Skip to content
February 3, 2014 / hachidarksky

A Sweet Gift [ Cho Kyuhyun and Park Ririn Fanfiction ]

author : hachidarksky

genre : oneshoot/shortstory, romance, fanfiction, G/M

language : Indonesian

main cast : Cho Kyuhyun, Park Ririn (hachidarksky.wordpress.com)

other cast : Jang Hanbyul

notes from author : Happy Birthday Cho Kyuhyun :3 . G and M end Available (sorry, M for personal use only :p)

 —

A Sweet Gift KyuRin

 —

Sudah 3 hari kami tidak saling berbicara. Sejak hari itu, hari terakhir di bulan Januari.

.

Jumat, 31 Januari

.

.

“Oppa! Dengarkan aku dulu!” aku meraih tangannya yang mengepal.

“sudahlah, tidak ada yang perlu dijelaskan, Rin”

“tapi ini bukan seperti yang kau kira!”

“hm, aku pergi dari sini. Selamat bersenang-senang” dia melepas tanganku perlahan, dan pergi meninggalkanku ditengah kerumunan orang yang memperhatikan kami.

.

Senin, 3 Februari

.

.

“Rin? Park Ririn sayang? Kau tidak kuliah nak?” umma mengetuk pintu kamarku dan mengintip masuk.

“tidak umma.. aku rasa aku sakit..” aku melingkar di dalam selimutku, menangis.

“kau sakit apa nak?” umma menghampiriku dan membuka selimutku. “matamu merah sekali.. dan badanmu panas..”

“ne umma.. aku akan istirahat dulu hari ini..”

“baiklah.. kalau begitu appa dan umma berangkat dulu ya.. jangan lupa makan sarapanmu dan minum obat” umma mengecup keningku.

“ne umma..” dan dia pergi.

Aku membuka selimutku dan melihat sebuah bungkusan berwarna biru di mejaku, menghela nafas panjang, dan kembali menutup diriku dengan selimut tebalku.

drrt drrt

Aku dengan cepat mengambil handponeku dan langsung melihat ke arah layarnya. Bukan. Bukan dia. Hanya Hanbyul..

.

“yeoboseyo..”

“yeoboseyo! Rin!”

“ne..?”

“bagaimana? Sudah kau berikan padanya?”

“belum”

“waeyo? Bukankah hari ini harusnya?”

“ne.. aku tidak tahu akan memberikannya apa tidak..”

“ya! Kau sudah mencarinya dengan susah payah sampai berkeliling Gangnam. Berikan padanya!”

“aku tidak yakin.. kau tahu kan.. waktu itu kami bertengkar..”

“belum baikan?”

“belum…”

“sudah tiga hari, dan belum baikan?”

“dia tidak mengangkat telponku, dan tidak membalas smsku.. chatku.. kakaotalk.. semua..” aku mulai mengisak.

“ya ya! Jangan menangis!”

“apa yang harus kulakukan?” aku menghapus airmataku yang sebenarnya masih mengalir. Aku berar-benar merindukannya.

“pergi kerumahnya, sekarang. berikan padanya”

“Byulie.. sekarang hari Senin.. memangnya dia tidak kuliah..”

“Bukankah kau bilang dia selalu dapat kuliah siang? Ini masih pagi, kau ke sana sekarang!”

“tapi..”

“tidak ada tapi-tapian! Aku tahu kau masih menangis, kau pasti merindukannya! Kau mau begini terus? Tidak, kan. Maka dari itu, cepat perbaiki”

“baiklah..”

“nah begitu, hwaiting!”

“ne, gomawoyo..”

“sudah sana mandi dan pakai baju yang kau beli itu!”

“ne, Hanbyulie.. aku akan siap-siap”

“ne! annyeong!”

“annyeong..”

.

Aku turun dari kasurku dan langsung masuk ke kamar mandi begitu Hanbyul menutup sambungan telpon kami. Mungkin dia ada benarnya. Aku harus memperbaiki kesalahpahaman ini.. Kurasa aku yang salah.. tapi aku.. sudahlah. Aku yang akan minta maaf padanya terlebih dahulu.

.

.

Aku langsung menuju rumahnya begitu menyelesaikan sarapanku. Semua perlengkapan sudah kubawa. Satu kotak tissue, cardiganku, dan bungkusan berwarna biru itu. Apa aku siap? Apa semua akan baik-baik saja? Apa yang terjadi bila semuanya malah memperburuk keadaan? Aku.. tidak siap.

.

Ting tong

.

.

Ting tong

“permisi” aku memencet bel rumahnya berkali-kali. Mobilnya tidak ada. Hanya mobil ummanya. Apa dia pergi?

“Ririn?” aku melihat ke arah suara itu datang, garasi, dan ummanya sedang berdiri disana.

“umma.. annyeong..” aku membungkuk padanya pelan.

“kebetulan sekali, umma harus pergi ke apotek, Kyu sakit”

“K—Kyuhyun? Dia sakit?” aku panik. Aku sangat panik.

“ne, dan obat demam sedang habis.. jadi umma harus ke apotek dulu”

“a—aku saja yang beli umma..”

“tidak, kau masuk saja, dan kalau dia sudah bangun, tolong suapi dia, dia belum makan sejak kemarin siang”

“ke—kemarin siang?”

“ne, sudah, ayo cepat masuk, ini kuncinya. Jangan lupa kunci rumah ya. Umma pergi dulu”

“ah, ne, tapi, umma!” umma pergi dengan supirnya.

Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Aku.. aku tidak siap bertemu dengannya. Pasti dia masih marah denganku. Dan sekarang aku dimintai oleh ummanya untuk menjaganya, dan menyuapinya makan? Aigo. Aku lebih baik mati saja sekarang.

“Kyu..?” aku membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan.

Tidak ada jawaban.

“aku masuk..” kamarnya gelap, hanya ada cahaya dari jendela, membuatnya menjadi sedikit remang-remang.

“Rin..?” aku terkesiap. Dia tahu aku ada disini? “waeyo..?” kurasa dia mengigau.. Kyu..

Aku akhirnya duduk di lantai, menghadap tepat di depan wajahnya yang sedang tertidur. Dia sangat manis..

“Kyu.. mianhae..” aku mengenggam tangannya erat. Badannya panas..

“mianhaeyo.. mianhae.. maafkan aku.. semua kesalahanku.. kumohon jangan marah padaku.. jangan mendiamiku seperti ini.. aku tidak bisa.. rasanya hampa.. aku tidak mempunyai semangat sama sekali.. kyu.. kumohon maafkan aku..” aku mulai menangis lagi. Rasanya dada ini sakit sekali. Tanganku pun bergetar hebat. Aku menangis sepelan mungkin, agar dia tidak terbangun.

“aku kesepian..” ucapku pelan. “Kyu.. kalau itu bukan dirimu, semua namja sama saja.. entah itu Hanbyul atau bukan.. semua sama saja bagiku.. aku tidak mungkin mengkhianatimu.. ini semua hanya salah paham.. kumohon maafkan aku..”  aku mengecup tangannya pelan.

“sayang.. saengil chukkae hamnida..” aku menunjukkan bungkusan biru itu padanya. Dan meletakkannya di meja tidurnya. Masih menangis.

Kurasa aku sudah tidak bisa lagi. Sejak tadi pagi badanku pun panas.. hal nekat ini.. aku pusing..

Bruk.

.

.

Cho Kyuhyun

.

.

Aku mendengarnya. Aku tahu dia datang. Tidak kusangka dia begitu sedih. Tentu saja. Itu harus. Tapi aku tidak tahan dengan suara tangisannya. Walau sepelan apapun. Aku tidak bisa. Suara isak tangisnya menyakitiku. Aku ingin memeluknya. Tapi aku masih ingin mendengarnya sampai akhir.

“sayang.. saengil chukkae hamnida..” ucapnya sangat pelan. Hari ini ulang tahunku?

Bruk.

“R—Rin?” aku membuka mataku. Dan dia sudah terkulai lemas di lantai kamarku. Di—dia pingsan?

“Rin!” aku turun dari kasurku dan memegang keningnya. Dia lebih panas dariku?! Lalu untuk apa dia kemari?! Apa yang dia pikirkan?! Ish. Yeoja ini..

Aku duduk lalu memeluknya dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Membuka cardigannya dan menyelimutinya dengan selimutku. Baiklah.. Dia benar-benar manis. Namun dahinya berkerut. Dan, airmatanya.. aku merasa bersalah padanya sekarang. aku tidak pernah melihatnya seperti ini.. Maafkan aku.

“mianhae Rin.. kau sampai seperti ini..” aku mengecup keningnya pelan dan menghapus airmatanya. Wajahnya tampak sedikit lebih lega.

Aku melihat bungkusan biru di mejaku. Apa itu? dia memberiku hadiah? Aku meraihnya dan melihat tulisan di kertas kecilnya.

“saengil chukkae hamnida! Saranghae! Mianhae.. I love you, always, forever <3.”

“Hm. Harusnya tidak ada kata mianhae ini..” aku akhirnya membuka bungkusan itu. Kotak kecil, dan baju.. couple shirt? Apa isi kotak ini? Aku membukanya perlahan.

“dia..” aku meraih tangannya dan melihat lingkaran perak di jari manisnya. “saranghae..” aku mengecup jari manisnya itu berkali-kali.

Sebuah cincin perak.. mirip dengan miliknya. Bertuliskan KyuRin di dalamnya.. sial. Dia begitu memperhatikan hal seperti ini.. jadi itu yang dia lakukan di toko itu.. membeli cincin ini… tapi kenapa harus bersama Hanbyul? Kyu, itu temannya sejak dulu. Dia sudah menjelaskannya dari awal. Kenapa kau harus cemburu. Dasar babo. Babo. Kenapa aku tidak mempercayainya.

Sekarang lihat apa yang kau perbuat padanya. Arkh. Kenapa aku bisa begitu bodoh seperti ini. Menyakiti yeojaku sendiri. Mianhae Rin.. maafkan aku yang tidak mempercayaimu..

“Rin-ah.. saranghae..” aku mengecup puncak kepalanya dan memeluknya lebih erat.

.

.

“Kyuhyu—“ aku menghentikkan umma yang hendak memanggil namaku.

“umma, Rin sedang tidur..”

“kau sudah tidak panas?”

“tidak terlalu.. dia lebih panas dariku..” umma menghampiriku yang masih memeluk Rin.

“aigo.. dia panas sekali..” seru umma pelan begitu menyentuh kening Ririn. “biarkan dia tidur di kasur.. umma juga membelikan bubur untukmu.. tapi.. mungkin kali ini untuk Rin saja..” umma menaruh mangkuk bubur di meja belajarku.

“ne umma..”

“baiklah, umma tinggal dulu.. rawat menantu umma dengan baik”

“u—umma..” dan umma pergi meninggalkan kami berdua kembali. “menantu katanya.. dia akan menjadi istri yang paling manis di dunia.. istriku..”

“kyu.. mianhae..” igau Ririn disela tidurnya. Aish.. yeoja ini masih merasa bersalah bahkan di mimpi?

“tidurlah yang nyenyak.. aku sudah memaafkanmu.. maafkan aku juga..” aku mengusap rambutnya perlahan, mencoba menenangkannya. Aku ingin dia tidur dengan tenang dalam pelukanku..

.

.

Park Ririn

.

.

“ngh.. Kyu.. KYU?!” aku terkejut. Dia tidur.. memeluku.. tertidur dengan memelukku.  Apa yang terjadi? Kenapa aku ada dalam pelukannya? kenapa kepalaku pusing sekali? Ah. Ah! Dia memakai cincin hadiahku.  apa dia memaafkanku?

“Rin..?”

“Kyu..” aku balas memeluknya. Walau hanya lengannya yang sedang memelukku saja yang bisa kupeluk, tapi aku senang.

“mianhae Rin..”

“ke—kenapa? Aku yang minta maaf..”

“kau.. jadi sakit begini karenaku..” dia makin memelukku. Suaranya sangat parau.

“aku yang salah.. mianhae..”

“hahah.. baiklah.. kita berdua ucapkan bersama saja biar adil” serunya sambil tertawa pelan. Aku jadi ingin tertawa karenanya.

“baik.. satu.. dua.. tiga..”

“saranghae” kami berdua terdiam.

“kukira kau akan berkata mianhae” ucap kami bersama lagi. Aku mengembangkan senyumanku.

“hihi.. saranghaeyo” aku mengecup pipinya.

“nado.. ” dia mencium bibirku.

“saengil chukkae hamnida..” bisikku padanya.

“saranghae, gomawo” ucapnya lagi dan memelukku kembali.

.

the G end—

(sorry, M for personal use only :p)
Advertisements

2 Comments

Leave a Comment
  1. EsaKodok / Jun 26 2014 8:36 pm

    aigooo…bneran jodoh mrk br 2….sakitpun.sma sama

    • hachidarksky / Jun 26 2014 10:05 pm

      XD jodoh gak lari kemana emang :3

      gomawo udah baca dan komen ya ^^

Leave some Advice :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: