan tidak saling bertatapan!” Ririn menjitak kepala Rere dengan segala kekuatannya kurasa.. suaranya keras..

“aigo! Sakit!” dan mereka mulai saling mencubit pipi.. mereka ini..

“sudah hentikan! Aku pulang duluan! Nanti terlambat les dan bangku kesukaanku dipakai oleh yeoja lain! Annyeong!” akhirnya aku meninggalkan mereka yang sekarang meneriaki namaku dan ikut berlari keluar kelas mengejarku. Hahahahah! Dasar!

“kita berpisah disini! Dah kalian berdua.. hati-hati dijalan!” aku melambaikan tanganku pada kedua temanku itu di perempatan tempat kami akhirnya berpisah. Rere ke utara untuk pulang kerumahnya, Ririn ke barat menuju stasiun karena dia tidak tinggal di wilayah ini seperti aku dan Rere.. sedangkan aku, ke arah selatan menuju tempat lesku! Kyaa! Aku akan bertemu dengannya lagi!

BRUK!

“omona.. sakit..” aku jatuh terjerembab begitu saja begitu menabrak sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu.

“kau tidak apa?”

“ah.. eh.. ung.. ne..” ya tuhan.. aku di surga.

“apa aku mengenalmu?” tanyanya seraya memiringkan kepala.

“eh.. Changmin oppa.. aku.. murid di tempat les mu..”

“oh, kau di kelas itu?” dia membantuku berdiri dan meluncurkan senyuman manisnya. Aaa! Aku ingin mencubitnya!

“n—ne..”

“oh, kebetulan.. ayo kita jalan kesana bersama..” DOR. Aku benar-benar beruntung! Aku yeoja paling beruntung! Aku merasa benar-benar beruntung! Berapa kali sudah aku bilang beruntung?? Ini tidak mungkin! Aku jalan dengannya! Ini seperti kencan! Kyaa! Minmi kau yeoja paling beruntuuung!!

“ng.. apa ada yang salah?”

“oh? Eh.. tidak..” aku menunduk malu kembali. Dia begitu dekat.. semoga dia tidak mendengar suara detak jantungku.

Dan suasana menjadi sunyi.. tempat lesku masih jauh di ujung sana.. dan waktu terasa berjalan begitu lambat. Aku makin gugup tidak karuan. Apa yang harus kubicarakan? Bagaimana ini?

“ah ya, namamu?”

“Mi—Minmi.. Shim Minmi..”

“Shim? Marga kita sama.. apa leluhur kita juga ya? Hahahah”

“ahahaha.. mungkin oppa”

.

.

Sepi kembali.. situasi awkward.. alert!!

.

“ah.. oppa punya saudara?”

“ne, dua adik perempuan”

“oh..”

“hari ini dingin ya” balasnya mengalihkan pembicaraan.

“ng.. ne..” memang, musim gugur kali ini dingin sekali. Aku lupa membawa sarung tanganku. Kurasa tanganku sedikit kaku karena itu. kalau digosokkan mungkin akan sedikit hangat.

“ini, kupinjamkan” tiba-tiba dia melepas sarung tangannya dan memberinya padaku.

“eh? Apa tidak apa?” kurasa wajahku memanas. Dia benar-benar baik.

“ne, aku masih punya syal.. atau kau mau syalku?” tanyanya dengan wajah polos.

“ng, ini cukup..” aku.. kurasa, aku benar-benar menyukainya. Dia baik, ramah, dan aku suka berada didekatnya.. tidak seperti para yeoja di tempat lesku itu. didekatnya itu, terasa seperti sedang dilindungi oleh kehangatan. Entah sejak kapan aku jadi puitis seperti ini. Tapi ini benar. jantungku berdebar-debar saat didekatnya.

“oke.. karena ini syal kesayanganku.. dari orang yang paling kusayangi” JLEB. Oke, sifat puitisku hancur seketika. Ternyata.. dia.. apa dia berbohong tidak mempunyai yeojachingu? Kenapa?

“n—nugu?” aku mencoba bertanya walau mungkin jawabannya akan membuatku sakit hati.

“Shim Sooyeon dan Shim Jiyeon.. orang yang paling kusayangi”

“dua?” tanyaku bingung yang malah membuatnya tertawa kecil.

“ne, adikku”

“ah.. oh.. ahahahahahah”

“waeyo? Ada yang lucu?”

“tidak.. tidak apa..” aku sudah salah pikir.. hahah.. babo Minmi babo.. lagipula, dia tidak seperti guru.. dia seperti.. teman yang tidak beda jauh diumur. Aku jadi ingin tahu berapa umurnya.. tapi apa itu sopan?

“ah, sudah sampai.. cepat ke kelasmu.. saya harus ke ruang guru dulu” tiba-tiba saja nada bicara dan ucapannya menjadi formal. Apa karena sudah masuk tempat les?

“ne, kamsa songsaenim” aku membungkuk dan langsung berjalan cepat masuk ke dalam kelas lesku. Untunglah bangkuku belum ditempati.

Belum ada 10 menit, tiba-tiba kelas menjadi ramai. Pasti Changmin oppa masuk kedalam kelas. Gumamku sambil melihat keluar jendela.

“sore semuanya.. hari ini setengah jam pelajaran saya akan menerangkan teori.. dan setengah jam pelajaran untuk latihan tes besok.. bagaimana?”

“aaah.. oppa! Bagaimana kalau kita berbincang-bincang dulu?”

“bukankah kalian ingin nomer handphone saya?” tanyanya sambil tertawa kecil. Semua kembali diam dan dengan patuh mengangguk setuju. Aku juga. Hm, mungkin aku harus belajar pada Ririn juga soal bahasa inggris seperti ini..

“baiklah.. pelajaran dimulai.. masukkan handphone kalian”

-ccc-

“dia mengajakku bicara!”

Kami bertiga terdiam kembali.

“kenapa kita selalu mengatakan hal yang sama?” aku tertawa kembali, begitu juga Ririn dan Rere.

“siapa duluan yang bercerita sekarang?”

“aku!” Rere mengacungkan tangannya. “aku sudah selesai makan siang dan kalian belum, jadi aku yang cerita duluan!”

“baiklah, setelah itu aku!” aku menatap Ririn mencoba mendapat kesempatan duluan.

“oke oke kau duluaaan” Ririn akhirnya menyerah dan mengunyah telur dadarnya kembali.

Rere bercerita panjang lebar dengan senyuman super lebar. Sepertinya dia benar-benar bahagia diajak bicara dengan namja itu. yah, aku turut senang mendengarnya sih. Sudah bertahun-tahun dia tidak punya namjachingu. Walau aku juga, tapi aku hanya selingan bulan. Ririn, dia tidak pernah sama sekali malah. Tapi aku sedikit meragukan Ririn, sih.. hahahah.. tidak mungkin dia tidak pernah punya namjachingu.

“jadi, sekarang aku memanggilnya Yesung.. suaranya sangat.. merdu” wajahnya yang merona merah mengakhiri pembicaraannya tentang namja itu. jadi, setidaknya.. akhirnya namanya tidak se-absurd seperti yang kemarin lusa.

“aku sekarang!” aku menutup kotak bekalku dan mulai menautkan tanganku, mencoba serius.

“jangan sok serius.. sudah langsung saja” Ririn menyeletuk tepat sasaran. Cih, dia ini.. bisa saja membaca rencanaku.

“aku.. kemarin saat akhirnya berpisah dengan kalian di perempatan itu.. tidak sengaja menabraknya!”

“omo? Bukankah itu terlalu sok romantis? Bilang saja kau sengaja menabraknya..” Ririn menjulurkan lidahnya dan Rere mengangguk setuju.

“ish! Serius ini! Aku tidak sengaja menabraknya.. dan.. akhirnya kami berjalan berdua sampai ke tempat les..”

“lama dong? Kan cukup jauh..” tanya Rere.

“ne! rasanya berdebar-debar..”

“pasti awkward sekali.. hahahah” Ririn mulai tertawa dan terbatuk-batuk.

“iya.. dan dia meminjamkan sarung tangannya.. ah! Sarung tangannya belum aku cuci!”

“alasaaan.. itu kamu mau pakai terus dan disimpan.. kan Minmi selalu begitu” Rere mulai ikut menjadi evil seperti Ririn sekarang. Aaa! Ririn! Kau kemanakan Rere yang polos ituu!

“bukaaannn ini pure lupaaa”

“boooo.. Minmi sih.. kebanyakan suka namjaa” Ririn dan Rere saling merangkul dan mengejekku. Huh. Dasar mereka berdua!

“ah ya!! Ririiiin!! Ajari aku bahasa inggris!” aku mengeluarkan buku pelajaran lesku dan menaruhnya di meja.

“ya! Aku belum ceritaa!”

“ayolah, mumpung habis istirahat makan siang ini kita jam kosong.. plis plis..”

“tumben haaa..” Rere menendang kakiku dengan indahnya.

“ya! Tidak usah menendang segala!” aku mengusap-usap kakiku. Sial, sakit juga.

“tidak mau, untuk apa? belajar sendiri sana” jawab Ririn datar.

“aku akan ada tes.. dan.. Changmin oppa akan memberi nomer handphonenya kalau nilainya bagus!”

“aha! Aku tahu pasti ada sesuatu dibaliknya! Dasar!” Ririn mempoutkan bibirnya dan mulai mengetuk-ngetuk sepatunya cepat. Rere hanya membuka dan memakan camilan yang dia bawa sambil melihat kami secara bergantian. Anak satu itu benar-benar tidak mau repot!

“ayolah.. neee? Kau kan yang paling baiiikk”

“ye.. ye.. arraseo..”

“yey! Ayo sekarang saja..”

“aku belum cerita…..”

“aku tahu ceritamu pasti sangat menyentuh, jadi ayo sekarang kita belajar!”

“ish.. baiklah terseraahh” hehe. Untung saja Ririn mudah dirayu.. nomer handphone Changmin oppa! Aku dataang!!

-ccc-

“terima kasih telah mengerjakannya dengan jujur.. besok akan saya umumkan yang dapat nilai tertinggi” senyum ramah Changmin oppa meluluhkan hati para yeoja yang sudah berkeluh kesah mengerjakan tes bahasa inggris nan susah bin ajaib dari tempat les paling mujarab ini. Dia akhirnya keluar dari kelas dan meninggalkan para yeoja ini kembali ribut seperti pasar.

“haah.. apa aku bisa?” keluhku pelan setelah hampir 10 menit berselonjor untuk merilekskan tubuh. Akhirnya aku memasukkan semua barang-barangku kedalam tasku. Sesekali melihat kearah murid lain yang terlihat sangat antusias dan semangat akan mendapatkan nomer handphone Changmin oppa. Mereka.. haah.. aku jadi pesimis..

TINGTENGTONG

“kepada nomer induk 3001, Shim Min Mi, Shim Min Mi. diharap ke ruang guru sekarang”

HAH? APA INI?? Apa salahku? Apa nilaiku jelek semua? Aku memang malas-malasan selama di tempat les ini, tapi.. tapi aku mengerjakan semua tesnya dengan tekun dan serius! Iiiiisshh.. apa lagi sih?! Memangnya mereka tidak tahu rasanya dipanggil melalui pengeras suara? Semua murid melihat kearahku tau! Urkh.. menyebalkan.. tempat les ini memang menyebalkan!

Aku berjalan cepat menuju ruang guru tempat les ini yang terletak tidak jauh dari pintu masuk gedung les yang super megah tiada tanding. Baik, aku berlebihan, tapi memang tempat les ini sangat bagus.

Baiklah, tarik nafas.. hembuskan.. lalu.. buka pintu ini dengan wajah gahar dan tidak terima lalu selesaikan dengan cepat dan pulang dengan segera!

“pe—permisi..” aish. Kenapa aku melunak??

“ah, Minmi” DEG. Cha—Cha—Changmin oppa!!

“n—ne?” aku melihat sekeliling. Dan guru-guru yang lain sedang sibuk dimejanya masing-masing. Hanya Changmin oppa yang melihat kearahku, seakan menunggu aku datang daritadi.

“kemari kemari!”

“permisi.. permisi..” aku berjalan pelan menyusuri sela-sela kursi para guru yang masih terlihat sibuk disana-sini.. dan akhirnya sampai di hadapan Changmin oppa… manisnya..

“kau tahu..” dia terdiam, dan mengambil kursi kosong untukku duduk. “sebenarnya..” aigo.. apa ini? Masa’ secepat ini? Apa dia menyukaiku juga? Minmi! Sadar! Tidak mungkin!

“n—ne oppa?”

“kau belum menulis namamu” dia menyodorkan lembar jawabanku tadi dan tersenyum.

“ahah.. ahahah..” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal dan mengambil kertas serta pensil darinya.

“kau hanya menulis nomer indukmu.. jadi tadi aku susah payah mencari namamu untuk bisa dipanggil..”

“ng.. ne..” aku menulis namaku dan menghitamkan lingkaran pada lembar jawaban itu.

“rumahmu jauh dari sini?”

“hm? Ye oppa..” aku masih fokus menghitamkan lembar jawabanku.

“apa tidak apa kau pulang selalu larut malam?”

“hmm.. umma yang menyuruhku les.. jadi kurasa tidak apa..”

“humm.. begitu..” aku mendengar suara tombol-tombol yang ditekan. Kurasa dia sedang memainkan handphonenya.. apa aku boleh minta nomornya saja sekarang?

“oppa, apa aku boleh me—“

“kau tahu, kau murid yang cukup menarik” murid.. yah, dia hanya menganggapku murid.. tentu saja..

“ng.. maksud oppa?”

“saat kemarin kita bertemu di perempatan itu, aku melihatmu yang sangat ceria penuh semangat melambaikan tangan pada kedua temanmu itu..” dia menekan-nekan tombol di hpnya kembali dengan cepat. Sepertinya sedang memainkan sebuah game.

“ah.. ne, begitulah.. hehe”

“tapi disini kau terlihat berbeda, diam dan tidak ada semangat sama sekali.. aku sering melihatmu menerawang keluar jendela dan mengeluh pelan di pojok tempatmu duduk. Tidak ada minat sama sekali.. Apa cara mengajarku salah?” tanya namja didepanku ini dengan polos. Dan tentu saja.. aku hanya bisa terdiam tak berkedip.

“eh? Aniyo.. bukan salah Changmin oppa..”

“lalu?” dia meletakkan handphonenya dan menatapku sambil menyandarkan kepalanya pada tangannya dimeja.

“ng.. tidak apa.. aku hanya capek saja..”

“ah.. jadi cara mengajarku kurang membuat semangat.. begitu” dia mengangguk pelan membuatku ingin tertawa.

“ahahah.. anii.. bukan itu.. aku.. hanya lelah belajar..” aku mencoba memberikan senyuman padanya, dan yang ia berikan padaku adalah kerutan pada dahinya. Apa? apa aku salah?

“kenapa? Kenapa lelah belajar? Kalau kau mengikuti pelajaran tambahan di luar sekolah seperti ini, harusnya kau murid yang semangat belajar. Ingin mencapai yang lebih tinggi dan tidak malas-malasan”

“tapi.. aku—“

“kalau kau tidak ingin belajar dan lelah, bukankah sebaiknya kau tidak mengikutinya sama sekali? Untuk apa kau masuk ke dalam tempat les ini? Untuk mencari teman? Pacar? Aku sering mendengar hal itu tapi tidak kusangka—”

“bukan! Bukan seperti itu.. ini..”

“apa?”

“uh, untuk apa bapak tahu” aku berdiri dan mengambil tasku yang kutaruh dilantai. “aku sudah selesai, permisi”

“Minmi!”

Aku berjalan cepat keluar dari gedung megah tak berperasaan ini. Gedungnya, muridnya, bahkan gurunya. Semuanya menyebalkan. Sangat menyebalkan! Ternyata memang tidak boleh melihat namja dari luarnya saja! Dia jahat! Kata-katanya sungguh menusuk! Bagaimana dia bisa sejahat itu pada yeoja yang bahkan tidak ia kenal dekat! Pasti saat bersama temannya dia akan bersikap lebih jahat lagi dalam ucapannya! Aku tidak suka! Menyebalkan!!

Kemana sekarang aku harus pergi? Pulang? tapi aku tidak mau pulang. ini semua salah umma. Coba aku tidak di masukkan ketempat itu, aku tidak akan patah hati seperti ini. Hiks. Menyedihkan. Aku kerumah Rere saja!

“umma, aku menginap untuk tugas kelompok di rumah teman” –Minmi

Huft. Lagipula untuk apa aku mengirim pesan babo itu. paling dia tidak menggubrisnya.

.

.

.

TINGTONG

.

“Rere.. Minmi..” aku menekan bel dan menekan pemanggilnya. Rumah Rere sangat besar.. tapi dia selalu sendiri, orangtuanya selalu pulang malam. Sebenarnya kami sama saja. Menyedihkan.

“sebentar!” jawabnya. Untung bukan pembantu rumah tangganya.

“hurr.. namja itu menyebalkan.. tidak sopan!” aku menggerutu sambil bersandar pada pagar rumah Rere yang besar dan menjulang tinggi.

“Minmi! Ada apa?” tanyanya sambil berlari menuju pagar.

“menyedihkan” jawabku parau.

“namja itu?”

“ne..” aku berjalan masuk meninggalkannya yang mengunci pagar kembali. Aku sudah sering kemari. Menginap dan melakukan apa saja dengannya. Rumah kami dekat tidak seperti Ririn, maka dari itu kami bisa menginap satu sama lain.

“kenapa dengan namja itu?” tanya Rere begitu kami tiba dikamarnya dan aku merebahkan diri di kasur empuknya.

“dia menyebalkan.. kata-katanya menyebalkan.. tidak sopan.. jahat.. menyebalkan.. aku kesal padanya..”

“ya.. katakan yang benar..”

“tadi, dia tiba-tiba saja menceramahiku! Dia tidak tahu apa-apa tentangku! Kenapa tiba-tiba menceramahiku begitu saja! Dia kira dia siapa sih!”

“yah.. mungkin kau mengatakan sesuatu yang salah..?”

“aku hanya berkata kalau aku lelah belajar, apa itu salah?”

“ng.. tidak juga sih.. tapi mungkin karena kau mengatakannya pada seorang guru, jadi.. dia merasa, ya begitulah..” Rere menggaruk kepalanya sambil tersenyum aneh.

“huh, sama saja.. dia tidak sopan. Siapa juga yang mau masuk kesana. Dia bilang aku disana untuk mencari pacar. Cih. Memangnya aku segampang itu”

“sudah, sudah.. padahal katanya kau menyukainya?”

“tidak tahu, aku terlanjur sebal”

“benarkah? Minmi yang kukenal tidak menyerah akan namja semudah itu”

“tapi ini beda! Dia.. menyebalkaaannn”

“tapi dia manis?”

“Ne! Eh? Apa maksudmu Rere! Uh kau ini!” aku mencubit pipi Rere sampai dia ikut menarik pipiku juga. Jadilah, adu cubit.

.

.

.

“hosh.. hosh.. ini adu cubit terlama kita.. pipiku sakit..” aku berbaring disebelah Rere yang juga sudah kelelahan.

“ne, pipiku juga”

“aku sudah memutuskan” setiap adu cubit kami, pasti, akan membuahkan hasil.. adu cubit kami memang adalah cara pemecah masalah yang ada di hati kami. Yeah! Hidup adu cubit!

“kau akan mencoba lagi?”

“tidak”

“eh? Lalu?”

“aku tidak akan les disana lagi”

“mwo? Kau tidak dimarahi ummamu?”

“kalau aku tidak bilang, dia tidak akan tahu aku tidak les. Aku hanya akan pulang seperti jam pulang setelah les, dan berpura-pura telah les”

“apa tidak apa?”

“tentu saja, Minmi sudah memikirkannya dengan matang” aku mengetuk kepalaku dan bersikap all high and mighty. Hahahahah.

“dan.. dimana kau akan menghabiskan waktumu?”

“ng.. bagaimana kalau besok kita stalking Ririn?”

“hee.. untuk apaa?”

“kita lihat, namjanya seperti apa!”

“oh! Ide bagus! Aku mauu!”

“oke, besok, kita stalking Ririn!” aku berjabat tangan dengan Rere dan tertawa.

“ah ya, kau belum mandi dan makan, ayo selesaikan urusanmu yang itu dulu” Rere mendorongku jatuh dari kasurnya.

“ish, baiklah baiklah” akhirnya aku keluar dari kamarnya dan melakukan apa yang dia suruh. Tapi, entah kenapa.. sebenarnya dalam hatiku.. aku masih, menginginkan nomer handphonenya.

-ccc-

“dah semuanya.. hati-hati djalan! Min-chan, pergilah les, biarkan saja guru itu, oke! Bye!” Ririn melambaikan tangannya padaku dan Rere, lalu berjalan santai menuju stasiun.

“oke, ayo sekarang!” aku dan Rere mulai menguntit Ririn layaknya stalker dan mata-mata. Bersembunyi dibalik tiang, pohon, orang, apa saja. Untunglah, Ririn sepertinya tidak peka pada hal seperti ini.

Hari ini disekolah, aku yang bercerita panjang lebar mengenai guru itu. mereka berdua hanya mendengarkan dan memberi saran. Ririn membelaku, tapi dia tetap menyuruhku masuk les karena, memang.. aku les bukan karena guru itu, tapi ummaku. Tapi aku tetap malas, dan tentu saja.. merahasiakan rencanaku dan Rere pada Ririn. Kalau tidak, bukan stalking namanya.. hahaha!

.

.

“pintu akan segera ditutup, pintu akan segera ditutup”

“KYAA! Ayo Reeee!” akhirnya dengan loncat indah kami, kami berhasil masuk ke dalam kereta yang Ririn naiki.

“stalking macam apa ini.. aku capek.. kenapa dia mampir kemana-mana dulu sih..” Rere langsung duduk di bangku dan berselonjor lemas.

“oh, itu dia!” aku dan rere bersembunyi dibalik tas kami, mengintip.

“yang mana namjanya?” tanya Rere padaku dengan indahnya.

“ya! Mana kutahu! Maka dari itu kita stalking dia, kan!”

“ish, pelankan suaramu” Rere memukul kepalaku dengan handphonenya.

“aigo! Kau ini! Ish.. sakit” benar-benar deh, dipukul dengan handphone itu sakit!

“yang itu! kurasa yang itu!”

“kau gila, itu ahjussi, Re!”

“yaa.. mungkin saja..” kami memelankan suara kami lagi. “kau juga suka ahjussi”

“jangan bicarakan orang itu”

“ne nee..”

.

Kami memperhatikan gerak-gerik Ririn dengan seksama. Dia dengan majalah gamenya sangat serius. Tidak ada acara stalking darinya. Mana namjanya sih? Jangan-jangan dia berhalusinasi?

.

.

“aku bosan” Rere akhirnya berbicara setelah sekian lama kami hanya diam memperhatikan Ririn.

“ye, kita turun di stasiun habis ini saja.. sepertinya dia tidak ada acara stalking hari ini..”

“ne.. mungkin kita belum beruntung”

“besok, aku dan Ririn akan bertemu dengan namjamu itu.. jangan sampai tidak ada, ya? Hahahah” aku menyenggol Rere dengan anarki sampai dia hampir terjatuh.

“huh! Dia pasti ada.. tenang saja, aku akan kesana duluan”

“baiklah deal”

“oke! Ah! Sudah sampai! Sebaiknya kita turun..”

Aku dan Rere akhirnya turun di perhentian pertama kereta yang dinaiki oleh Ririn. Sebelum akhirnya kami pergi dari stasiun ini, kami masih sempat-sepatnya stalking apa yang dilakukan Ririn di dalam sana.

“Minmi..”

“ye?”

“apa namja itu?” Rere menunjuk kearah namja yang berdiri dihadapan Ririn, dan sepertinya mereka sedang bersendagurau dengan asyiknya. Tadi tidak ada namja itu! apa dia baru saja naik dari stasiun ini? Hm, lumayan sih.

“eh.. masa?”

“dia tampan”

“heei.. kau punya namja untuk ditunjukkan besok, jangan berpaling semudah itu!”

“hehe, tapi dia manis sekali.. aku iri pada Ririn”

“iya kalau itu namjanya, kan? Sudah ayo pulang”

“baiklah baiklah~ aku akan sms Ririn dulu” Rere mengeluarkan handphonenya dan tersenyum sendiri.

“apa yang kau kirim?”

“stalker rere dan minmi melihat senyum perv dari stalker ririn di dalam kereta saat bersama namja subwaaaay~ dia manis, aku iri! Jadikan dia milikmu! Harus! dan BESOK kau harus melihat namjaku! Dia tidak kalah manis darinya xpp . jumuseyo stalker ririn! have fun~ xpp” –Raemun

“ya! Sms macam apa itu! kita akan dimarahi habis-habisan besok..”

“tidak apa.. hihi” Rere tertawa tanpa dosa.

“sudahlah, kita tunggu subway selanjutnya untuk kembali”

“kau tidak pulang beneran?”

“ne, aku sudah sms umma kalau aku menginap untuk tugas kelompok lagi”

“apa tidak apa?”

“tentu, kau tenang saja” aku mengibaskan tanganku padanya sembari mencari tempat duduk yang nyaman.

“hum.. baiklah..”

Akhirnya setelah menunggu beberapa lama, kereta subway tujuan stasiun rumah kita datang, dan kami pun naik. Dalam malam yang sunyi itu, didalam kereta.. kami diam.

-ccc-

“dasar stalker stalker salkeerr!” Ririn masih saja menggerutu dengan wajah merona merah sejak daritadi pagi bersama kami.

“ya, Ririn-ah.. ini sudah waktunya pulang kau masih saja mengeluhkan tentang hal itu.. lihat! Rere tidak bisa berhenti tertawa karena sikapmu!” aku menunjuk Rere yang sudah memukul-mukul mejanya karena sikap anak kecil yang diperlihatkan Ririn. Memang, rasanya aneh melihat yeoja yang biasanya diam dan bersikap evil dan dingin bertingkah seperti anak kecil. Aneh! Super! Super aneh!

“tapi.. tapi kalian mengikutiku! Dan yang lebih babonya lagi, kalian stalking tapi tidak berhasil mengetahui wajah tampannya yang mana..” dan Ririn mulai mempoutkan bibirnya.

“kau sih tidak bilang kalau dia masuk dari stasiun itu”

“cih, jadi salahku?”

“ye!” aku menjulurkan lidahku padanya.

“huh! Stalker babo! Yasudahlah! Hari ini kita melihat Namja Musim Gugur mu itu kan, Kim-Rae-Mun~?” goda Ririn pada Rere.

“ne! aku akan kesana duluan! Kalian siap-siap saja melihatnya!” Rere mendadak berdiri dan dengan sigap langsung berlari keluar kelas meninggalkan aku dan Ririn.

“oke! highly anticipated Re!!” aku berteriak sekencang mungkin tidak tahu dia dengar apa tidak.

“sebaiknya kita pergi sekarang, aku mau mampir beli makanan untuk kucingku”

“oke, ayo” akhirnya aku dan Ririn pulang.

.

.

.

“apa menurutmu namja itu keren?” tanyaku pada Ririn yang tangannya sudah full belanjaan. Dia bilang ingin membeli makanan kucing di supermarket, dan pada akhirnya dia malah beli snack juga. Bahkan banyak.. sangat banyak! Seperti mau piknik saja!

“mungkin, Rere kan sering mencarikan namja keren untukmu biasanya”

“hm.. ye.. kau benar” aku mengangguk setuju atas perkataan Ririn. Memang, Rere selalu membantuku mencari namja keren sesuai keinginanku dari dulu. Tapi aku belum pernah tau seperti apa sebenarnya namja tipe kesukaan Rere.

“apa kita stalking dulu apa yang mereka lakukan?” tanya Ririn dengan senyum evil mengembang di wajahnya.

“lama-lama.. kita jadi seperti trio stalker, tahu!”

“aish, tidak apa! ayo kita stalkiing~!”

.

.

“kau dengar? Kau dengar?” tanya Ririn benar-benar seperti penguping handal.

“ye aku dengar..”

“temanku akan datang oppa, ayo kita beri kejutan!”

“kenapa tiba-tiba?”

“mereka sahabatku.. mereka ingin bertemu..”

“baiklah..”

“yay! Hehe.. kamsa oppa..”

“Rin, apa kau bisa melihat wajahnya?”

“tidakkk.. ketutupan pohon..”

“uh, bagaimana kalau kita keluar sekarang?” tanyaku menyenggol Ririn yang terlihat masih asyik menguping pembicaraan lovey-dovey dari Rere. “ayo kita yang buat kejutan!”

“oke! Aku yang hitung!”

1..

2..

3!

“Rere!!” aku dan Ririn keluar dari balik pohon yang tidak jauh dari tempat Rere dan namja yang dikagumi Rere itu berada. Dipinggir sungai dengan dihiaskan lampu kota. Wah, lumayan romantis.

“ka—kalian! Stalker!!”

“hihi! Aku membalasmu!” Ririn berlari kearah Rere dengan riang, aku hanya mengikutinya dengan tawaku. Tapi rasanya ada sesuatu yang salah..

“jadi, dimana dia, re? show us!” cengirku.

“hehe.. perkenalkan.. ini.. Yesung oppa”

. . .

. .

.

“mana?” tanyaku dan Ririn bersamaan.

“eh? Dia.. disini..” Rere tampak bingung tidak karuan. Seperti kehilangan sesuatu. Ne, dia kehilangan orang itu. “i—ini Yesung oppa!”

“ng.. Re..” baiklah, lupakan soal aku mengatakan Ririn bertemu dengan Namja Subway itu hanya halusinasinya semata. Namja Subway itu ada. Aku, melihatnya.

“mungkin dia tidak siap bertemu kita, kan? Yaa.. lainkali saja tidak apa kok!” Ririn tertawa dan menepuk pundak Rere.

“ti—tidak! Dia disini!” Rere mulai berkaca-kaca. Sebentar lagi dia pasti akan menangis.

“umm..” aku menggaruk kepalaku pelan. Kurasa, Rere benar-benar menanggung beban yang berat sampai dia berhalusinasi bertemu namja dengan sifat yang ia kagumi. Kurasa masalah keluarganya lebih berat dariku.. ne.. pasti.

“kalau begitu, sebaiknya kita pulang, Min-chan?” Ririn menyadarkanku dari lamunanku.

“ah? Eh.. ne..” Ririn menarikku pergi dari tempat itu. meninggalkan Rere yang benar-benar terlihat bingung. Apa.. yang kupikirkan benar?

.

.

“Min-chan.. apa Rere tidak apa?” tanya Ririn tiba-tiba.

“eng.. aku tidak tahu Rin..”

“aku khawatir karena dia selalu terlihat kesepian.. bahkan walau saat bersama kita”

“ne, kau juga menyadarinya?”

“ye..” dan kami terdiam dalam kesunyian. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.

“ah, kita sudah sampai di perempatan kita.. aku pulang.. hati-hati di jalan..” Ririn tersenyum tipis dan berbelok menuju kearah stasiun. Dan aku, melangkah.. pulang kerumah.

“akhirnya kau pulang, Shim Min Mi” aku terkejut mendengar suara itu. Umma.

“ah.. ne..”

“apa kau tahu sekarang jam berapa?”

“jam.. setengah tujuh malam.. umma..” aku menunduk melihat jam tanganku.

“dan, kenapa kau ada disini?”

“aku.. pulang?”

“bukankah, seharusnya kau masih di tempat les?” dia mulai menyedekapkan tangannya.

“a—itu..” sial. Aku lupa. Ini belum jam pulang les. Jam delapan malam.. harusnya.. jam delapan..

“kemarin, umma ditelpon oleh tempat lesmu”

“eh?”

“ne, kau tidak les..”

“ta—tapi”

“apa alasanmu? Kerja kelompok?” tanyanya dingin.

“di.. ditempat les itu.. ada.. guru pengganti yang menyebalkan..” aku memalingkan wajahku darinya. Aku tidak mau melihatnya melemparkan tatapan itu padaku. Tatapan merendahkan seperti itu. Aku benci.

“lalu apa ada hubungannya? Untuk apa kau les? Menjadi pintar, bukan? Bukannya untuk memperhatikan guru pengganti dan sebal karenanya. Belajar”

“umma tidak akan mengerti..”

“apa kau bilang? Keraskan suaramu”

“Umma tidak akan mengerti!!”

Aku berlari keluar dari rumah ini. Rumah. Apa ini bisa disebut dengan rumah? Apa itu rumah? Tempat berkumpul bersama keluarga dan tertawa bersama? Huh. Apa itu. itu hanya kalimat untuk membuat anak kecil senang. Aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu dia tidak akan mengejarku. Untuk apa, tidak ada gunanya baginya.

Setelah puas berlari dan berteriak. Aku perlahan berhenti di sebuah taman kecil. Taman.. tempatku dulu bermain bersama umma.. sejak kapan dia berubah seperti itu? untuk apa aku kemari? Apa tidak ada tempat lain untuk kakiku melangkah?

“semuanya jahat..”

“Umma jahat..”

“Changmin oppa jahat..”

“oh!” aku menoleh kearah suara berat itu. nugu? Malam-malam begini?

“apa kau sendirian, hei yeoja?”

“ng.. aku.. kumohon jangan ganggu aku” sial. Dua namja.. ada dua namja.. malam-malam begini. Apa yang akan terjadi padaku? Tapi.. tapi dua-duanya tampan! Arkh! Minmi! Kenapa itu yang kau pikirkan! Kau harus kabur! Kabuur!!

“apa kau diputuskan oleh namjachingumu? Bagaimana kalau kita bertiga ke kota dan merayakan perginya namja terbabo yang bisa mencampakan yeoja cantik sepertimu?”

“eh.. tidak.. aku.. belum punya.. kalian boleh langsung pergi”

“belum? Kalau begitu ayo ikut saja!”

“KYAA!” UH!! Cengkeramannya kuat. Namja yang mirip seperti preman dengan rambut aneh seperti mohawk ini. Uh! Apa yang harus kulakukan! Seseorang! Aku tidak mau berakhir seperti ini!!

“ya.. ya.. lepaskan yeoja itu..”

“oh, jarang aku melihatmu mau berurusan dengan yeoja, Changmin-ah” Chang.. Changmin?

“dia muridku”

“bwahahahahaah!! Kau benar-benar menjadi guru les rupanya..” tawa namja yang lebih ramping dan manis daripada namja preman itu.

“ne, jadi.. lepaskan”

“ya.. ya.. baiklah.. kalau sudah ditanganmu, tentu kami tidak bisa mengambilnya” namja preman ini melepaskan tanganku begitu saja dan langsung merangkul si namja ramping.

“kau tidak apa? mereka tidak berbuat kasar kan?” Changmin oppa langsung bergegas memeriksa pergelangan tanganku.

“ti—tidak..” aku membencinya! Tapi.. tapi kenapa.. aku masih bisa mendengar debaran jantungku sendiri saat dia menyentuhku!

“Changmin-ah, kami kan temanmu, jangan berpikir yang jahat seperti itu tentang kami” namja preman itu berbalik dan menyunggingkan senyuman. Omona..

“kami tidak akan menyakiti yeoja” lanjut namja ramping disebelahnya. Aigo.. siapa nama mereka? Aku ingin tahu..

“hahah.. ne.. Minmi-sshi.. jangan benci mereka, ya? Mereka temanku..” senyum Changmin oppa meluluhkan hatiku dengan seketika detik itu juga. Tidak, milidetik itu juga.

“asal kau tahu, yeoja! Jangan menganggap dia tua karena pakaiannya yang sangat kadaluarsa di jaman sekarang ini! Dia hanya part-time saja! Dia itu hanya mahasiswa semester dua!”

“se—semester dua..? kau.. mahasiswa??”

“ng.. ne..” dia menggaruk kepalanya pelan.

“hebat” sautku dan bisa kulihat wajahnya merona merah. Manis.

“te—terima kasih..” kami terdiam kembali. Tidak ada yang bergerak dari tempatnya. Kami berempat. “kenapa, kau tidak les kemarin? Hari ini juga.. Kau membuat.. kau mau membuang uang orang tuamu begitu saja? Kau harus memikirkan hal itu sebelum tiba-tiba melewatkan kelas belajarmu, kau tahu itu”

“…ne” aku mengalihkan pandanganku darinya

“tapi sekarang sudah malam..  aku antar pulang ya?”

“tidak”

“tidak? Waeyo?”

“tidak mau. Aku tidak mau pulang” aku memalingkan wajahku darinya. Rasa kesal itu datang kembali.

“bagaimana kalau kerumah Changmin?” tiba-tiba saja dua orang itu sudah berada di sebelah kanan dan kiriku, memegang pundakku.

“eh? Apa boleh?” mataku pasti berbinar-binar layaknya bintang sekarang. aku ingin! Aku ingin ke rumah Changmin oppa!

“tentu! Kami juga sudah jarang ke rumahnya! Ayo!”

“ne!” aku berjalan riang bersama dua namja itu, meninggalkan Changmin oppa yang tidak bergerak sama sekali.

“he—hei! Siapa yang memutuskan itu!!” serunya dan berlari mengejar kami. Hihi. Ini menyenangkan!

“namaku Dong Youngbae” pria preman itu memperkenalkan dirinya sambil mengangkat gelas tinggi-tinggi. “mereka memanggilku Taeyang!”

“bangapta..” balasku dengan senyuman.

“aku, Choi Dongwook..” namja yang satu lagi meraih tanganku dan mengecupnya pelan. Kyaa! Dia sangat gentle! “lucky number seven.. call me Seven my lady..”

“eh.. ng.. bangapta..” mereka benar-benar unik!

“sudah cukup hentikan” Changmin oppa memotong pegangan tangan Seven oppa padaku. Hehe, apa dia cemburu? Wajahnya menggemaskan.

“salam kenal, kami teman baik Changmin!” mereka mengangkat gelas berbusa itu bersamaan.

“kenapa kalian membeli minuman seperti ini, mana untuk Minmi?”

“itu, yang oranye.. orange juice” Seven oppa menunjuk kantong plastik minimarket yang penuh dengan kaleng.. berwarna oranye.

“hee.. kenapa aku tidak boleh mencoba punya kaliaan?”

“umur, umur.. ingat umur” Changmin oppa mengusap-usap rambutku pelan, menghancurkan rambutku.

“gyah! Rambutku!”

“ini Minmi-chan.. chan, kan? Kau minta dipanggil dengan itu?” Taeyang oppa sudah terlihat tidak sadar dari matanya.

“ne oppa..”

“ini minumanmu..”

“Yah! Jangan diminum! Ini bukan orange juice!” Changmin oppa menarik kaleng yang diberikan oleh Taeyang oppa untukku.

“Changmin oppa peliit!”

“iyaa.. dia peliit.. dia bahkan tidak memanggilmu dengan Min-chan padahal kalian sangat dekat~” dua namja itu ikut bersorak bersamaku. Kalau dipikir, dia memang belum pernah memanggilku seperti itu..

“sudah kalian berdua cepat pulang! aku akan mengantarkan Minmi pulang sekarang!”

“Changmin memang jahat sekali pada temannya.. ayo kita pergi saja.. Min-chan, hati-hati.. dia namja yang tidak baik..” mereka tertawa bersama dan keluar dari apartemen sederhana Changmin oppa dengan wajah super senang.

“haah.. kalian itu yang namja tidak baik dicontoh..” dia, Changmin oppa, menggelengkan kepalanya pelan dan sekarang menatapku. “ayo, kau kuantar pulang”

“tidak mau, aku tidak mau pulang”

“kau ini, bagaimana kalau ummamu khawatir?”

“terserah dia. Dia hanya mengkhawatirkan nilaiku”

“apa maksudmu? Sudahlah, ayo cepat kau pulang”

“oppa memang menyebalkan! Huh! Kenapa juga banyak yeoja ditempat les itu menyukaimu! Menyebalkan!”

GLUG.. GLUG..

“HEI! YA! JANGAN DIMINUM!”

“mm.. apa ini?” aku melihat kembali kaleng yang kuminum barusan. Hm.. alco.. ha? Apa ini? Rasanya sangat aneh.. akan kucoba lagi.

GLUG..

“MINMI!” Changmin oppa menyambar kaleng itu dan melemparnya. Aku hanya bisa mempoutkan bibirku. Aku mau itu lagi.. “Minmi, kau tidak apa?”

“tidak apa? pertanyaan apa itu? tentu saja TIDAK!!” aku meraih kerah baju Changmin oppa. Kesadaranku mulai hilang.. sensasi apa ini.. rasanya.. semua terangkat..

“Mi—minmi..? kau sudah terpengaruh bir itu..”

“lalu? Ada masalah? Apa masalahmu sih? Kenapa kau suka sekali mencampuri urusan orang lain! Kau ini guru atau stalker ha??”

“Mi—“

“asal kau tahu, aku masuk tempat les sok megah luar biasa itu karena ummaku! Dia memaksaku masuk kesana agar aku belajar! Masuk ke universitas ternama yang dipilih olehnya! Jurusan yang tidak aku mengerti! Masa depan yang tidak kuinginkan!!”

“aku kesana bukan untuk mencari teman atau pacar! Untuk apa hal macam itu! lebih baik aku keluar dari sana saja, kau tahu!”

“sifat burukmu adalah berkata hal buruk secara terang-terangan! Pikirkan dulu sebelum berbicara! Kau tidak tahu bagaimana aku sakit hati mendengarnya dari orang yang kusukai, ha!”

“kau me—menyuka—“

“iya! Aku menyukaimu! Ada masalah dengannya? Ha? Katakan! katakan, Shim Chang Min! KYAA!” kami terjatuh. Aku menindihnya. Aku.. astaga! Pikiranku dan tubuhku bertentangan! Ini.. ini memalukan! Aku tidak akan punya muka untuk menemuinya lagi setelah kejadian ini!

“Minmi..”

“apa? kau ini namja menyebalkan! Kau tidak tahu perasaan yeoja, ha? Kau ini jahat, egois, sarkastik, menyebalkan, dan tidak sopan!”

“mianhae..”

“kau menyebalkan.. karena.. seberapapun menyebalkannya dirimu.. aku.. masih tetap.. menyukaimu..”

“Mi—“

BRUK

“… Changmin oppa.. jahat.. nomormu.. aku mau..”

“hmph..”

-ccc-

“AIGO!!” aku terbangun dari mimpi burukku. Aish.. kepalaku sakit.. uh.. gelap sekali.. masih malam? kasur apa ini? Keras sekali.. lantai? futon? Aku tidak pakai futon.. ini punya sia—HEH?!

C—C—Cha—Changmin oppa?!!

“apa.. yang kulakukan tadi malam? Bajuku?! Masih lengkap.. fuh..” kenapa aku malah mengkhawatirkan bajuku.. babo. Tapi harus kan..

“sebaiknya aku meninggalkan pesan dan pergi dari sini..” aku mencari secarik kertas dan bolpen di mejanya. Hng.. banyak sekali kertasnya..

“uh..? untukku?”

Minmi, aku sudah memberitahu keluargamu kau mengambil les privat tambahan padaku. Aku tahu walau itu bohong, setidaknya kau tidak akan dimarahi.. Dan, karena sudah larut malam, mereka membiarkanmu menginap? Entahlah, aku bingung dengan keluargamu.. tapi karena kau bilang aku tidak boleh mencampuri masalahmu begitu saja.. aku akan mengikutinya. Lagipula hari sudah malam.. tidak baik bagi kesehatan. Kalau kau masih merasa pusing dan membutuhkan sesuatu, jangan ragu untuk bangunkan aku.. –Changmin

“humph.. apa ini.. kukira surat cinta.. hihi.. dia lucu.. aku akan mengikutinya katanya.. pasti dia berbicara dengan umma..” aku menutup mulutku menahan tawa yang hampir keluar.

“…”

“hei, oppa.. apa kau bangun?” dia tertidur di sofa kecilnya.. apa tidak sempit untuk tubuhnya yang besar itu..

“kurasa kau sudah terlelap..” aku duduk bersimpuh dilantai. Menghadap padanya walau yang terlihat hanya punggungnya saja.

“terima kasih..”

“… dan maaf sudah merepotkanmu..” aku terdiam kembali mencari kata-kata yang tepat yang banyak berlalu lalang di dalam kepalaku.

“aku senang, saat waktu itu kita jalan bersama, walau hanya kebetulan saja.. dan saat kau memanggilku dan mengajakku berbicara di ruang guru..”

“dan..”

“aku senang, ternyata kau memperhatikanku..” aku tersenyum tipis dan hampir saja menangis.

“aku sebenarnya sadar, ucapanmu yang menyebalkan itu sebenarnya hanya untuk menyadarkanku bahwa aku salah dalam berpikir.. aku tahu aku salah.. dan.. mungkin kau hanya tidak pandai berbicara, menyampaikan isi hatimu dalam bentuk ucapan..”

“hehe.. bicara apa aku ini.. aku ini, babo..”

“hm..” e—eh? Dia melihat kearahku? Ternyata dia bangun?? Aigo! A—bagaimana ini! Aku malu! Setengah mati!! “Minmi..” tiba-tiba dua telapak tangan besar sudah menangkupkan dirinya di pipiku. Apa ini? Ada apa ini? Apa yang akan dia lakukan??

“hngh—hmph!” Cha—Changmin oppa!

“arkh!” sakit.. kenapa dia harus menggigit bibirku?? Uhk! Mulutku terasa pe—penuh! “ah!”

“ngh.. ahhhn.. oppaa.. ahh..”

“hmph! aahh!” tidak bisa. Tidak. Aku tidak bisa melawan kekuatannya. Yang bisa kulakukan hanya menggenggam erat baju tipisnya.. menahan semua sensasi aneh yang datang padaku.

“oppa.. hentikan.. kau kenapa.. nghh!” jangan leher, kumohon!

“ah! ahhhhn!!”

“oppa.. ngh! A—ah! Ba—bangunlah..!” aku mencoba menamparnya sekuat tenaga, dan berhasil. Dia melepaskanku.

“ngh.. Minmi..? apa.. yang barusan kulakukan?” aku hanya menggeleng pelan dan berusaha menahan tangisanku. “ada apa? a—apa ini? Ini..” dia menyentuh bekas merah di leher jenjangku. Kissmark darinya.

“bu—bukan.. bukan apa-apa..” aku segera menutupnya dengan tanganku dan memalingkan wajahku darinya.

“apa aku.. melakukannya?” wajahnya benar-benar syok.

“tidak..”

“maaf Minmi.. maafkan aku!”

“bukan salah oppa.. aku.. pulang dulu” aku mengambil tas sekolahku dan berlari keluar dari apartemennya secepat mungkin dan mencari taxi yang ada. Sekilas tadi.. aku bisa mendengarnya meneriakkan namaku.. apa aku masih punya wajah untuk bertemu dengannya..

“haah.. menyedihkan..” aku menerawang keluar jendela taxi. Langit gelap dan lampu-lampu neon menghiasi gelapnya malam.. indah.. tapi tidak bisa menghiburku. “sekarang, apa yang kulakukan untuk menghadapi ummaku..”

-ccc-

Keajaiban. Umma tidak memarahiku karena pulang tengah malam. Dia bilang, dia bangga karena aku berinisiatif ikut les privat sampai larut malam. Apa dia tidak memikirkan anaknya? Kenapa dia hanya memikirkan belajar dan belajar? Terserahlah. Aku sudah kelas 3.. dan hanya setahun lagi dan akhirnya aku akan mengambil kuliah yang jauh darinya. Harus belajar untuk itu.. agar bisa menjauh darinya.

“Minmi, nanti sore ada les?” ummaku membuka pintu kamarku dan bertanya dengan suara pelan. Mungkin dia kira aku tidur.

“ne umma.. sabtu juga ada..” jawabku pelan.

“oh, baiklah.. baguslah”

“ada apa?”

“tidak, umma akan pergi jalan-jalan dengan adikmu.. belajar yang rajin”

Hmpfh.. pergilah.

“apa aku harus datang? Bagaimana kalau aku bertemu dengannya? Apa yang harus kulakukan? Semuanya masih terasa..” aku menyentuh bibirku perlahan. Dia.. lembut.. aahhh.. apa yang kupikirkaan! Lama-lama seperti Ririn saja yang sebenarnya perv.. huh..

“ah ya.. bagaimana keadaan mereka..?” aku membuka chat groupku dan melihat tidak ada chat baru dari mereka. Hm, mereka sangat sibuk? Biasanya malam-malam kami ramai di chat group ini.. sampai paginya banyak notification membludak.. tapi kenapa sampai siang seperti ini tidak?

“ya, annyeong! Apa kabar kalian berdua~?” –Minmi

“baik” – Raemun

“baik Min-chan ^^” –Ririn

“Re, kau baik saja?” –Minmi

“ne” –Raemun

“kau yakin? :(” –Ririn

“ne aku yakin” –Raemun

“ng.. aku akan menceritakan pada kalian hari senin, apa yang terjadi padaku tadi malam..” –Minmi

“kenapa tidak hari ini saja? Kita kerumah Rere sekarang! :D” –Ririn

“aku tidak dirumah” –Raemun

“dimana? :o” –Ririn

“kau dimana Re? D:” – Ririn

“… dimana saja” –Raemun

“kau di tempat kemarin?” –Ririn

“Apa dia ada?” –Ririn

“ye” –Raemun

“tidak” –Raemun

Aku hanya memperhatikan percakapan di chat group ini dalam diam. Tidak membalas percakapan sedikitpun karena aku tidak tahu harus berbicara apa lagi. Setidaknya Ririn masih bisa bertanya padanya, daripada situasi jadi awkward. Tapi.. Sepertinya Rere memang sedang syok sekarang. mungkin yang kupikirkan benar.. dia hanya.. berhalusinasi.

“aku pergi dulu ya.. nanti aku ada les” –Minmi

“kau les lagi? Bukannya tidak mau?” –Ririn

“ne, terpaksa.. aku ketahuan umma..” –Minmi

“lagipula tidak apa..” –Minmi

“sudah ya.. annyeong!” –Minmi

“oh.. baiklah” –Ririn

“ne, annyeong!” –Ririn

Sebenarnya aku tidak harus kemana-mana juga. Aku hanya tidak tahu harus apa. Aku masih memperhatikan chat group yang makin lama makin tidak ada pembicaraan yang bisa dibahas. Ririn sepertinya kewalahan mengubah atmosfir suram disana. Kuharap dia tidak ikut depresi saja..

“hmph.. sekarang apa yang harus kulakukan saat les nanti? Ini hari sabtu.. aku bisa pakai baju bebas..” aku berpikir sambil berguling-guling di kasur besarku ini.

“hng, pakai jaket saja kali ya.. masker dan kacamata hitam? Kenapa jadi seperti penguntit begitu? Uh.. mungkin pakaian biasa saja.. aku harus menenangkan diriku agar tidak salah tingkah.. dan membuatnya malu.”

“oppa babo..” Perlahan aku memejamkan mataku.. “bagaimana aku tidak makin menyukaimu?” dan aku tertidur kembali.

“AIGO! Aku telat! Aku bisa telaat!” aku segera berlari keluar dari rumahku dan dengan secepat kilat melewati kerumunan orang-orang. Aku tidak mau kena marah umma bila dia tau aku telat karena ketiduran!

“permisi, permisi.. uh! Permisi!” kenapa tempat lesku jauh sih? Kenapa aku tidak naik sepedaku saja? Kenapa aku begitu babo!

Setelah akhirnya 10 menit berlari melewati gang-gang kecil untuk mempersingkat jarak, akhirnya aku sampai. Bajuku super absurd. Tidak rapi, dan tidak seperti yeoja. Tshirt polos berwarna biru, cardigan biru gelap, celana tiga perempat, dan sepatu kets. Apa itu bisa dibilang yeoja? Ah ya, dan rambut hitam yang tidak tersisir rapi.. dan terkena terpaan angin. Makin membuatku tampak aneh.

“an.. annyeong..” aku masuk kedalam kelas, dan.. masih hanya beberapa yang ada. Hue? Bukankah harusnya sudah mulai 20 menit yang lalu? Aku akhirnya duduk dibangku biasaku.

“hei kau, kau melewatkan kesempatan besar kemarin” yeoja yang suka bergosip yang selalu duduk didepanku ini tiba-tiba saja mengajakku berbicara. Mana teman satunya?

“ke—kesempatan besar? Maksudmu?”

“ye, sebenarnya, kau kan yang harusnya—“

“YAAH! Aku datang!” teman seperjuangan pergosipannya datang dan dengan indahnya memotong pembicaraan kami. Apa? kesempatan apa yang kulewatkan? “hei! Apa kau tahu gosip baru tentang songsaenim kita itu?”

“apa itu? kau ini memang pakarnya” tawa mereka bersama. Apa sih enaknya bergosip? Huh. Tapi, aku juga ingin tahu gosip apa tentang Changmin oppa.

“katanya, dia membawa murid tempat les ini ke apartemennya!” DEG.

“benarkah? Ternyata tampang manis tidak selamanya baik.. meskipun begini, aku masih suka namja yang menghargai yeoja” mereka kembali duduk menghadap depan. Meninggalkanku yang masih tidak percaya akan gosip yang menyebar itu.

“a.. kau tahu dari siapa?” aku mencoba bertanya pada mereka, tapi bisa kudengar hampir seisi kelas sudah mulai membicarakannya. Bagaimana ini? Ini salahku.. salahku!

“ha? Stalker, tentu saja” jawabnya enteng. Ke—kenapa.. apa itu yang dilakukan stalker yang sebenarnya?

“annyeong semua.. sekarang kita buka halaman 203” Changmin oppa masuk kedalam kelas dengan santai dan berdiri dengan wajah bingung sekarang.

“ne oppa! Semalam siapa yang kau ajak ke apartemenmu?”

“apa kami boleh kesana?”

“oppa merahasiakan nomer handphone oppa, tapi oppa membawa yeoja ke apartemen oppa?”

“siapa yang menginap? Kasih tahu kami!”

Semua yeoja diruangan ini mulai bertanya bertubi-tubi padanya. Aku bisa melihat Changmin oppa yang terkejut akan semua pertanyaan itu. bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?

“apa oppa melakukan sesuatu?”

Pertanyaan yang benar-benar tidak bisa dipercaya.

“tidak ada” aku menyaut, menjawab semua pertanyaan itu. semuanya, menatapku. “yeoja itu adalah aku. Aku yang meminta ke apartemennya, dan tidak ada yang kami lakukan. Aku hanya minta tambahan les privat. Itu saja.”

Seisi kelas menjadi diam. Seperti mencerna semua perkataan yang keluar dari mulutku. Memang. Ini salahku, memaksa ke apartemennya, dan sampai hampir menginap. Ini bukan salahnya.

“tidak, kemarin malam bukan Minmi.. yeoja itu.. kenalan lama”

Babo! Bukannya aku membelamu! Aku hanya tidak ingin kau terkena masalah! Dan setidaknya aku bisa keluar dari tempat les ini! Ish! Wae??

GREEKK..

“sejak saat kita bertabrakan waktu itu.. aku tahu, aku memang menyukaimu..” aku mengambil tasku dan dengan cepat keluar dari ruangan lesku, gedung les ini.

Baiklah sudah cukup. Cinta itu memang menyakitkan. Dari semua namja yang kukejar, ini yang paling menyakitkan. Kurasa akan makin sulit bagiku untuk jatuh cinta. Ini menyebalkan. Harusnya dia tidak usah jadi guru pengganti! Tetaplah jadi mahasiswa dan tidak usah datang ketempat itu! agar aku tidak mengenalmu dan jatuh cinta padamu!

“Minmi! Minmi tunggu!”

“kembalilah, aku akan keluar dari tempat les itu”

“tunggu sebentar!” dia menarik lenganku dan membuatku masuk dalam pelukannya. “dengarkan aku..”

“apa maumu oppa! Lepaskan aku..!”

“maafkan semua perkataan kasarku..”

“a—apa yang kau katakan! kau kembali saja!”

“pada awalnya, memang kau seperti murid biasa dimataku.. tapi sejak melihat sifat ceriamu itu.. aku jadi ingin tahu, mengapa sifatmu sungguh berbeda saat kau berada di tempat les itu”

“itu karena u—“

“tiap saat aku selalu melhatmu, memperhatikanmu.. tapi kau selalu menerawang keluar jendela.. seperti mencoba untuk pergi dari situ saat itu juga..”

“itu memang be—“

“dan hari itu saat kau lupa menulis namamu, entah kenapa aku senang.. aku bisa berbicara berdua denganmu. Tapi pembicaraan itu berujung seperti itu..” dia melonggarkan pelukannya.

“kau benar.. aku memang sudah terlalu mencampuri urusanmu.. aku juga jahat, egois, sarkastik, menyebalkan, dan tidak sopan seperti kata-katamu..”

“ka—kapan aku mengatakannya?”

“dan kau tahu, aku benar-benar cemas saat kau tdak masuk dua hari itu.. aku merasa bersalah.. itu semua pasti karena ucapanku.. aku memang persis seperti yang kau katakan..”

Kami berdua terdiam beberapa saat. Kalian tahu, ini bukan disebuah gang kecil. Ini di depan pertokoan. Apa dia tidak malu melakukannya? Dia memakai jas.. aku.. dengan bajuku seperti ini..

“mianhae, Min-chan”

“Mi..” dia.. memanggilku.. Min-chan.. entah, kenapa rasanya semua amarahku menghilang mendengar dia memanggilku seperti itu.

“mianhaeyo.. aku..”

“oppa.. kita di.. lihat orang-orang..” kenapa aku mengatakannya? Minmi babo! Dia belum selesai berbicara! Aku apa? apanya yang aku?? Dia mau menyatakannya padaku? Dia menyukaiku?

“ah! Kau.. kau benar.. sebaiknya kita kembali ke kelas.. semuanya minta diberi penjelasan..” wajahnya merona merah.. manis sekali..

“oppa..” tanyaku sambil melirik kearah tangan kami. Dia menggenggamnya.. hangat..

“ne?”

“kau tadi mau bilang apa? Aku apa?”

“ah.. itu..” dia memalingkan wajahnya dariku.

“hum?” dia benar-benar manis. Sangat manis..

“aku.. aku akan kembali menjadi mahasiswa saja..” dia menutup wajahnya dengan tangan yang satunya, pasti panas sekali.

“mwo? Hihi.. tetaplah menjadi guru agar aku bisa melihatmu terus..”

“aku tidak bisa didekatmu dengan leluasa, saat aku menjadi guru” o—omona! Wajahku pasti sudah seperti kepiting rebus sekarang! bukankah ini.. pernyataan cinta? “ah iya..”

“ne? ada apa?”

“selamat, nilai tes bahasa inggrismu paling tinggi.. ini hadiahnya” dia memberikan secarik kertas berisi digit nomer padaku. Aku.. aku beruntung. ininomor handphonenya.

“ka—kamsa..”

“chukkae” dia mengecup keningku dan kami pun kembali ke kelas, menjelaskan yang sebenarnya.

Kurasa.. dibalik ketidak beruntunganku.. tuhan masih memikirkanku juga.. terima kasih..

-ccc-

EPILOG

“begitulah.. akhirnya dia menjadi mahasiswa biasa tanpa mengambil pekerjaan part-time menjadi guru les lagi.. semuanya untukku” sudah kedua kalinya aku bercerita kurasa. Kyaa! Ini membuatku malu! Akhirnya aku mempunyai namjachingu! Dan.. dia sangat manis.. Changmin oppa..

“kau sudah menceritakannya hampir lima kali, hari ini, kau tahu? Dan ini bahkan masih pagi! Minmi! Pagi!!” Ririn mengacak-acak rambutku yang sudah tertata rapi.

“ish!! Kau ini! Berbahagialah saat temanmu senang!”

“tapi kau ber-le-bi-han!” aku dan Ririn masih saja bertengkar, tapi saat aku melihat Rere sekilas.. dia.. kurasa dia masih memikirkan namja itu..

“Ririn-ah..”

“ye? Apa lagi kau ha? Mau cerita lagi? Maaf, aku sudah bosan!” Ririn menutup telinganya.

“bukan.. apa Rere masih memikirkan namja itu?” aku menarik Ririn untuk berbisik tanpa didengar oleh Rere.

“ng.. kurasa seperti itu.. apa kita bisa membuatnya melupakan namja itu? apa menurutmu, ada namja yang bisa menggantikannya?”

“aku juga tidak tahu.. tapi pasti suatu saat akan ada..” aku bertopang dagu menatap Rere yang masih melamun. Wajahnya tampak sangat sedih.

“anak-anak! Maaf ibu lama.. ibu kaget, saat kepala sekolah berkata akan ada murid baru dipertengahan semester ini.. padahal kalian sudah kelas tiga.. tapi ternyata, dia adalah anak didik ibu dulu.. silahkan masuk”

Seorang namja berambut hitam legam masuk mengenakan seragam sekolah kami. Murid baru. Kelas kami mendapat murid baru, dan itu jarang sekali terjadi.

“dia mengalami kecelakaan.. hampir setahun yang lalu.. jadi dia lebih tua setahun dari kalian.. tapi bersikaplah yang normal padanya, karena dia teman baru kalian! Ayo, perkenalkan namamu”

Aku melihat keseluruh ruangan, sepertinya para yeoja tertarik pada namja ini. Aku tidak, tentu saja. Ririn juga, dia malah asyik dengan handphonenya. Sedangkan Rere.. kurasa dia..

“perkenalkan, nama saya Kim Jongwoon.. senang berkenalan dengan kalian..” dan pada saat itu juga, aku bisa melihatnya.. wajah Rere.. yang berseri-seri.

the end ?

.

.

kyaa kyaa!

first time bikin FF dengan maincast selain para SuJu oppa.. >.<)

semoga tidak mengecewakan pembaca..

maaf kalo Changmin tidak sesuai sifatnya..

saya tidak tahu bagaimana Changmin seharusnya.. hiks.. T,T

maaf juga kalo kecepetan.. T^T

but thankyou !

😀 please do leave a comment..

and thankyou so much for reading.. 😀

hachidarksky

Advertisements

24 Comments

Leave a Comment
  1. _Verzeihen / Aug 2 2012 8:35 pm

    Aku suka XDD
    Suka suka suka >ww<
    Terlepas dari kapital dan typo, alurnya pas
    Dan oh my, bisa bayangkan wajah cinta yang sedang berseri2 dan pengen jga cubit cintaku X3
    Gomawo Ririn :3
    Izin disave dan reblog ya ^^
    Terharu :')
    *hug changmin* #eh

    • hachidarksky / Aug 2 2012 8:53 pm

      kyaakyaa (/>ww<

      makasih unni :3

      ayo kita cubit bareng XDD *siap capit kepiting* kkk XD

      iya unni sama2.. :3
      gomawo juga :33

      iya oke gpp! ^^/
      sy juga ikut terharu :'3 *hug kyu /lah

      • _Verzeihen / Aug 2 2012 9:38 pm

        Ehehe…duh bayangkan itu beneran aku sama changmin X3
        dan thanks jg udah masukkin Taeyang sama DongWook
        Minta sequel dong si Changmin salah paham sama unnie dan Taeyang
        #plak
        #banyakmau

      • hachidarksky / Aug 2 2012 10:26 pm

        it beneran unni dan changmin…. *bayangin sendiri*

        iya sama2~ :3
        hehehe.. :33

        wuaduh XD
        itu.. akan sy masukkan dalam daftar selanjutnya..
        ohohoho~ :pp

      • _Verzeihen / Aug 2 2012 10:47 pm

        Asyikkkkk XDD
        Unn tunggu
        Pokokny berikutnya harus lebih sweet dan HOT u.u
        Duh Changmin emang selalu mesum #eaa

        PS: Unn itu jago inggris, kenapa harus ada tambahan? u.u #jduar

      • hachidarksky / Aug 4 2012 8:46 pm

        Kuusahakan.. XDD
        Changmin perv? Ok *catetcatet* XDDDDD

        Soalny org korea kan masi bljr basing XDDD
        Jdi sbgai org korea, kita harus bljr basing.. (?) XD

      • _Verzeihen / Aug 4 2012 10:40 pm

        basing apa? O.o
        Iya changminku emang pervert #plak

      • hachidarksky / Aug 5 2012 3:36 pm

        basing = bahasa inggris XDDDD

        ok good..
        sama perv nya kayak kyu.. *catetcatetlagi* XD

  2. _Verzeihen / Aug 2 2012 8:36 pm

    Reblogged this on _Verzeihen.

  3. elfcloud3424 / Aug 3 2012 11:09 am

    MWOYAAAAAA!!!
    RERE LUGU, ANEH, BABO… LALU APA LAGIIIIII >w///<"

    CINTAA…. kita harus bertarung cubit (?) menyubit lagi wkwkwkw..
    pasti aku yang menang,, (^v^)-c<"

    harus ada romantisnya juga, ciuman, kissmark harus ada *gak mau kalah*
    kalau bisa harus MREVEEEEEEEEEET… SUPER MREVEEEEEEEEEEEEEEEETTT…
    Setelah itu, ku bombardir nih WP mu kyurin –"
    awas saja sampe gk MREVET…
    aku hancurkan Kyu *eh

    Fighting 😀
    cepetan ya buat selanjutnya hehehe 😀

    • hachidarksky / Aug 5 2012 3:38 pm

      gausah teriak2 un..
      seneng sifatnya lugu ya? booo xpp
      unni gak lugu sama sekaliii XDDD

      kalian ini cubit2an terus..
      changmin sm yesung gak diajak cubit2? XDD

      hmmm~
      kalo itu aku usahakan yah~ ;DD
      soalnya angstnya kan piyepiye kalo dkasi mrevet XDD XP

      okreh lagi otw~ :3 :3

      • elfcloud3424 / Aug 6 2012 8:51 am

        hahah..
        emosi tingkat tinggi -___________-”

        kalo sama yesung bukan cubit2an tapi yadong’an #plaaak

        hahah..
        harus bisa ^^9
        seorang author harus bisa buat mrevet walaupun angst #maksa wkwkwk…

        ayooooo unni tunggu punyaaaaaaaa uniii -___-

      • hachidarksky / Aug 8 2012 12:39 pm

        esmosian nih si unni.. XD

        wuaduh…….
        puasa un.. XD

        akan kuusahakan.. tapi susah.. lol

        tunggulah hingga yeye ke ina ya.. hohoho~

      • elfcloud3424 / Aug 8 2012 1:20 pm

        apa hubungannya yeye ke ina -_________-”
        bikin galau kalau dia kesini u,u

        pokoknya unni tunggu 😀

        Hwaiting ^^

      • hachidarksky / Aug 8 2012 3:47 pm

        okreh un.. :33

  4. devinardelia / Aug 3 2012 3:20 pm

    Aku baca pas istirahat dan baru bisa comment skarang pas abis pulang skolah. Hayah. Eon, ini. Sangat. Absurd. Kek. Yang. Bikin. Hahahahaaha.
    Comment panjangnya aku lanjutin entar. Comment di hp susah -_-

    • hachidarksky / Aug 4 2012 8:37 pm

      Hayoo..
      Bc slight nc di sekolahh /plak

      Terima kasih, sy emng absurd~ xD

      Oke dtunggu komen panjangnya kkkk XDDDD

  5. Indha Maya (@ndapaw_hero) / Aug 4 2012 10:36 am

    seneng bgt bisa pny pacar kyk changmin-oppa yg kliatan polos gtu…
    lucu bgt sm karakter Minmi disini wkwkwkwk….
    ceritanya bgus,lucu! 😀

    • hachidarksky / Aug 5 2012 3:45 pm

      first of all, thankyou for the comment!
      I really appreciate your comment :’) *bows*

      hahahah!
      changminsok polos.. XD

      oh omo? ceritanya bagus? >.<
      hehe ^w^v

  6. lovelyminbi / Aug 6 2012 10:17 pm

    huuuwoooo… kemarin waktu baca ada sesuatu gitu yang aku pingin katakan… kalo gak salah…
    ITU ADA PENGALAMAN PRIBADI YAK? wkwkwkwk..

    ceritanya terlalu simpel gak sih? atau hanya perasaanku aja /plak
    hahaha..

    • hachidarksky / Aug 7 2012 8:37 am

      Pengalaman pribadi yg mana? Ririn? LOOOOLL XDDD
      U know me so well lah /plak

      Ceritanya simple kok emng :33
      Gak heboh XD
      Tapi masi ad 2 cerita sambungan lagi ..
      Jadi Trilogy deh /apaini /lebay /plak XDD

      • lovelyminbi / Aug 7 2012 9:54 pm

        trilogy cak >< wkwkwk..
        eh btw kau belum comment ff baruku -,-

        ya iyalah ririn… mana aku tahu kan cerita yang lainnya.. wkwkwkwk… XDDD

      • hachidarksky / Aug 8 2012 12:37 pm

        yohoho~ trilogy~~ XDD

        sudah, barusan.. .__.)
        kkk

        nanti anda akan tahu..
        saat saya post /plak XD

  7. Enno KimLee / Aug 9 2012 10:09 pm

    Aish.. si Shim Min Mi a.k.a eL enak nya dpt Changminnie..
    Trus Rere juga bneran ktemu Yesung!
    tadinya aku kira Yesung itu penunggu pohon besar #plak
    ehh ternyata arwahnya lagi berkelana gara2 koma toh.

Leave some Advice :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: